April 2, 2008 – 5:58 am | by Arif | Dilihat 34 kali |

|
3 Tanggapan | Kategori »
Sajak
Pada tahun 1994 yang lalu — setahun setelah lulus SMA — saya menulis sebuah sajak yang berjudul "Beri Kami Kebebasan". Saat itu, saya sudah kecewa pada keadaan negeri ini. Kekecewaan yang sampai kini belum juga terobati.
Empat hari ini, dimulai dari 30 Maret 2008 sampai 2 April 2008 saya membagi kegelisahan saya pada tahun 1994 - 1998 itu dengan Sampeyan semua. Ada Irian Akhir Tahun 1997, Tak Mungkin Di Negeri Ini, Kepada Pak Tua dan akhirnya yang saya bagikan hari ini, Beri Kami Kebebasan.
Saya tidak memanipulasi tanggal-tanggal di bawah setiap sajak itu. Setiap tanggal menandai waktu pada saat sajak itu saya tulis. Saya pun sudah mempublikasikannya melalui Geocities walaupun tidak ada yang mengendus keberadaan sajak-sajak itu. Saya mengakui memang sajak-sajak itu tidak seindah atau sebagus karya para penyair tulen. Saya bukan penyair, apalagi sastrawan. Kalau dulu saya menulis sajak, itu hanya untuk menandai suasana. Suasana batin saya atau suasana pikiran saya.
Kini saya bagi sedikit sajak-sajak itu kepada Sampeyan. Bukan untuk diapresiasi. Bukan untuk menandingi Pak Sawali, Pak Ersis, Ci Aha atau bloger yang lain yang memiliki kepiawaian dalam mengolah kata guna menerjemahkan pikir dan rasa menjadi produk-produk sastra yang mengagumkan. Saya hanya berbagi gelisah saja. Gelisah yang sampai kini masih saja menghantui.
Baca selengkapnya… »
Tags: Sajak
|
3 Tanggapan | Kategori »
Sajak