Free Blogger Template


Banyak yang tertipu artis telanjang

Tulisan tipuan saya yang berjudul Artis Telanjang nampaknya sukses menjerat para pencari hal tersebut dari mesin pencari. Saat ini sudah 500an kali Artis Telanjang dibuka orang kesasar.

Saya tidak menipu Sampeyan yang mengunjungi blog ini secara langsung atau mendapat rujukan dari blog lain. Artis telanjang itu saya sembunyikan jauh di dalam dengan dibuatkan tanggal pada masa lalu sehingga pada saat dipublikasikan tidak muncul di halaman utama. Namun, kalau Sampeyan gemar mengetikkan “artis telanjang” di form pencarian mesin pencari, insya’ Allah Sampeyan akan kesasar ke tulisan tipuan itu.

Pasti mereka yang tertipu merasa kesal dan untuk menumpahkan kekesalan mereka memencet iklan yang memiliki judul-judul senada. Saya yakin mereka bakal ketipu lagi karena para pemasang iklan menggunakan AdWords juga suka menipu. Mereka membuat iklan bertuliskan cewek bugil dll tetapi landing page-nya bukan seperti yang diharapkan.

Ketipu kok dua kali!

Mbok ya sudah jangan pada mengetikkan kata kunci seperti itu daripada ketipu lagi-ketipu lagi.

Eh, Sampeyan termasuk yang pernah ketipu atau bukan?

Sugeng Rawuh Sultan Ndoyokarto

Kalau para jelatawan di Jelatakarta dalah negeri Kasultanan Ndoyokarto alias para eblis dan ebliswati CahAndong pada bersedih melepas kepergian Sultan ke Jancukarta maka saya yang sudah ngluru menir alias mencari butiran beras di Jancukarta justru sangat gembira dan siap menyambut Sultan. Jancukarta yang dibeci Sultan — sehingga olehkarenanya saya juga membencinya dan saya wujudkan kebencian itu dengan tinggal di Provinsi Banten — memang kejam tetapi Saya yakin dengan gaji limang gelo sepasar Sultan akan dapat bertahan dari keganasan seleksi alam di belantara beton dan hedonisme jancukarta.

Saya akan siap sedia menemani Sultan ke petilasan Banten Lama (asal jangan ke makam Maulana Yusuf) karena banyak jelata beneran yang selalu mengekor peziarah dengan telapak tangan menengadah.

Sugeng rawuh, Sultan!

( Sultan dapat ditemui di sini )

Di bawah ini daftar mereka yang telah menulis mengenai kepergian Sultan ke Jakarta:
1. Antobilang
2. Fany
3. Sir Mbilung
4. Siwi
5. Memeth
6. Ekowanz
7. Tikabanget
8. Tikabanget 3D
9. Momon 3D
10. PeTeer


Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Tags:

Antri

Antri. Kata itu tidak perlu saya terangkan maknanya karena saya yakin sebagian paling banyak dari penutur Bahasa Indonesia sudah mengetahui artinya. Namun, untuk yang belum tahu artinya, silakan buka KBBI supaya lebih mantab-bek pemahamannya tentang arti kata antri.

Saya mengangkat kata ini justru karena sebagian terbesar dari kita sudah sangat paham artinya. Saking pahamnya kita menyepelekan kata itu dan pada akhirnya hasil yang kita capai adalah kita tidak bisa antri. Tidak percaya? Lihatlah di depan loket penjualan karcis bus antarkota atau kereta api. Orang-orang bergerombol di depan loket dengan berdesak-desakan seperti anjing berebut keluar dari kandang. Lihat pula di terminal atau halte bus, Sampeyan akan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga Sampeyan bisa mencapai tahap ainul yaqin mengenai pernyataan saya bahwa sebagian terbesar dari kita tidak bisa antri.

