Free Blogger Template


Saya tidak dalam posisi akan menyelesaikan semua masalah kekerasan dalam dunia pendidikan

Beberapa hari terakhir ini Petisi Pembubaran IPDN menuai kritik redaksional yang diajukan oleh Bu Maya. Menurut beliau, petisi itu tidak empatik. Tidak menunjukkan Oprah way. Ada juga yang disebut sebagai poin-poinnya tumpang tindih.

Saya tidak sedang dalam posisi untuk memperdebatkan redaksional petisi tersebut. Akan tetapi, sebagai pendukung petisi, perkenankanlah di sini saya membantu memberikan pandangan pribadi mengenai maksud petisi tersebut.

Tuntutan utama petisi

Tuntutan utama petisi itu adalah PEMBUBARAN IPDN. Tuntutan utama itu diletakkan pada nomor satu dari ketiga butir tuntutan dalam petisi tersebut.

Tuntutan tambahan

Selain tuntutan utama mengenai Pembubaran IPDN, petisi tersebut memandang bahwa ada pekerjaan rumah yang lain yang harus dilakukan setelah IPDN dibubarkan. Oleh karena itu, diajukanlah tuntutan untuk dilakukan pengusutan tuntas atas segala penyimpangan yang pernah terjadi di IPDN. Kemudian, ada penyelesaian terhadap praja-praja yang masih tersisa di IPDN saat ini. Tuntutan itu dituangkan pada butir kedua, ketiga dan keempat tuntutan.

Apakah tuntutan tumpang tindih?

Menurut saya. Tuntutan tersebut tidak tumpang tindih. Pernyataan mengenai apakah yang akan dituntut kalau IPDN-nya sudah dibubarkan merupakan sebuah pernyataan naif yang (mohon maaf) saya sebenarnya kurang tertarik untuk menanggapi. Akan tetapi, karena situasinya mendesak saya untuk memberikan tanggapan, maka saya akan menanggapi.

Dibubarkannya sebuah institusi tidak dengan serta-merta terus mengakibatkan dilupakannya segala macam penyimpangan yang terjadi di dalamnya. Sebagai contoh, BPPN bisa saja telah dibubarkan. Akan tetapi, apabila ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada saat BPPN itu masih eksis, maka pejabat-pejabat BPPN pada saat aktif itu bisa diseret ke pengadilan. Sejalan dengan hal itu, dibubarkannya IPDN tidak serta merta membuat segala macam penyimpangan yang terjadi di dalamnya tidak bisa diusut lagi. Hanya diperlukan kemauan politik dari pemerintah untuk melakukan itu.

Dengan demikian, tuntutan kedua dari petisi itu tidak tumpang tindih dengan tuntutan pertama. Pernyataan ketiga, dari redaksionalnya sudah sangat kelihatan sangat tidak tumpang tindih dengan butir tuntutan pertama. Tuntutan ketiga memberikan usulan penyelesaian terhadap praja-praja IPDN yang saat ini masih berada di dalam IPDN, setelah IPDN dibubarkan.

Tuntutan keempat pun saya kira tidak memiliki ketumpangtindihan dengan tuntutan-tuntutan di atasnya. Petisi tersebut dimulai dengan yang spesifik dan diakhiri dengan tuntutan yang umum/general.

Apakah yang ingin diselesaikan?

Petisi ini tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan melainkan untuk menghentikan penyimpangan-penyimpangan (terutama kekerasan) yang terjadi di lingkungan IPDN.

Apakah pembubaran itu merupakan solusi tepat?

Kalau berbicara mengenai solusi, kita juga akan berbicara mengenai pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan terhadap suatu permasalahan, kita akan mendaftar alternatif-alternatif yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, atau dengan kata lain memilih alternatif solusi terhadap permasalahan tersebut. Pada tulisan lain di kombor.com saya pernah mengajukan usulan-usulan solusi penyelesaian masalah IPDN. Berikut di bawah ini akan saya kutip untuk blog ini:

Perubahan Fundamental Versi Kang Kombor (Diurutkan dari yang paling fundamental):

