Nama Caleg Di DCT Masih Salah

October 31, 2008

Menindaklanjuti kesalahan penulisan nama saya di DCS, saya sudah mengirim surat kepada DPP Partai GERINDRA yang saya tembuskan ke KPU mengenai koreksi nama caleg dalam DCS. Akan tetapi, ternyata sampai dengan diumumkannya DCT, nama saya yang ditulis dalam DCT masih salah. Tertulis di sana nama saya Moh. Arif Widiyarto, sedangkan nama saya yang benar adalah Moh Arif Widarto.

Saya berpendapat, dalam hal ini, baik DPP Partai GERINDRA maupun KPU ternyata tidak bekerja dengan optimal. Baik DPP Partai GERINDRA maupun KPU tidak melakukan pemeriksaan nama caleg yang ditulis dalam daftar caleg dengan nama yang terdapat dalam berkas-berkas administrasi caleg yang bersangkutan. Bahkan ketika sudah dikirimi surat koreksi pun, DPP Partai GERINDRA dan KPU tidak melakukan pembetulan.

Saya kurang paham akibat hukum yang akan terjadi dengan kesalahan penulisan nama caleg dalam DCT tersebut, apakah pencalegan saya batal demi hukum atau tidak. Akan tetapi, yang menghadang di depan mata saya adalah kesulitan dalam melakukan sosialisasi. Tentu saja, saya akan melakukan sosialisasi dengan menggunakan nama saya, yang selalu sama di Akte Kelahiran, Ijazah, KTP, SIM bahkan Kartu Kredit. Kesulitannya, ketika semua bahan sosialisasi menggunakan nama yang benar dan publik sudah mengetahui nama saya yang benar, di surat suara nanti, mereka tidak akan menemukan nama Moh Arif Widarto, yang ada adalah Moh. Arif Widiyarto.

Apakah Anda memiliki saran mengenai ini? Tentu saja, saya akan kembali melayangkan surat ke KPU agar nama saya pada surat suara nanti tidak ditulis dengan salah.

Tujuh Alumni SMA Taruna Nusantara Maju Sebagai Caleg DPR RI

October 31, 2008

Pada 29 Oktober 2008 KPU telah menetapkan Daftar Calon Tetap Anggota Legislatif Pemilu 2009 (DCT). DCT tersebut pada hari ini 31 Oktober 2008 diumumkan melalui Harian Republika. Total terdapat 11.301 caleg yang akan memperebutkan 560 kursi DPR RI dari 77 Daerah Pemilihan di seluruh Indonesia.

Di antara sebelas ribuan calon anggota legislatif tersebut terdapat tujuh orang alumni SMA Taruna Nusantara Magelang yang maju sebagai calon anggota legislatif. Ketujuh orang alumni SMA Taruna Nusantara tersebut maju melalui Partai GERINDRA. Ada pun ketujuh alumni tersebut adalah:

Dapil No. Urut Nama Angkatan
DKI 1 2 Dian Nugroho III
Banten 2 2 Moh Arif Widarto* I
Jabar 3 2 Hizbullah Yusuf** I
Jateng 10 1 Agung Gumilar Saputra V
Jateng 4 1 Prasetyo Hadi VI
Jateng 10 2 Danang Wicaksana Sulistya V
Bali 2 Komang Arya Tridarma, SE I

Keterangan:

  • *) Nama pada DCT masih salah. Pada DCT tertulis Moh. Arif Widiyarto
  • **) Pada DCT hanya ditulis Hizbullah

Dari kiri: Dian Nugroho, Danang Wicaksana Sulistya, Prasetyo Hadi, Hizbullah Yusuf, Moh Arif Widarto, Komang Arya Tridarma, Agung Gumilar Saputra.

Ketujuh alumni SMA Taruna Nusantara Magelang tersebut merasa terpanggil untuk memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara melalui perbaikan kinerja lembaga perwakilan RI. Dengan bekal kesetiaan kepada Pancasila dan UUD 1945 serta wawasan kebangsaaan, wawasan kejuangan dan wawawasan kenusantaraan yang telah diajarkan selama studi di SMA Taruna Nusantara Magelang, ketujuh caleg tersebut tidak perlu lagi dipertanyakan nasionalisme dan patriotrismenya. Kini ketujuh caleg tersebut siap berkompetisi dengan sebelas ribuan caleg DPR RI yang lain. Semoga.

