Indonesia Untuk Indonesia

August 30, 2008 | Dibaca 23 kali

Sejak sepuluh tahun lalu saya selalu gelisah apabila memikirkan nasib bangsa ini. Dalam pandangan saya ada sesuatu yang salah. Kita selalu diajarkan bahwa kita harus meletakkan kepentingan bagsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kita juga diajarkan untuk meletakkan kepentingan nasional kita di atas kepentingan yang lain. Akan tetapi, kenyataan di depan kita sungguh bertolak belakang dengan semua yang diajarkan.

Dalam skala kecil, kita melihat guru-guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah di mana anak-anak kita menuntut ilmu membisniskan seragam sekolah dan buku pelajaran. Banyak orang tua yang mengeluhkan tingginya harga kain seragam yang harus di bayar dibandingkan harga kain seragam apabila dibeli sendiri. Di tempat lain, kita menyaksikan guru-guru yang memaksa kita untuk membeli buku pelajaran dari penerbit tertentu.

Para guru itu sampai melakukan hal-hal yang kita nilai tidak patut dilakukan karena kita sendiri tidak menghargai mereka dengan layak. Guru di tanah air kita ini kita gaji sangat rendah sehingga mereka terpaksa harus melakukan hal-hal seperti yang dilakukan di atas. Selain itu, mereka tidak memiliki cukup biaya untuk memperdalam kompetensi mereka dengan bersekolah lebih tinggi. Saat ini, banyak putra-putri terbaik bangsa ini yang menjadi guru dan dosen di negara tetangga. Mereka menyiapkan generasi penerus dari negara tetangga, bukan generasi penerus bangsa kita sendiri. Salah siapa? Tentu salah kita karena tidak menghargai dengan pantas profesionalisme mereka.

Pada skala yang lebih tinggi. Hati kita seperti disayat sembilu manakala kekayaan alam yang berada di dalam perut bumi kita bukannya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat melainkan dikontrakkaryakan kepada asing sehingga pada akhirnya kita yang harus membeli dengan harga mahal hasil perut bumi tersebut setelah diolah. Reformasi yang kita harapkan dapat mengoreksi kesalahan masa lalu ternyata sebelas duabelas dengan rezim sebelumnya. Kita tentu saja tidak boleh membiarkan hal seperti itu terus berlangsung.

Oleh karena itu, sejak tahun 2000-an saya sudah merumuskan visi saya untuk bangsa ini. Visi tersebut sangat sederhana. Hanya sebuah kalimat yang berbunyi “Indonesia untuk Indonesia”.

Pengejawantahan dari visi tersebut pun sesederhana visi tersebut. Apa pun yang berasal dari Indonesia harus untuk Indonesia. Kita punya minyak bumi yang disedot dari perut bumi Indonesia maka minyak bumi tersebut harus untuk Indonesia. Adalah tidak pada tempatnya menjual semua produk olahan minyak bumi di Indonesia dengan harga internasional. Jangan membandingkan dengan Singapura yang tidak memiliki tambang minyak. Kita harus mampu menambang dan mengolah minyak bumi kita sendiri. Bukannya mengekspor mentah-mentah minyak dari perut bumi kita yang konon merupakan jenis minyak yang mutunya kualitas terbaik lalu membeli minyak setengah matang untuk dipisah-pisah menjadi berbagai macam produk bahan bakar dan produk olahan lainnya. Tidak pada tempatnya pula PLN kita kesulitan pasokan batubara karena bumi kita kaya akan batubara. Tidak pada tempatnya pula harga minyak goreng kita dipaksa mengikuti harga internasional karena kita memiliki kebun sawit yang mampu mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri kita.

Pengejawantahan kedua dari visi itu adalah mencintai produksi dalam negeri. Sungguh mengherankan, sebagai negara agraris penghasil buah-buahan tetapi negeri kita dibanjiri buah-buahan yang berasal dari luar negeri. Jumlah impor buah kita pertahunnya mencapai USD 290 juta. Buah-buahan yang diimpor itu, sayangnya, bukan buah yang memang tidak tersedia di Indonesia. Banyak buah yang diproduksi oleh petani kita ini tidak laku karena dibanjiri produk identik dari negara lain. Praktek impor yang membunuh petani dalam negeri seperti itu harus dikoreksi. Kita harus makmur bersama. Bukan sebagian makmur meninggalkan yang lainnya. Masih di sektor yang sama, petani gula kita menjerit karena Departemen Perdagangan kita mengijinkan impor gula yang membunuh produsen tebu nasional. Impor tentu saja diperbolehkan apabila tujuannya adalah untuk menutup kekurangan produksi. Akan tetapi, impor yang membunuh produsen dalam negeri tidak boleh diteruskan.

Penerapan Indonesia untuk Indonesia yang lain adalah penghapusan diskriminasi di Indonesia. Semua warga negara bersamaan kedudukannya di muka hukum. Kita tidak boleh mempersulit warga negara dari etnis atau agama/kepercayaan tertentu untuk mendapatkan hak-haknya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Semua warga negara adalah orang Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, semuanya sederajad.