Budaya Antri Adalah Cermin Masyarakat Beradab

Masyarakat beradab di muka bumi ini merupakan masyarakat yang saling memahami dan saling menghormati sesama. Kelihatannya sepele, namun kalau kita mau memperhatikan dengan seksama, dalam aktivitas mengantri kita melihat setiap orang saling memahami dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Orang yang datang belakangan memahami bahwa orang yang hadir lebih dahulu berhak untuk berada di depan dan dengan sadar menghormati hak tersebut. Ada kesalehan yang maujud di sana. Kesalehan yang benar-benar melembaga dalam diri manusia sehingga maujud pula dalam kesehariannya.

Mengenai kesalehan ini, ada seorang mubaligh yang pernah menyampaikan bahwa orang-orang Jepang itu walaupun tidak beragama Islam tetapi sangat saleh. Lebih saleh dari orang Indonesia. Dalam bermasyarakat orang Jepang sangat teratur. Mereka saling menghormati dan saling menghargai. Lihat saja kedisiplinan mereka dalam menata sandal, sepatu dan bakiak di depan pintu. Lihat saja betapa tertibnya mereka dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Lihat saja keindahan yang mereka tunjukkan dalam mengantri. Alangkah salehnya mereka orang-orang Jepang itu.

Kadar kesalehan tidak ditunjukkan oleh kekhusyukan dalam ibadah langsung dengan Tuhan (hablun minallah) semata melainkan juga dalam bermasyarakat (hablun minannas). Hubungan langsung dengan Tuhan adalah urusan pribadi masing-masing dan hanya Tuhan yang berhak memberikan penilaian. Akan tetapi, dalam kerangka hidup bermasyarakat, orang lain dapat memberikan penilaian mengenai kesalehan seseorang. Orang yang sangat saleh semestinya berperilaku saleh, bukan sebaliknya. Nah, dalam hal ini saya berpendapat bahwa ulama-ulama telah gagal dalam mengajarkan umat untuk menjadi saleh. Mereka hanya mengajarkan teori-teori agama tetapi lupa memberi contoh nyata sehingga umat yang diajarinya pun pasti akan sangat fasih mengutip dalil-dalil agama tetapi bodoh dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.


Baca selengkapnya… »

Tags: ,

Kalau Mau Kaya Jangan Jujur (2)

Praktek kongkalikong antara pengusaha, eksekutif dan legislatif masih tetap dilakukan walaupun pemerintah telah memiliki Keppres No. 80 yang sangat terkenal itu. Memang keppres itu telah mengatur agar pengadaan barang dan jasa lembaga pemerintahan dan BUMN transparan. Akan tetapi, prakteknya, transparansi hanya dilakukan sebatas untuk memberikan kesempatan yang sama kepada para pengusaha, yaitu melalui pengumuman tender yang harus diiklankan melalui media massa nasional. Jauh sebelum pengumuman lelang disatukan di Media Indonesia, banyak iklan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dikamuflasekan sedemikian rupa sehingga tidak nampak seperti iklan lelang melainkan kelihatan sebagai iklan lowongan kerja atau iklan kematian. Atau, surat kabar yang terbit hari itu langsung diborong agar pesaing tidak tahu pengumumannya. Ketika iklan lelang disatukan di Media Indonesia pun masih ada yang mencoba berbuat curang dengan memasang iklan pada hari Sabtu atau Minggu
di mana kebanyakan orang sedang libur dan iklan lelang itu tidak ditayangkan pada versi online-nya. Entahlah tikus mana di Media Indonesia yang juga mau diajak kerjasama seperti itu, segera menurunkan iklan dari versi onlinenya. Saya mendapat cerita seperti ini dari teman-teman yang pernah mendapati adanya iklan lelang di Media Indonesia yang terbit pada hari Sabtu tetapi di versi onlinenya nggak ada. Kalau Media Indonesia kemungkinan masih bisa diajak main mata juga, buat apa iklan lelang pengadaan barang/jasa pemerintah dan bumn disatukan di sana?

Maaf, saya tidak menuduh Media Indonesia seperti Ramos Horta menuduh Desi Anwar terlibat dalam usaha pembunuhan presiden Timor Leste itu. Saya hanya menyampaikan sedikit cerita saja.