Jangan Beli Presiden Dalam Karung Pada Pemilu 2009

October 29, 2008

Hari ini DPR telah mengesahkan RUU Pemilihan Presiden menjadi UU Pemilihan Presiden. Hal paling alot yang dibahas dalam RUU ini, dan menjadi pergulatan kepentingan partai politik yang memiliki kursi DPR, adalah persyaratan bagi partai politik untuk mengajukan calon presidennya. Adapun syarat pencalonan presiden bagi partai politik akhirnya diputuskan menjadi 20 per seratus kursi DPR atau 25 per seratus suara sah.

Pembahasan persyaratan yang alot itu menjadi bukti betapa anggota dewan saat ini bukan mewakili kepentingan rakyat melainkan kepentingan partainya yang di dalam parlemen perpanjangan tangannya berupa fraksi. Untuk melakukan reformasi parlemen, mulai 2009 - 2014 sebaiknya fraksi di DPR dihapus saja agar setiap anggota DPR bisa lebih berkonsentrasi mewakili rakyat, bukan mewakili partainya.

Terhadap UU Pemilihan Presiden yang baru saja disahkan, saya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak membeli presiden dalam karung. Di depan mata kita terdapat dua pemilu, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Keduanya kelihatannya berbeda tetapi tujuan akhirnya sama, yaitu pemilihan presiden. Oleh karena itu, pada pemilu legislatif tanggal 9 April 2009 nanti, pilihlah caleg-caleg dari partai yang sudah menetapkan calon presidennya. Syarat bagi partai politik untuk mengajukan calon presidennya adalah 20 per seratus kursi DPR atau 25 per seratus suara sah. Untuk apa memilih partai yang belum jelas calon presidennya apabila di depan mata kita saat ini sudah ada beberapa partai yang sudah memiliki calon presiden. Partai-partai yang sudah berani menetapkan calon presidennya adalah partai politik yang tidak akan menipu Anda sekalian. Figur calon presiden sudah diajukan sejak dini, bukan diajukan nanti.

Partai politik yang sudah jelas calon presidennya adalah:

  1. Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) yang mengusung Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto
  2. Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) yang mengusung Jend TNI (Pur) Wiranto
  3. Partai Demokrat yang mengusung Letjen TNI (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono
  4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusung Megawati Soekarnoputri

Pada pemilu 9 April 2009 nanti, pilihlah partai politik yang tidak akan membohongi Anda dalam hal calon presiden. Di atas itu adalah partai politik yang berani sejak awal menawarkan calon presidennya kepada Anda.

Saya sendiri bergabung dalam Gerakan Indonesia Raya, sebuah gerakan yang ingin memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Sebuah gerakan yang memperjuangkan kemandirian dalam bidang pangan dan energi, dua hal vital yang saat ini sudah berada di ambang krisis.

Majulah atas nama Bangsa,…

October 29, 2008

Ane sangat mendukung semua perjuangan yang akan membawa bangsa ini menuju kejayaan.
Majulah Bang, do’a dan dukungan-ku akan menyertai perjuangan-mu….
Arek Ciputat akan mendukung-mu…:)

Usability Testing Report: 2.5 and Crazyhorse

October 29, 2008

A question I hear pretty frequently is, “Why a redesign of the admin panel so soon after 2.5?” Those who have attended WordCamps in the past few months have already heard the answer, but for the people who haven’t had that opportunity, this post is for you.

When the community response to the 2.5 admin redesign was mixed, it seemed like a good idea to do usability testing to find out which issues were based on actual interface problems vs. which complaints were just a result of not liking change. To prevent bias, a third party was contracted to conduct usability testing, Ball State University’s Center for Media Design, Insight and Research division. Try saying that three times fast with a mouth full of peanut butter. Or fitting it on a business card. To save time, we’ll just call that third party CMD, since that’s what they call themselves.

The plan that was developed involved multiple rounds of testing, as well as the creation of two prototypes, hardcore! The first phase involved a usability review of 2.5 by CMD, the results of which were discussed with lead developers. A quick prototype was created that addressed some of the lightweight issues, so that the test participants could use both 2.5 on their own blogs and the prototype on a test site. Results would be analyzed and compared, leading to a second round of suggestions. A second prototype would be developed over a week or two, which would then be tested with the same participants, and a final report delivered. But you know what they say… the best laid plans of designers and developers often go awry.

