Pada saat kecil dulu, saya membayangkan bahwa Perguruan Tinggi adalah sebuah lembaga keilmuwan tingkat tertinggi di mana ilmu pengetahuan selalu diperkaya dan intelektualitas selalu diasah dan dikedepankan. Gelar para pencari ilmu pun sangat terhormat, mahasiswa.
Entah mengapa, saat kecil dulu saya berpikir bahwa tidak semua orang akan bisa masuk ke perguruan tinggi. Hanya mereka yang memiliki tingkat kepandaian dan kecerdasan tinggi saja yang dapat menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Yang tidak dapat meneruskan menuntut ilmu di perguruan tinggi akan bekerja mencari nafkah dengan bekal ilmu sampai tingkat menengah atas atau yang sederajad.
Saat ini, pikiran saat kecil itu terlintas kembali. Perguruan tinggi haruslah dihuni oleh mereka yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka yang serius menuntut ilmu dan mengembangkannya. Mereka yang mengedepankan intelektualitas dalam memecahkan setiap persoalan yang dihadapi. Bukan mereka yang mengedepankan kekuatan otot dan kekerasan. Perguruan tinggi tidak pernah mengajarkan kuda-kuda, pukulan, tendangan atau jurus-jurus beladiri. Perguruan tinggi tidak pernah mengajarkan cara melempar batu kepada orang lain.
Dalam waktu kurang dari dua minggu ini, kita sudah disuguhi berita tawuran antarmahasiswa. Yang pertama di Jakarta. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi tawuran dengan mahasiswa dari dua perguruan tinggi yang lain. Berita yang paling hangat adalah tawuran mahasiswa di Makasar.
Saya semakin heran. Apakah akhir-akhir ini ada perubahan kurikulum di perguruan tinggi? Apakah para dosen sudah mengajarkan kuda-kuda, pukulan, tendangan dan jurus-jurus beladiri?
Saya dulu sangat mengecam kekerasan para praja STPDN karena menurut saya, segala bentuk kekerasan di dalam dunia pendidikan sangat tidak layak untuk ada. Oleh karena itu, saya pun mengecam para mahasiswa yang hobi tawuran dan hobi melakulkan kekerasan. Sungguh, saya kembali berpikir bahwa perguruan tinggi tidak perlu menampung semua lulusan sekolah menengah atas. Hanya mereka yang serius mencari ilmu dan mengembangkan ilmu serta mereka yang mengedepankan intelektualitaslah yang berhak menyandang gelar mahasiswa.
Bagaimana menurut Anda?