Harga BBM Dinaikkan 3 Kali Hanya Dalam 3 Tahun

January 20, 2009

Dalam sejarah Indonesia pasca Orde Lama, mungkin baru terjadi sekali-kali ini saja, pemerintah menaikkan harga BBM tiga kali hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Bahkan, dua kali penaikan harga BBM pun memecahkan rekor karena dilakukan hanya dalam waktu satu tahun.

Pemerintah yang terbentuk sebagai hasil pemilihan presiden tahun 2004 dan berkuasa pada periode 2004 – 2009 tanpa tedeng aling-aling langsung menaikkan harga BBM pada tahun 2005. Tidak tanggung-tanggung, pada 2005 itu harga BBM dinaikkan dua kali.

Penaikan harga BBM pertama dilakukan pada 1 Maret 2005. Harga Premium yang sebelumnya Rp1810 per liter dinaikkan menjadi Rp2400 per liter. Sebuah kenaikan yang prosentasenya cukup signifikan. Harga minyak tanah pada saat itu naik menjadi Rp2200 per liter.

Akan tetapi, rakyat kembali menderita karena pada 1 Oktober 2005, pemerintah kembali menaikkan harga BBM. Kali ini harga Premium naik tidak tanggung-tanggung, 87,5 persen. Harga semula (yang sudah naik) Rp2400 per liter menjadi Rp4500 per liter.

Gelombang penolakan kenaikan harga terjadi di mana-mana. Kenaikan harga BBM dengan prosentase hampir 100 % itu membuat daya beli rakyat turun drastis. Rakyat yang miskin menjadi semakin miskin. Yang tadinya di atas garis kemiskinan menjadi bagian yang kena garis absurd itu. Garis yang kriterianya diubah suka-suka sesuai kepentingan politiknya. Pemerintah menghadapi masalah kemiskinan tersebut dengan program BLT. Sebuah program yang memperlakukan rakyat miskin (maaf) seperti pengemis.

Tidak cukup hanya dua kali, akhirnya, pada 24 Mei 2008 pemerintah kembali menaikkan harga BBM. Harga Premium kali ini menjadi Rp6000 per liter dari sebelumnya Rp4500 per liter. Rakyat menjerit. Pemerintah jalan terus. Demo ricuh terjadi yang akhirnya saat ini menyeret Rizal Ramli sebagai tersangka penggerak aksi demo.

Saat harga minyak dunia turun dan negara-negara tetangga sudah menurunkan harga BBM-nya, pemerintah kita masih belum proaktif menurunkan harga. Para pengamat perminyakan, pengamat ekonomi dan sebagian rakyat mulai mengkritik.

Akhirnya, pemerintah menurunkan harga BBM juga. Pada 1 Desember 2008 harga BBM diturunkan. Harga Premium diturunkan hanya Rp500 per liter dari Rp6000 per liter menjadi Rp5500 per liter. Para pengamat perminyakan tidak puas. Menurut mereka, harga Premium dapat diturunkan hingga ke harga sebelumnya, yaitu Rp4500 per liter saat itu juga.

Para pengamat politik menduga-duga bahwa harga BBM akan dipergunakan untuk kepentingan politik. Dugaan yang tidak terlalu salah karena 15 Desember 2008, harga BBM kembali diturunkan. Kali ini harga Premium turun lagi Rp500 per liter dari Rp5500 per liter menjadi Rp5000 per liter.

Pada penurunan pertama, saya pribadi berkomentar bahwa pemerintah akan menahan penurunan harga hingga Januari 2009 karena hal tersebut akan sangat berpengaruh dalam mempengaruhi ingatan rakyat. Rakyat Indonesia memiliki ingatan yang pendek. Hanya hal terakhirlah yang dapat diingat oleh Rakyat.

Ternyata, 15 Januari 2009 pemerintah kembali menurunkan harga BBM. Kali ini harga Premium kembali menjadi Rp4500 per liter. Kembali ke tingkat harga setelah kenaikan yang kedua kali tetapi tidak mampu untuk kembali ke harga Rp1810 per liter.