After the first round of testing, it was clear that a prototype delivering the kind of fixes that could be coded in a week or two wouldn’t make much of a difference overall. We all decided a more ambitious prototype was in order, one that would experiment with a new approach to screen real estate and attempt to address as many of the issues from 2.5 as was possible with a few extra weeks of time. A rapid design process was followed by an even more rapid development cycle. The second prototype is what you know as Crazyhorse.

The second round of testing blew everyone away. The research team had never seen such consistent results. Tasks were completed faster, participant opinions rated it higher, understanding of how interface elements worked was greater, and it wasn’t even a fully functional application. Of the test participants, every single one said they would choose the prototype over their current administrative interface, and it wasn’t even pretty (those of you who remember the original Crazyhorse will vouch for this).

A presentation on the process from start to finish was part of the schedule at WordCamp 2008 in San Francisco, and the slides are available online, but as always the slides only tell you so much without the videos, live demo and verbal narration that went with it. (Use Google and you can see audience videos of the presentation.)

Here, then, is a PDF of reasonable size that you can download and peruse at your leisure that outlines the usability testing project in some detail. I wanted to include some eye tracking videos, but the file was so huge it would have been ridiculous for anyone to download it, so I stuck with eye tracking outputs called gaze trails to illustrate the findings. I also tried to pare down the text to the more salient points, since more than 50 hours of test video really does reveal an insane amount of data. I also cut out the section about designing Crazyhorse in the interest of staying under 25 pages. Hopefully you’ll think it’s a good balance. I’ll try to put together a separate document on the design process of 2.7 in a couple of weeks that will include the early Crazyhorse material.

So, if you want to know what we learned from the usability testing this summer that caused us to create what is now 2.7, go ahead and read the report.

WordPress 2.5/Crazyhorse Usability Testing Report (PDF)

80 Tahun Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Sebatas Diperingati

October 28, 2008

Hari ini, 28 Oktober 2008 adalah ulang tahun Sumpah Pemuda yang ke-80. Di seantero Nusantara Hari Sumpah Pemuda ramai diperingati. Bahkan, partai politik nomor 28 menggunakan momen Sumpah Pemuda ini untuk menyosialisasikan nomornya.

Pada tahun 1928 para pemuda dari berbagai wilayah Indonesia sangat menyadari arti penting persatuan dan kesatuan untuk memperkuat daya dobrak perjuangan. Oleh karena itu, mereka bersumpah untuk bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Para pemuda masa itu benar-benar menepati sumpahnya. Mereka berjuang bersama-sama untuk mencapai kemerdekaan sehingga akhirnya kemerdekaan pun tercapai.

Kini, di zaman kemerdekaan, setiap tahun Sumpah Pemuda diperingati. Akan tetapi, saya takut bahwa Sumpah Pemuda hanya diperingati secara seremonial tanpa diresapi dan dilaksanakan sumpahnya. Padahal, sumpah yang diucapkan oleh para pemuda Indonesia 80 tahun lalu itu masih relevan hingga kini. Persatuan dan kesatuan masih sangat kita perlukan dan harus kita tegakkan.

Marilah kita tegakkan dan kita laksanakan sumpah pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Di era modern ini, kita jangan kalah oleh para pemuda dari zaman pergerakan dulu. Saat itu mereka menyatakan bertanah air dan berbangsa satu. Sayangnya, kini semangat seperti itu mulai pudar. Di era pilkada secara langsung ini, tanah air dikotak-kotakkan antara putra daerah dan bukan putra daerah. Padahal, dengan semangat bertanah air satu maka sebenarnya kita semua ini adalah putra tanah air. Marilah kita berkaca kepada Amerika Serikat. Di negara itu, Arnold Schwarzeneger yang merupakan imigran bisa menjadi gubernur. Saat ini, Barack Obama yang ayahnya berasal dari Kenya dan pernah memiliki ayah tiri dari Indonesia, bisa menjadi calon presiden Amerika Serikat. Sementara, dalam setiap pilkada kita akan selalu mempermasalahkan putra daerah atau bukan putra daerah.

Pada kesempatan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda ini saya mengajak kita semua segenap tumpah darah Indonesia untuk jangan hanya memperingati Sumpah Pemuda secara seremonial. Mari kita ikut bersumpah, menegakkan dan melaksanakan sumpah itu demi kejayaan Indonesia Raya.