Jauh sebelum pengumuman, pengusaha dan pengguna dari kalangan pemerintah sudah berhubungan. Pengusaha membantu pengguna (dalam hal ini lembaga pemerintah) dalam mengidentifikasi kebutuhannya. Soal mengidentifikasi kebutuhan ini bisa terjadi di mana-mana. Kadang-kadang sebuah perusahaan memerlukan konsultan untuk merumuskan kebutuhan belanjanya. Ada konsultan rancang bangun untuk membantu membuat rancang bagun gedung. Ada konsultan IT untuk merumuskan kebutuhan solusi IT. Di kalangan lembaga pemerintah, untuk pekerjaan bernilai maha besar pun didahului dengan pekerjaan jasa konsultan. Anehnya, dalam merumuskan rencana kerja dan syarat-syarat serta kerangka acuan kerja lelang pekerjaan jasa konsultan ada konsultan lain, yaitu mereka yang bersama-sama dengan pengguna merancang pekerjaan. Kongkalikong bisa dimulai dari saat pengguna merumuskan kebutuhannya karena pada tahap yang masih sangat dini itu pemenang lelang — yang lelangnya sendiri baru dirancang
— sudah kelihatan atau bahkan sudah ditetapkan secara defakto. Urusan dejure adalah urusan dalam tahap-tahap pelelangan yang prosesnya transparan di mata publik. Padahal, banyak proses yang masih terjadi di ruang gelap sehingga tidak diketahui masyarakat.

Setelah lelang diumumkan — entah metodenya pra atau pasca kualifikasi — akan banyak perusahaan yang mendaftar. Pada proses ini, dokumen lelang akan dibuka di hadapan semua peserta lelang. Eit, jangan senang dulu! Panitia lelang yang cerdik akan membantu pengusaha licik memeriksa dokumen lelang mereka. Apabila ada kekurangan, pengusaha licik dapat menyusulkan dokumen yang benar yang sebenarnya sudah tidak bisa disusulkan ketika peserta lelang sudah memasukkan dokumen.

Pada tahap selanjutnya, entah ada beauty contest atau tidak, akan terjadi proses penilaian yang sangat subyektif dalam menilai dokumen/proposal teknis. Proposal yang satu tidak dapat dibandingkan dengan yang lain secara fair di hadapan peserta lelang. Dalam proses ini, hanya iblis yang bisa melihat apakah dokumen teknis yang diberi nilai tinggi benar-benar lebih baik daripada dokumen teknis peserta lain. Mengapa? Karena hanya panitia yang bisa menilai dan penilaian tidak dilakukan di depan peserta lelang. Dalam kasus yang memakai kontes kecantikan atau presentasi proposal, tidak ada peserta lain pada saat kontestan melakukan paparan. Hanya ada tim pemapar dan panitia lelang.

Kalau Mau Kaya Jangan Jujur (1)

“Amenangi jaman edan, yen ora edan ora melu keduman”. Semua orang pasti pernah mendengar jangka Jayabaya atau ramalan Jayabaya yang salah satu ramalannya dipotong seenaknya seperti kalimat pembuka paragraf ini.

Zaman terus berubah. Akan tetapi, penyakit masyarakat pada setiap zaman kemungkinan akan sama saja. Pembunuhan manusia pertama sudah dimulai saat Qabil dan Habil berebut pasangan dan itu ada di masa Adam masih hidup. Pelacuran dikatakan sama tuanya dengan umur manusia. Tentu judi, pencurian, perampokan dan tindak kriminal yang lain juga telah hadir di antara kita sejak masa nenek moyang manusia pertama dulu. Begitu pula dengan korupsi yang selalu merugikan negara dan secara otomatis pasti merugikan masyarakat, umurnya pasti sudah setua umur manusia.