  1. Bubarkan IPDN dan serahkan kepada Fisipol di PTN/PTS untuk mencetak calon-calon pejabat yang berkualitas.
  2. Bubarkan IPDN yang terpusat dan kembalikan ke masing-masing daerah penyelenggaraan pendidikannya seperti era APDN dulu. Pada masa APDN kita tidak pernah mendengar ada mahasiswa yang tewas dibantai seniornya.
  3. Ganti semua pengajar dan karyawan di IPDN sekarang dengan pengajar dan karyawan yang sama sekali baru. Mengganti sistem dan kurikulum tanpa mengganti mereka sama saja menggarami air laut. Diduga perilaku dan pikiran-pikiran nyleneh bersemayam di diri dan otak para pengajar dan karyawan IPDN karena sampai saat ini pembunuhan di IPDN tidak bisa dihentikan.
  4. Hentikan penerimaan mahasiswa baru sampai seluruh mahasiswa yang saat ini lulus semua untuk menghentikan tradisi buruk yang pasti akan selalu turun-temurun. Tanpa adanya pemotongan generasi ini, seluruh usaha yang dilakukan akan sia-sia.
  5. Ganti kurikulum secara total.
    • Stop materi pembekalan militer selama 3 - 6 bulan yang diberikan kepada praja IPDN yang baru masuk. Pembekalan militer inilah yang bisa menyebabkan para Praja itu menjadi sok militer.
    • Stop pembelajaran kedisiplinan sok militer melalui acara dhupak bujang/kuli. IPDN bukan untuk mencetak mandor pabrik melainkan calon pejabat yang harus mampu mengatur, melayani dan mengayomi masyarakat. Ajarkan kedisiplinan melalui cara yang lebih bermartabat.
    • Ganti penyebutan Praja menjadi Mahasiswa tanpa dibeda-bedakan menurut tingkatnya seperti sekarang ini. Lagipula, praja itu aslinya menunjukkan kewilayahan bukan sosok manusia. Mereka itu kalau lulus akan jadi Pamong Praja (bukan jadi praja itu sendiri), mereka yang seharusnya menjadi obyek operasi Polisi Pamong Praja yang harus diganti nama itu.

Kembali, dalam pengambilan keputusan atau pencarian solusi atas permasalahan yang kita alami, kita harus mengambil alternatif-alternatif pemecahan solusi. Nah, terhadap permasalahan kekerasan di IPDN yang tidak kunjung selesai tersebut, saya telah mendaftar alternatif-alternatif solusi tersebut. Ketika pada akhirnya saya setuju dengan tuntutan pembubaran IPDN adalah karena:

  • Pembubaran IPDN merupakan prioritas utama yang saya ajukan sebagai solusi
  • GTM yang dilakukan oleh seluruh civitas akademika IPDN membuat saya memandang mereka sebagai manusia-manusia yang tidak ingin mengedepankan kebenaran, tidak mau membantu mengungkapkan kebenaran dan secara sadar telah bersama-sama ikut menutupi kejahatan. Kita harus mengenai sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa apabila kita melihat suatu tindak kejahatan tetapi kita tidak mau mengungkapkannya, maka kita sudah membantu melakukan tindak kejahatan tersebut. Dus, seluruh civitas akademika yang katanya merupakan bibit-bibit unggul itu telah secara sadar ikut melakukan kejahatan.
  • Fakta bahwa 10 orang narapidana pembunuh Wahyu Hidayat ternyata masih diberi kesempatan oleh Departemen Dalam negeri untuk menghirup udara bebas, tidak dipecat dari PNS dan malah diberi pekerjaan dengan dititipkan di pemda-pemda di Jawa Barat merupakan bukti bahwa tidak seorang pun di dalam pemerintahan ini sungguh-sungguh ingin menyelesaiakan permasalahan kekerasan di IPDN. Silakan Anda renungkan, pantaskah seorang narapidana masih menyandang predikat PNS. Di mana-mana, PNS itu harus bersih dari tindak kriminal. Kalau terlibat kasus perdata, mungkin masih bisa. Akan tetapi, terbukti secara hukum ikut melakukan tindak kriminal tidak ada pantas-pantasnya lagi diberi predikat PNS. Dalam hal ini saya memandang Departemen Dalam Negeri telah melakukan pengkhianatan kepada rakyat. Pimpinan Departemen Dalam Negeri, terutama yang mengurusi IPDN ini seharusnya juga diturunkan dari jabatannya dan dituntut karena menyetujui narapidana untuk tetap menyandang predikat sebagai PNS.
  • Kita bukannya tidak pernah memberi kesempatan kepada IPDN untuk memperbaiki diri. Pasca terbunuhnya Wahyu Hidayat, tuntutan pembubaran STPDN sudah mengemuka. Akan tetapi, pada saat itu pemerintah telah memilih untuk mengganti STPDN menjadi IPDN. Mengganti Kepala STPDN menjadi Rektor IPDN. Asal Anda tahu, Rektor IPDN itu diberi tugas untuk mengubah sistem STPDN secara fundamental, bukan malah mempertahankan tradisi kekerasan yang ada di dalamnya. Kita semua sama-sama tahu bahwa IPDN dan Rektor IPDN telah gagal menggunakan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. Saya tidak mau disebut sebagai bangsa pelupa. Oleh karena itu, fakta bahwa kita telah memberi kesempatan kepada IPDN dan IPDN tidak mau menggunakan kesempatan itu dengan baik tidak akan pernah saya lupakan. Keledai saja tidak pernah tersandung batu yang sama dua kali. Kalau pemerintahan ini tidak memandang kesempatan yang pernah dilakukan sebelumnya, saya katakan bahwa pemerintahan ini lebih buruk daripada keledai. Pemerintahan yang tidak dapat menyelesaikan apa-apa: lumpur lapindo, flu burung, demam berdarah, kelangkaan BBM, keterbatasan energi listrik.