Krisis Keuangan Global 2008 Beda Dengan Krisis Keuangan 1997

October 25, 2008

Krisis keuangan 1997 melanda sebagian negara Asia. Ada pun yang terkena krisis antara lain: Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Philipina, Korea Selatan. Krisis ini tidak meluas ke bagian dunia yang lain.

Akibat krisis ini nilai tukar di negara-negara terdampak jatuh sehingga membuat negara dan perusahaan yang memiliki hutang luar negeri jatuh miskin. Industri dengan bahan baku impor bangkrut. Cerita bahagianya, petani kopi dan eksportir Indonesia mendapat rejeki nomplok akibat penurunan nilai tukar rupiah.

Krisis keuangan global 2008 dimulai dari Amerika. Berbeda dari krisis keuangan 1997 yang berdampak lokal, krisis 2008 meluas ke hampir seluruh belahan dunia. Bursa saham berjatuhan. Perusahaan-perusahaan keuangan multinasional bangkrut. Banyak perusahaan di AS akan melakukan pengurangan pekerja.

Akibat krisis keuangan di AS, para investor portfolio di bursa saham menarik dananya. Akibatnya, bursa saham rontok semua dan kini nilai tukar mata uang asia ikut rontok. Nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat mencapai level Rp12.000 per USD1.

Sayangnya, rontoknya nilai tukar rupiah tidak dibarengi dengan naiknya ekspor karena pasar utama tujuan ekspor Indonesia, yaitu AS, sedang bangkrut. Bahkan, saat ini harga komoditas pertanian dan pertambangan jatuh. Harga batubara jatuh, harga kopi jatuh. Harga CPO jatuh. Harga minyak mentah pun turun ke tingkat USD60-an per barel.

Cerita di atas memperlihatkan betapa ekonomi Indonesia sangat tidak mandiri. Pada krisis 1997, belahan dunia lain tidak terseret. Kini, pada 2008, akibat krisis di Amerika Serikat, kita harus ikut terdampak. Oleh karena itu, marilah kita bergerak untuk membangun kemandirian ekonomi Indonesia.

Calling All WordPress-loving Icon Designers

October 24, 2008

Have you seen the getting-prettier-all-the-time menus in 2.7-almost-beta? They really are. Getting prettier all the time, I mean. Once we drop in the fonts and do a little brushing up of edges and colors, the menu system is going to be smooth. The last thing we’ll need to do to is replace the icons we’ve been using as placeholders. Currently, the menus are using icons from Crystal Project, which is perfect because they’re released under LGPL (yay for open source!), but less perfect in that they don’t quite fit with the new visual style of 2.7, so we’re thinking custom icons.

I’m always meeting people at WordCamps or via email who say they wish they could give back to WordPress, but that since they aren’t PHP developers, they feel like there isn’t any opportunity for them to be a part of the open source project. Well, here’s a golden opportunity. Want to design the new WordPress icons?

The icons:
We’ll need icons for each of the main navigation sections, plus a matching pair of list/excerpt view icons for the table screens like Edit Posts. That’s a total of 13, and for the navigation icons we’ll also need a larger size for use in the screen headers. Some of the sections have natural iconography, while others may be more challenging. The sections are: Dashboard, Posts, Media, Links, Pages, Comments, Appearance, Settings, Users, Plugins, Tools.

The style:
Icons should be subtle, with a classic/designed look, nothing cartoonish. Thin lines. Maybe a little old-fashioned looking. They’ll be grayscale by default, possibly with a color version for active menu items.

The timing:
Fast, fast, fast. 2.7 is due to release on November 10. That means icons need to be ready within two weeks, give or take.

The required experience:
To be taken seriously, you’ll need to show a background in icon design. It’s a different skill than web site or application design, and given that there’s not much time before the 2.7 launch, someone with experience (and possibly existing work they can leverage) is going to be the best candidate.

Interested? Send us an email and tell us why you want to design the icons, and include a link to your portfolio. How we wind up choosing an icon designer will depend on how many people respond, but we’ll keep you posted on the process. For now, send in portfolio links by Saturday night, October 25, 2008. We’ll review them over the weekend and get in touch with people on Monday. Hopefully we can be designing by early next week.