Pecurian, penipuan, dan korupsi adalah penyakit masyarakat yang didasari oleh berkuasanya ketidakjujuran dalam diri manusia. Sifat jujur memang selalu bersanding dengan sifat tidak jujur karena Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu dalam pasangan-pasangan. Ada kalanya sifat jujur berhasil mendominasi dan mengalahkan sifat tidak jujur. Ada kalanya keadaan yang sebaliknya yang berlaku. Dalam keadaan ini seseorang akan selalu merugikan orang lain dan menguntungkan dirinya sendiri.

Pada saat kecil kita pasti dididik untuk selalu jujur. Orang tua kita meminta kita untuk pamit kalau mau pergi ke manapun. Orang tua pasti ingin tahu ke mana harus mencari apabila sudah saatnya pulang tetapi anaknya belum pulang. Kegiatan pamit dimaksudkan agar kita memberitahukan ke mana kita akan pergi, bersama siapa dan mau apa. Kalau informasi yang kita sampaikan kepada orang tua benar, ketika terjadi sesuatu dengan kita maka orang tua akan dapat melacak keberadaan kita dengan benar. Akan tetapi, kadang kala kita sudah mulai belajar tidak jujur sedari kecil. Mau mancing di bendungan kita bilang mau belajar kelompok. Mau berenang di waduk kita bilang mau bertanding sepakbola. Beruntunglah yang sedari kecil tidak pernah berbohong karena sifat jujur akan selalu terasah dan pada akhirnya akan mendominasi dan mengalahkan sifat tidak jujur.

Sifat tidak jujur sejatinya merupakan sifat inti dari para munafik. Nabi mengatakan tiga ciri orang munafik yaitu apabila bicara bohong, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya !erkhianat. Entah sifat mana yang membuat Dewi Persik bisa mengatakan, “Jangan munafik deh!” Ketika Walikota Tangerang mencekalnya menggoyang pantatnya di Tangerang. Apakah dengan begitu Walikota Depok, Bupati dan Ulama-ulama di Sukabumi, dan kepala daerah - kepala daerah yang lain yang mencekal dia juga munafik? Ah… Manusia banyak yang membohongi diri sendiri dalam usahanya mencari uang.

Kalau hanya membohongi diri sendiri sih mungkin hanya diri sendiri yang rugi. Namun, kalau sudah melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu membohongi orang lain maka skala kerugian yang ditimbulkan otomatis juga semakin luas, bukan hanya diri sendiri melainkan juga orang lain. Bahkan bisa lebih luas lagi, yaitu merugikan masyarakat.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak juga jalan menjadi kaya. Ada jalan yang panjang berliku dan penuh onak, ada pula jalan pintas yang sangat mulus, lebar dan tanpa hambatan. Yang belakangan ini yang banyak ditempuh para pejabat kita. Merasa gajinya kekecilan dan tidak memungkinkan untuk bisa mengantarkannya menjadi kaya, banyak abdi negara yang mengambil jalan pintas dengan mengerat keuangan negara untuk keuntungan sendiri. Para pejabat ini menyunat anggaran negara melalui penggelembungan nilai proyek. Modus lain, mereka meminta jatah agar pemenang lelang proyek menyetor sejumlah prosentase tertentu kepada mereka. Bukan hanya eksekutifnya, orang dari legislatif juga suka minta jatah pada pemenang proyek. Fakta-fakta di lapangan sampai saat ini masih sulit untuk menghilangkan praktek kongkalikong antara pengusaha, eksekutif dan legislatif dalam tender proyek. Namun, kerugian negara yang ditimbulkan tidak separah zaman dulu di mana proyek fiktif banyak
sekali. Kabar baiknya adalah para tikus pengerat itu mulai diendus olek KPK.

*bersambung*

Free Blogger Template

Moh Arif Widarto adalah bloger yang mengalami krisis identitas karena tidak mau memilih satu dari dua platform blog yang paling populer. Oleh karenanya, dia mengelola blog ini untuk pengguna WordPress yang fanatik dan mendambakan kemudahan komentar dan WWW.Widarto.Net untuk bloger yang masih cinta Blogger dan menganggap commenting system di Blogger nggak masalah. Berkunjung ke sini atau ke sana sama saja isinya.