Di antara alternatif-alternatif solusi untuk IPDN, pembubaran IPDN merupakan solusi yang lebih dekat pada “solusi tepat” daripada “solusi tidak tepat”.

Tags:

Alumni SMA TN di IPDN Please Jangan Ikut GTM

Pesan moral buat adik-adikku alumni SMA Taruna Nusantara yang menjadi alumni STPDN atau IPDN dan yang saat ini masih di sana (saya tahu ada yang masih aktif jadi praja IPDN), tolong jangan ikut Gerakan Tutup Mulut. Jangan jadi orang yang memiliki iman paling lemah. Jadilah orang yang memiliki iman paling kuat.

Ingatkah akan pesan agama di bawah ini?

Dalam menghadapi kemunkaran atau kemaksiyatan, ada tiga hal yang bisa dilakukan:

  1. Mencegahnya dengan perbuatan
  2. Mencegahnya dengan ucapan
  3. Mengingkari (tidak menyetujui) dalam hati akan perbuatan munkar atau maksiyat itu

Yang ketiga dari pilihan-pilihan itu adalah selemah-lemahnya iman.

Kesetiaan kalian kepada korps STPDN-IPDN merupakan sesuatu yang pantas kami banggakan. Akan tetapi, kesetiaan kalian kepada korps telah mengkhianati kesetiaan kalian sebagai anak bangsa. Kalian memang bagian dari korps STPDN-IPDN. Namun di luar itu, kalian merupakan bagian sangat kecil dari bangsa ini.

Jangan sampai thesis saya menjadi benar bahwa pemusatan pendidikan pamong praja di STPDN-IPDN hanya akan menciptakan pamong-pamong praja yang akan menciptakan sebuah eksklusivisme negatif di kalangan pemerintahan di Indonesia. Jajaran Pemda di seluruh Indonesia yang dikontaminasi oleh alumni STPDN-IPDN yang sudah didoktrin sedemikian rupa sehingga mereka selalu satu suara dalam menyikapi isu apa pun. Saya juga punya thesis bahwa alumni STPDN-IPDN akan saling melindungi dalam perbuatan korupsi. Bukannya lulus dari STPDN-IPDN menjadi agen-agen perubahan (agents of change) melainkan menjadi agen-agen korupsi baru. Toh saya belum pernah mendengar ada alumni STPDN-IPDN yang membongkar korupsi di jajarannya masing-masing.

Saya termasuk yang setuju agar IPDN dibubarkan. Kalau IPDN tetap dipertahankan, mungkin kontrak sosial yang bernama negara ini perlu ditinjau ulang. Buat apa memiliki sebuah negara yang konon katanya sebuah negara besar tetapi pemimpinnya tidak mau membuang sampah busuk. Yang busuk di IPDN itu bukan manusianya dan sistemnya saja tetapi semuanya busuk. Oleh karena itu, IPDN harus dibubarkan.

Adik-adik, ingatlah Triprasetya Siswa dan Janji Alumni. Kalian mungkin punya janji apa pun yang diucapkan di IPDN. Namun, janji kalian lewat Triprasetya Siswa dan Janji Alumni SMATN telah kalian ucapkan lebih dulu. Kalian harus tepati janji itu.

Bicaralah sebagai orang yang bertanggung jawab. Jangan ikut menutupi sampah yang kalian ciptakan. Kalau kalian tetap ikut GTM, kalian tak ubahnya dengan sampah itu sendiri.

Tags:

PETISI ANAK BANGSA (TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

To: Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

PETISI ANAK BANGSA

(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

1. Bubarkan IPDN.

2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi.

3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing.

4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!

Sincerely,

The Undersigned

Klik http://www.petitiononline.com/pab2007/petition.html untuk ikut menandatangani.

Baca beritanya di Detik mengenai petisi ini.

Tags:

Free Blogger Template

Moh Arif Widarto adalah bloger yang mengalami krisis identitas karena tidak mau memilih satu dari dua platform blog yang paling populer. Oleh karenanya, dia mengelola blog ini untuk pengguna WordPress yang fanatik dan mendambakan kemudahan komentar dan WWW.Widarto.Net untuk bloger yang masih cinta Blogger dan menganggap commenting system di Blogger nggak masalah. Berkunjung ke sini atau ke sana sama saja isinya.