Saya Tidak Rela Indonesia Dikuasai Singapura

October 24, 2008

Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa judul di atas terlalu provokatif. Saya juga percaya bahwa Anda dengan segera akan menyangkal dan mengatakan bahwa tidak mungkin Indonesia dapat dikuasai oleh Singapura. Hmm… pendapat saya, Anda tidak tepat.

Untuk mengusai Indonesia, Singapura tidak perlu melancarkan serangan militer ke Indonesia. Penguasaan melalui kekuatan militer adalah gaya lama. Gaya orang-orang Eropah mulai abad 15 sampai abad 20. Kini, di abad 21, penguasaan suatu negara atas negara lain melalui jalan yang lebih halus dan tanpa pergerakan militer, kecuali Amerika yang memang koboi dan suka menebar perang di mana-mana.

Ah, saya tidak percaya ada jalan halus bagi suatu negara untuk menguasai negara lainnya. Boleh saja. Saya tidak akan memaksa Anda untuk percaya. Akan tetapi, apabila suatu negara dapat menguasai salah satu atau kombinasi dari beberapa hal berikut atas negara lainnya, ceritanya akan lain:

  • ekonomi
  • pangan
  • energi
  • teknologi

Ekonomi

Ekonomi merupakan bidang yang sangat penting. Dalam pelajaran ketahanan nasional kita mengenal adanya Astagrata yang terdiri dari Trigatra dan Pancagrata. Ekonomi ini masuk dalam Pancagrata yang terdiri dari Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan. Pancagrata ini sering disebut dengan ipoleksosbudhankam.

Saking pentingnya ekonomi ini, Orde Baru menjadikannya panglima. Ingatkah Anda akan jargon “ekonomi sebagai panglima”? Jargon ini merupakan ideologi pembangunan Orde Baru sebagai koreksi atas ideologi Orde Lama yang menjadikan politik sebagai panglima. Belakangan kita semua tentu paham bahwa nama Orde Baru, Orde Lama ataupun jargon ekonomi sebagai panglima dan politik sebagai panglima itu semuanya bikinan Orde Baru. Namun, semua itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa ekonomi merupakan bidang vital bagi setiap negara. Kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai apabila ekonomi tidak bergerak. Hal ini yang membuat setiap pemerintahan berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan roda perekonomian negara. Berlomba-lomba untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Bagi negara maju (developed countries), pembangunan ekonomi relatif lebih mudah dilaksanakan karena mereka telah memiliki sumberdaya yang memadai dalam hal kapital, teknologi dan sumberdaya manusia. Sebaliknya, bagi negara berkembang (developing countries), pembangunan ekonomi merupakan pekerjaan yang berat. Rata-rata negara berkembang adalah negara miskin. Negara-negara ini mungkin kaya sumberdaya alam tetapi miskin dalam hal penguasaan kapital, teknologi dan sumberdaya manusia yang berkualitas. Untuk melaksanakan pembangunan, setiap negara tentu membutuhkan dana. Nah, di sinilah negara-negara yang kaya masuk. Mereka berperan sebagai negara donor atau kreditor. Pada saat menjadi donor atau kreditor, negara-negara itu tentu tidak hanya meminjamkan uang melainkan mereka juga menyetir negara-negara debitor dengan cara mempengaruhi kebijakan-kebijakan pembangunan di negara debitor. Mereka mengatur sektor-sektor yang dapat dibiayai oleh uang pinjaman mereka. Bahkan, mereka juga mengatakan kepada negara debitor bahwa konsultan untuk perencanaan atau pengawasan pekerjaan yang dibiayai utang itu haruslah berasal dari negara kreditor. Sebuah permainan yang cantik namun menyengsarakan rakyat di negara peminjam.

Anda boleh saja mengatakan bahwa negara debitor tetap memiliki kedaulatannya. Akan tetapi, pengalaman panjang Indonesia dengan IGGI, CGI dan IMF tentu memberikan fakta yang lain. Konon liberalisasi sektor migas adalah syarat IMF ketika Indonesia berhutang kepadanya guna mengatasi krisis moneter sejak 1997. Siapa di belakang IMF, tentu negara-negara kaya.

Negara kaya menguasai perekonomian negara lain bukan hanya melalui transaksi hutang-piutang jangka panjang. Mereka juga menjajah melalui investasi pengusaha-pengusaha mereka di negara berkembang. Dengan dua tangan, negara dan swasta mereka mengepung negara berkembang sehingga negara berkembang tersebut menjadi bergantung kepada negara kaya. Di sanalah penjajahan ekonomi terjadi.

