Upacara Pangrupining Layon
May 1, 2008
Pukul 11 siang kemarin kami baru tiba di Jetis,Caturharjo, Sleman. Kami (saya, istri, Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan) dan Diro — pengemudi dari kantor — berangkat dari Tangerang pukul 22 malam tetapi kami mampir dulu ke UGD RS Siloam Karawaci karena Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan sudah tiga kali muntah, yaitu pulang sekolah, sore dan malam setelah saya tiba di rumah. Saya putuskan untuk memeriksakan Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan dulu. Dalam menghadapi berpulangnya Bapak saya tidak boleh panik dan menelantarkan yang masih hidup. Insya’ Allah penyelenggaraan jenazah almarhum Bapak sudah akan dilaksanakan oleh para tetangga dan keluarga yang dekat. Saya harus mendahulukan yang masih hidup dan tidak gelap mata buru-buru berangkat ke Sleman. Buru-buru adalah pekerjaan setan.
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus di atas:
1. Jangan panik menghadapi sesuatu. Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, kalau kita mampu tenang dan berpikir jernih, insya’ Allah akan lebih mudah mencari pemecahannya.
2. Buat skala prioritas dari langkah-langkah yang akan kita ambil. Letakkan prioritas paling penting dan paling mendesak di urutan pertama. Apabila berkaitan dengan yang sudah meninggal dan yang masih hidup, prioritaskan untuk mengurus yang masih hidup dulu.
-o-
Begitu tiba di Jetis, Timbul — teman main saya — yang menyambut pertama. Dia menyalami saya lalu memeluk saya sambil menangis, “Aku yo kaget Mbor wong mung tak tinggal mulis adus sedhela kok nampa kabar nek Bapak seda.” “Yoh wis, rapapa, Mbul, diikhlaske wae.”
Yang datang kedua adalah Mas Arif. Dia memeluk saya sambil menangis. “Walah… Apa nggak kebalik ini?” pikir saya dalam hati. “Wis Mas, rapopo. Wis, aku wis ikhlas ket wingi.”
Menyambut berikutnya adalah Bu Lik Sumar. Beliau adalah adik bapak saya satu ibu. Bu Lik Sumar juga memeluk saya sambil menangis. “Wis Bu Lik. Wis, aku wis ikhlas. Bapak diikhlaske wae.” Setelah itu Mbak Tri, istri Mas Arif lalu Nana, adik saya. Saya juga bilang kepada mereka bahwa saya sudah ikhlas dan supaya mereka juga mengikhlaskan. Saya tahu mereka semua sebenarnya bermaksud ingin memberitahu supaya saya tidak usah terlalu bersedih karena saya yang berada paling jauh. Mas dan adik saya tinggal di kampung. Hanya saya yang merantau.
Terakhir adalah ibu saya. Ibu juga menangis waktu memeluk saya tetapi sambil berkata supaya saya mengikhlaskan. Saya jawab kalau saya sudah ikhlas. Read more





