Indonesia untuk Indonesia

August 7, 2008 | Dibaca 10 kali

Bulan ini kemerdekaan negara kita mencapai usia yang ke-63. Masih cukup muda apabila dibandingkan dengan usia kemerdekaan Amerika Serikat. Sebaliknya, apabila dibandingkan dengan usia kemerdekaan Brunei Darussalaam atau Kosovo, usia kemerdekaan negara kita lebih tua. Pertanyaannya, apakah tua atau muda memiliki relevansi dengan semangat untuk menomorsatukan kepentingan bangsa sendiri daripada bangsa lain? Saya sendiri melihat hal tersebut tidak ada relevansinya.

Saya sengaja mengangkat isu penomorsatuan kepentingan bangsa sendiri di atas bangsa lain karena melihat bangsa ini sudah kehilangan ruh kebangsaan. Bangsa ini terjerumus ke dalam pasar internasional dan melupakan semangat untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sebuah tindakan yang tidak sepatutnya dipertahankan apabila kita ingin bangsa kita ini bisa terus bersatu dalam satu wadah.

Kurang dari setahun yang lalu kita dilanda kelangkaan minyak goreng sehingga harga minyak goreng mencapai harga Rp10000 sampai Rp12000 per kilogram. Apakah Indonesia kekurangan produksi minyak sawit (CPO)? Kita semua tahu bahwa produksi CPO Indonesia lebih besar daripada angka konsumsi. Yang menyebabkan minyak goreng menjadi langka dan mahal adalah karena produsen CPO lebih memilih untuk menjual CPO ke pasar internasional karena harga di pasar internasional lebih tinggi daripada harga dalam negeri.

Itu beberapa bulan yang lalu. Saat ini, yang ada di depan mata kita adalah ambang krisis listrik yang diakibatkan oleh sulitnya PLN mendapatkan pasokan batubara untuk menghidupkan pembangkitnya. Apakah Indonesia kekurangan batubara? Tentu tidak. Batubara kita lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri saat ini. Akan tetapi, kembali, para penambang batubara lebih memilih untuk menjual batubaranya ke pasar internasional daripada melayani kebutuhan dalam negeri.

Di lain sektor, kita pernah mendengar pabrik pupuk kita mengaku kekurangan pasokan gas. Apakah Indonesia tidak punya gas? Punya. Yang jadi masalah, pemerintah lebih suka melayani pasar internasional daripada kebutuhan dalam negeri. Ibaratnya, semua yang kualitas nomor satu disediakan untuk bangsa lain dan sisa-sisa sortiran baru diberikan kepada bangsa sendiri. Sungguh sangat menyakitkan.

Kita tidak boleh membiarkan hal seperti itu berlangsung terus menerus. Praktek bisnis tanpa nasionalisme harus dikoreksi. Kita harus bisa menomorsatukan kebutuhan dalam negeri daripada kebutuhan bangsa lain. Bukannya kita melarang para pengusaha untuk mendapatkan keuntungan. Semua pengusaha tentu mencari keuntungan. Akan tetapi, keuntungan yang didapatkan di atas penderitaan bangsa sendiri sangat tidak bisa kita tolerir. Kalau pengusaha mau berbuat seperti itu, sebaiknya mereka tidak mengeruk kekayaan alam dari perut bumi Indonesia. Akan lebih baik apabila mereka menghabiskan barang tambang negara lain atau membuka kebun sawit di negara lain.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah haluan. Kita harus berpikir Indonesia untuk Indonesia. Kita harus bertindak Indonesia untuk Indonesia. Demi keutuhan Indonesia, kepentingan dan kebutuhan Indonesia harus dinomorsatukan.

Mari kita wujudkan Indonesia untuk Indonesia.

Artikel Terkait

4 Responses to “Indonesia untuk Indonesia”

  1. Edi Psw on August 8th, 2008 6:27 am

    Negara Indonesia katanya negara yang subur dan makmur, tapi kenapa koq sampai kekurangan terus?

    MAW:
    Karena salah atur. Yang menjadi government harusnya kerjaannya to govern, bukan to order.

    [Reply]

  2. Wahyu Reza Prahara on August 8th, 2008 10:16 am

    meluruskan gas..
    heiheihe

    bukannya indonesia gak mau ngurusin negaranya sendiri…
    tapi memang kita udah terikat long term contract ke jepang dsb (itulah alasannya kenapa kalau ada bencana dsb..jepang pasti bantu indonesia paling pertama)..

    dan buruknya sistem di indonesia tentang konversi energi..
    indonesia baru kepikiran menggunakan gas untuk keperluan rumah tangga dan industri baru sekitar 10-20 tahun…atau mungkin 10-15 tahun ke belakang..
    selebihnya…

    MAW:
    Terimakasih atas koreksinya. Demi kesejahteraan rakyat, longterm kontrak itu harus ditinjau ulang. Bukankah begitu, Mas?

    karena ada “tikus” yang bermain di perdagangan minyak ;)

    [Reply]

  3. Wahyu Reza Prahara on August 8th, 2008 10:17 am

    baru ganti theme kang?

    MAW:
    Iya, untuk penyegaran. Bagaimana tampilannya sekarang? Ngikutin Pak Sawali, nih. Hanya saja, Pak Sawali lebih jago ngoprek daripada saya.

    [Reply]

  4. sawali tuhusetya on August 8th, 2008 4:28 pm

    sesungguhnya harus ada relevansi antara usia kemerdekaan dan kemajuan bangsa, mas arif. saya sepakat dengan ajakan mas arif, “Indonesia untuk Indonesia”. mengingat bangsa kita yang masih paternalistis, agaknya dibtuhkan keteladanan dari atas. mereka yang seharusnya menjadi anutan perlu memberikan contoh yang bener bahwa tindakan dan kebijakan mereka semata2 utk Indonesia, bukan utk memenuhi ambisi pribadi dan golongan. semoga ajakan ini benar2 terimplementasikan secara nyata, mas. btw, themenya ternyata jadi ganti. lebih seger dan fresh.

    [Reply]

Got something to say?