Pangan

Negara manakah yang tidak butuh pangan? Jawabannya adalah negara robot. Ya, karena robot tidak butuh pangan. Selama suatu negara memiliki manusia sebagai warga negara maka negara itu akan membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya.

Masalah pangan ini bukan hal sepele. Setiap negara harus mampu berswasembada pangan. Harus mampu menyediakan sendiri pangan untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya. Loh, bukankah kita bisa impor dari negara lain? Nah, di sinilah celah untuk menguasai negara lain melalui pangan. Negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia selalu rawan terhadap kekurangan pangan. Ingat-ingatlah kapan Indonesia dapat berswasembada pangan. Seingat saya, tahun 1983 adalah tahun pertama Indonesia dapat mencapai swasembada beras. Setelah itu, konon, swasembada beras tidak pernah tercapai lagi sampai tahun 2008 (Partai Demokrat saat ulang tahun ke-7-nya mengklaim bahwa Indonesia sudah berswasembada beras lagi per 2008). Produksi beras nasional dari tahun ke  tahun selalu minus terhadap kebutuhan beras nasional. Kekurangan itu ditutupi dengan impor. Apabila kita tidak mampu membuat bangsa ini bisa makan bahan makanan pokok selain beras maka ke depan kita akan selalu bergantung kepada negara lain untuk menutupi kekurangan yang ada.

Itu baru beras. Pada komoditas kedelai, kita juga bergantung pada pasokan impor. Tempe dan tahu yang merupakan makanan rakyat miskin menjadi makanan kelas menengah ke atas karena harga kedelai dunia yang melambung. Pada komoditas kedelai ini, Indonesia sudah bergantung kepada negara lain.

Komoditas pangan selanjutnya adalah gandum. Indonesia bukanlah penghasil gandum. Entah mengapa pemerintah tinggal diam ketika masyarakat Indonesia dimanjakan dengan makanan yang berbahan dasar tepung terigu seporti mi instan dan roti. Di sektor gandum ini, Indonesia sangat bergantung kepada luar negeri.

Bahan makanan selanjutnya adalah daging dan telur ayam. Anda salah besar apabila Indonesia tidak bergantung pada luar negeri pada komoditas ini. Silakan ditelusuri, untuk ayam pedaging dan petelur, di mana letak peternak kita. Saya beri bocoran sedikit, peternak kita hanya memelihara. Bibit ayam berupa DOC Day Old Chicken) mungkin diproduksi di Indonesia. Akan tetapi, siapakah yang menguasai teknologinya termasuk indukannya? Jadi jangan salah, daging ayam dan telur saja secara tidak langsung kita sudah bergantung kepada luar negeri. Oleh karena itu, Partai GERINDRA akan menggalakkan kembali peternakan ayam kampung oleh keluarga-keluarga Indonesia. Kita telah dibodohi oleh luar negeri dengan membunuh ayam kampung spesies asli kita hanya karena flu burung. Padahal, jumlah korban flu burung sangat lebih kecil apabila dibandingkan dengan korban yang tewas di jalan raya atau pun korban demam berdarah.

Bicara ayam tidak berhenti pada ayamnya saja melainkan kita juga harus bicara mengenai pakannya. Kepala dan kulit udang kita bisa punya. Jagung, kita juga punya walaupun untuk pakan ternak jagungnya kita impor juga. Vaksin, obat-obatan, apakah kita bisa memproduksi sendiri?

Ada beberapa lagi komoditas pangan di mana Indonesia sudah memiliki ketergantungan kepada negara lain. Inti dari deskripsi di atas adalah bahwa kita ini sebenarnya sudah berada dalam krisis pangan. Kita tidak merasa karena kita masih dapat mengimpor bahan-bahan pangan tersebut. Akan tetapi, apabila di dunia terjadi krisis pangan berat, negara-negara pengekspor pangan tentu akan memilih untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya daripada memenuhi permintaan impor kita. Pada saat itulah kita akan benar-benar bertekuk lutut pada mereka yang mau memasok pangan kepada negara kita.

Mengenai pangan ini, marilah kita kutip perkataan Hubert Humphrey (Wapres AS) pada tahun 1964:

“If you are looking for a way to get people to lean on you it seems to me that food dependence would be terrific.”