Turunan dari hal di atas adalah keharusan negara untuk melindungi warga negara Indonesia di mana pun berada. Saya sangat menyayangkan negara yang acuh tak acuh terhadap nasib para pekerja migran kita yang acapkali teraniaya di luar negeri. Di satu sisi, pemerintah mengijinkan pengiriman TKI untuk bekerja di sektor-sektor informal sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak atau perawat jompo tetapi pemerintah malas memberi mereka perlindungan hukum yang sepantasnya. Kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja di dalam negeri dibayar dengan mengijinkan wanita-wanita kita direndahkan martabatnya dengan menjadi pembantu rumah tangga atau pekerja di lapangan kerja berpendidikan rendah dan berketerampilan rendah. Saya sendiri berpandangan bahwa pengiriman TKI sebagai pembantu rumah tangga atau yang sederajad harus dihentikan. Di luar negeri tersedia lapangan kerja di sektor yang lebih baik, misalnya sebagai perawat di rumah sakit atau hospitality industri yang lain. Pada sektor seperti itu atau yang lebih tinggi kita kirimkan TKI kita sehingga para TKI kita di negara tujuan kerja juga diperlakukan dengan baik dan bermartabat.

Indonesia harus untuk Indonesia, bukan untuk yang lainnya. Sesederhana itu visi saya tetapi yakinlah, saya sangat membenci mereka yang mengobral aset bangsa ke kapitalis-kapitalis global tanpa memikirkan kerugian jangka panjang yang akan ditanggung oleh bangsa ini.

Kita harus berani menegakkan kepala. Ke depan, kita harus percaya diri untuk menolak segala tekanan dari luar demi martabat kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus bertekad untuk bekerja keras mewujudkan kemandirian bangsa. Tekad itu, tentu saja ada di dalam Gerakan Indonesia Raya.

Artikel Terkait

  • Tidak Ada Artikel Terkait

6 Responses to “Indonesia Untuk Indonesia”

  1. AHA on September 1st, 2008 5:17 am

    sampai saat ini saya masih golput bos…. males

    [Reply]

  2. Arif on September 1st, 2008 5:29 am

    @AHA:
    Usul saya, sebaiknya Mas Arif Hartono jangan golput. Kalau belum percaya dengan calon wakil yang maju, mending maju sendiri jadi calon. Seperti saya ini :)

    [Reply]

  3. Saya Tidak Rela Indonesia Dikuasai Singapura | Moh Arif Widarto on October 24th, 2008 9:33 am

    [...] Sungguh, saya tidak rela. Bagaimana pun caranya, kita harus mengambil kembali aset-aset kita yang sudah dikuasai oleh asing. Kita harus membuat peraturan di mana asing hanya boleh menguasai maksimal 10% saja kepemilikan di perusahaan-perusahaan kita. Kita harus melarang kepemilikan silang oleh pihak asing di perusahaan-perusahaan kita. Indonesia harus untuk Indonesia. [...]

  4. Caleg DPR RI Bukannya Bagi-bagi Duit Malah Membuka Rekening Sumbangan | Moh Arif Widarto on November 5th, 2008 11:39 am

    [...] perjuangan saya sudah saya sampaikan melalui visi Indonesia untuk Indonesia. Sebagai patriot, saya ingin memiliki sebuah negara yang memiliki harkat dan martabat. Saya sangat [...]

  5. BangunBanten.Com » Blog Archive » Caleg DPR RI Bukannya Bagi-bagi Duit Malah Membuka Rekening Sumbangan on November 10th, 2008 3:42 am

    [...] perjuangan saya sudah saya sampaikan melalui visi Indonesia untuk Indonesia. Sebagai patriot, saya ingin memiliki sebuah negara yang memiliki harkat dan martabat. Saya sangat [...]

  6. Kunderemp An-Narkaulipsiy on November 12th, 2008 3:09 am

    Jadi ingat pertanyaan saya di blog-nya Nenda/Calupict
    http://aruta.wordpress.com/2008/07/14/rizal-mallarangeng-dan-platform-seorang-calon-presiden/

    Saya kutip lagi, pertanyaan saya:

    Seandainya harga daging di Indonesia naik, apakah kandidat akan memilih menjamin daya beli masyarakat terhadap daging dengan mengimpor daging dari luar untuk menurunkan harga atau membiarkan harga tersebut untuk menyejahterakan peternak?

    Dan kalau saya lihat tulisan Mas Arif:

    Pengejawantahan kedua dari visi itu adalah mencintai produksi dalam negeri. Sungguh mengherankan, sebagai negara agraris penghasil buah-buahan tetapi negeri kita dibanjiri buah-buahan yang berasal dari luar negeri. Jumlah impor buah kita pertahunnya mencapai USD 290 juta. Buah-buahan yang diimpor itu, sayangnya, bukan buah yang memang tidak tersedia di Indonesia. Banyak buah yang diproduksi oleh petani kita ini tidak laku karena dibanjiri produk identik dari negara lain. Praktek impor yang membunuh petani dalam negeri seperti itu harus dikoreksi. Kita harus makmur bersama. Bukan sebagian makmur meninggalkan yang lainnya. Masih di sektor yang sama, petani gula kita menjerit karena Departemen Perdagangan kita mengijinkan impor gula yang membunuh produsen tebu nasional. Impor tentu saja diperbolehkan apabila tujuannya adalah untuk menutup kekurangan produksi. Akan tetapi, impor yang membunuh produsen dalam negeri tidak boleh diteruskan.

    Koreksi bila saya salah,
    yang saya tangkap dari perkataan Mas Arif (bolehkan saya anggap juga merupakan jalan pikiran Partai Gerindra? ) adalah
    bila harga pangan (entah daging, entah beras) naik maka bukan berarti keran import dibuka. Keran import baru dibuka bila ada kelangkaan pangan.

    Benarkah apa yag saya tangkap?

    Artikel terakhir Kunderemp An-Narkaulipsiy: Kopi Abbysinia…

    [Reply]

Got something to say?