Dan terbuktilah kini ingatan pendek rakyat Indonesia. Rakyat hanya ingat bahwa pemerintah 3 kali menurunkan harga BBM. Rakyat lupa bahwa pemerintah juga 3 kali menaikkan harga BBM. Apalagi didukung dengan propaganda masih melalui radio dan televisi bahwa pertama kali dalam sejarah pemerintah menurunkan harga BBM 3 kali dalam waktu 45 hari. Padahal, penurunan harga itu bukan prestasi melainkan sebuah keharusan karena harga minyak dunia yang kembali turun. Negara-negara lain pun sudah lebih dulu menurunkan harga BBM-nya.

Saya mencoba membantu memperpanjang ingatan rakyat. Bukan hanya 3 kali menurunkan harga, pemerintah juga 3 kali menaikkan harga.

Viewed 12381 times by 1909 viewers

Idul Fitri dan Kemandirian Bangsa

September 30, 2008

Setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, insya’ Allah pada 1 Syawal 1429H yang jatuh pada 1 Oktober 2008, umat Islam di Indonesia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan. Saya ucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Di Indonesia, Idul Fitri merupakan hajat nasional yang sangat besar karena Idul Fitri dirayakan oleh sekitar 80 persen penduduk Indonesia. Pada momentum Idul Fitri ini terjadi transaksi finansial, barang dan jasa yang sangat besar. Transaksi finansial berwujud transaksi pengiriman uang baik dari luar negeri ke dalam negeri maupun antar daerah, dari kota ke desa. Transaksi barang berupa belanja sandang dan pangan. Bayangkan 80 persen penduduk Indonesia berbelanja sandang dalam waktu yang bersamaan. Saya kira, apabila ditunjukkan statistiknya, belanja sandang menjelang Idul Fitri merupakan belanja sandang terbesar yang terjadi di Indonesia. Selain sandang, transaksi pangan juga mengalami peningkatan. Pada saat seperti ini lonjakan permintaan terjadi sedangkan pasokannya saya tidak yakin bertambah karena setiap lebaran harga sembako selalu naik. Di luar sandang dan pangan, konsumsi bahan bakar juga meningkat karena terjadinya pergerakan manusia yang sangat besar antarwilayah. Untuk jasa, kita dapat menempatkannya pada jasa transportasi dan pengiriman barang.

Sungguh sebuah hajatan nasional yang sangat besar yang harus didukung oleh ketahanan nasional, terutama ketahanan di bidang pangan dan energi.

Hajatan nasional Idul Fitri membutuhkan pasokan pangan dan energi yang sangat besar. Pada masa ini, permintaan bahan makanan pasti melonjak. Permintaan daging (sapi, ayam, kambing) meningkat. Permintaan telur ayam meningkat. Permintaan beras meningkat. Permintaan terigu meningkat. Sampai saat ini, semua kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi. Akan tetapi, kita tidak tahu pada tahun-tahun mendatang karena kita belum swasembada daging sapi. Kita tidak lagi berswasembada beras. Apalagi terigu, kita sangat bergantung pada impor karena gandum bukanlah tanaman tropis.

Di bidang energi kita juga patut bersyukur karena pada hajatan Idul Fitri tahun ini pasokan energi kita cukup. Akan tetapi, Idul Fitri tahun depan, tidak ada yang mampu menjamin. Saat ini, kita sedang berada di ambang krisis energi. Kita sudah menjadi net importer minyak. Tidak jarang kita lihat masyarakat harus antri BBM. Di sisi lain, pemadaman bergilir listrik sering kita alami. Bahkan, saat ini banyak pabrik yang terpaksa harus menggilir hari liburnya karena tidak mencukupinya pasokan listrik untuk industri.

Saya yakin kita semua tidak ingin negara ini memiliki ketergantungan pangan dan energi kepada pihak luar. Bangsa kita akan semakin lemah apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dan energinya secara swasembada. Oleh karena itu, pada kesempatan Idul Fitri ini saya mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk bangkit dan mewujudkan kemandirian bangsa untuk mengurangi ketergantungan kepada pihak luar. Sasaran terdekat kita yang ada di depan mata adalah swasembada pangan dan swasembada energi demi kejayaan Indonesia Raya.

Viewed 908 times by 380 viewers