K
etahanan pangan itu perlu. Presiden Bush mengatakan pada Future Farmer’s of America:

“… I mean, after all, we are talking about national security. It’s important for our nation to build – to grow foodstuffs, to feed our people. Can you imagine a country that was unable to grow enough food to feed the people? It would be a nation that would be subject to international pressure. It would be a nation at risk…. “

Energi

Energi dibutuhkan dalam pembangunan. Perumahan, perkantoran dan pabrik-pabrik memerlukan energi untuk kebutuhan spesifik masing-masing. Saat ini rumah tangga di Indonesia sudah mulai sangat bergantung kepada listrik untuk kebutuhan penerangan. Di kota-kota besar, listrik bukan hanya dipergunakan untuk penerangan melainkan juga untuk kebutuhan lain seperti memompa air, menanak dan memanaskan nasi, menyetrika, menghidupkan kulkas, AC dan lain-lain.

Pembangkit listrik di Indoesia saat ini ternyata sebagian besar menggunakan generator berbahan bakar minyak. Celakanya, saat ini Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak karena produksi minyak yang dijual ke luar negeri dengan belanja minyak dari luar negeri sudah lebih banyak belanja minyak ke luar negerinya. Konon Pertamina kita tidak bisa memasak minyak yang disedotnya dari perut bumi Indonesia dan hanya bisa menyaring minyak setengah matang yang harus dibeli lewat Singapura. Masih untung kita punya batubara yang para penambangnya lebih memilih untuk menjual ke luar negeri daripada memasok PLN. Masih untung juga kita memiliki energi panas bumi yang belum semuanya kita manfaatkan. Masih untung sepanjang tahun kita mendapatkan sinar matahari sehingga apabila terpaksa kita bisa memasang panel surya di setiap rumah. Coba bayangkan negara yang sama sekali tidak memiliki minyak, batu bara, panas bumi, dan matahari tidak bersinar sepanjang tahun. Negara seperti itu harus memiliki PLTN. Iya kalau mereka menguasai teknologi nuklir. Kalau tidak, tentu mereka akan bergantung kepada negara-negara maju lagi. Negara yang sudah menjajah lewat ekonomi dan pangan.

Terhadap penguasaan negara lain melalui energi ini mari kita kutip Paul Scott dari National Syndicated Columnist:

“It is Henry Kissinger’s belief … that by controlling food, one can control people, and by controlling energy, especially oil, one can control nations and their financial systems. By placing food and oil under international control along with the world’s monetary system, Kissinger is convinced a loosely knit world government can become a reality by 1980.’‘

Teknologi

Teknologi berkembang sangat cepat. Teknologi apa pun. Dan saat ini, kita baru bisa menjadi bangsa pembeli dan pemakai teknologi, bukan periset dan produsen teknologi. Mau membantah? Silakan. Kita mau bicara teknologi pertahanan, alutsista kita masih bergantung kepada luar negeri. Ketika kita diembargo senjata oleh Amerika dan Eropa pasca Jajak Pendapat di Timor Leste, sebagian pesawat AS Hawk dan F-16 kita menjadi rongsokan karena dikanibal untuk membuat pesawat yang lain bisa tetap terbang. Ketika rudal-rudal di kapal-kapal perang kita kadaluwarsa, kita juga tidak bisa membeli dari luar negeri. Bukankah ini ciri bahwa dalam bidang teknologi pertahanan (militer) kita sudah bergantung kepada luar negeri.

Dalam teknologi telekomunikasi, semua perangkat jaringan telekomunikasi adalah buatan luar negeri. Hampir tidak ada yang buatan kita sendiri. Komputer? Kita tidak dapat memproduksi sendiri. Bisanya hanya merakit. Televisi, hanya bisa merakit. Mobil? Juga hanya bisa merakit. Untunglah kita bisa memproduksi cangkul, sabit, bajak dan ani-ani sehingga kita masih bisa menanam padi.

Negara lain sudah menguasai kita melalui teknologi. Hanya saja, mungkin kita tidak merasakannya karena hal itu sudah masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana Singapura menguasai Indonesia?

Pada paparan di atas, saya hanya membicarakan empat bidang. Apabila mau dibabar, tentu banyak bidang lain yang juga dapat menjadi celah bagi suatu negara untuk negara lain. Empat bidang di atas juga memiliki turunan (derivative) masing-masing. Nah, dalam hal Singapura menguasai Indonesia, Singapura masuk melalui sektor ekonomi melalui penguasaan atas perusahaan-perusahaan terbaik di Indonesia. Singapura menguasai industri keuangan dan telekomunikasi Indonesia. Mengenai masalah ini, penjelasan lebih lanjutnya dapat Anda baca melalui artikel Pak Nofie Iman yang berjudul Orang-orang terkaya Indonesia dan masa depan kita.

Jadi, Singapura mencoba menguasai Indonesia melalui sektor ekonomi. Apakah militer mereka lemah? Tidak. Kekuatan alutsista Singapura adalah yang paling kuat di Asia Tenggara. Hanya saja, untuk perang panjang mereka mungkin akan kedodoran juga apabila harus melawan Indonesia yang berpenduduk 230 juta orang ini.

Bukan hanya itu saja, Singapura juga menguasai Indonesia melalui pengkhianat-pengkhianat yang ada di dalam birokrasi kita. Konon, antek-antek Singapura sudah sampai ke level Eselon III di birokrasi. Antek-antek ini tentu saja orang kita, orang Indonesia yang jiwanya mudah terbeli. Mereka yang hanya dengan diajak jalan-jalan ke Singapura atau negara lain dan diberi uang rela menggadaikan kedaulatan bangsa. Saya katakan konon karena saya hanya mendengarnya. Mengenai kebenarannya, silakan dikaji sendiri. Akan tetapi, coba bayangkan sedikit masalah di bawah:

Apakah Indonesia tidak mampu membangun pelabuhan laut internasional sekelas Singapura?

Sungguh gila. Negara sebesar Indonesia tidak memiliki kedaulatan dalam arus keluar masuk barang melalui laut. Semua harus lewat Singapura. Bayangkan saja, negara yang oleh Pak Habibie disebut sebagai the red dot on the map itu membuat kita harus bergantung kepada mereka. Kita bukan tidak bisa membangun pelabuhan seperti itu karena investor pasti mau berinvestasi untuk membangun pelabuhan internasional dengan asumsi arus keluar masuk barang melalui Indonesia yang sangat padat. Justru yang tidak ada adalah kemauan politik. Mengapa? Silakan saja aduk-aduk isi Departemen Perhubungan terutama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan tanya mengapa mereka tidak mau membangun pelabuhan laut internasional di Indonesia. Pelabuhan laut yang sebenar-benarnya, yang diakui secara internasional.

Bukan hanya di laut, lalu lintas udara kita juga tidak berdaulat. Kontrol atas lalu lintas udara kita sebagian juga berada di Singapura karena mereka memiliki lalu lintas udara yang lebih padat dan radar yang lebih baik. Padalah, angkasa Singapura tidak ada seperseribu angkasa kita.

Saya tidak rela Indonesia dikuasai Singapura

Saya tidak rela Indonesia dikuasai Singapura melalui sektor apa pun. Oleh karena itu, saya sangat mengecam pengobralan aset kepada pihak luar negeri terutama Singapura. Saya sangat anti kepada penjual Indosat kepada Temasek. Kita tahulah siapa orangnya dan siapa yang jadi Presiden waktu itu. Singapura melalui Temasek saat ini sudah menguasai Astra, BII, Telkomsel, Danamon dan Indosat yang dijual ke Q-Tel.

Sungguh, saya tidak rela. Bagaimana pun caranya, kita harus mengambil kembali aset-aset kita yang sudah dikuasai oleh asing. Kita harus membuat peraturan di mana asing hanya boleh menguasai maksimal 10% saja kepemilikan di perusahaan-perusahaan kita. Kita harus melarang kepemilikan silang oleh pihak asing di perusahaan-perusahaan kita. Indonesia harus untuk Indonesia.

-*-

Catatan: Seluruh kutipan berasal dari sini.

WordPress 2.6.3

October 23, 2008

A vulnerability in the Snoopy library was announced today.  WordPress uses Snoopy to fetch the feeds shown in the Dashboard.   Although this seems to be a low risk vulnerability for WordPress users, we wanted to get an update out immediately.  2.6.3 is available for download right now.  If you don’t want to download the whole release to get the security fix, you can download the following two files and copy them over your 2.6.2 installation.

  1. wp-includes/class-snoopy.php
  2. wp-includes/version.php

Next Page »