Indonesia Untuk Indonesia
August 30, 2008
Sejak sepuluh tahun lalu saya selalu gelisah apabila memikirkan nasib bangsa ini. Dalam pandangan saya ada sesuatu yang salah. Kita selalu diajarkan bahwa kita harus meletakkan kepentingan bagsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kita juga diajarkan untuk meletakkan kepentingan nasional kita di atas kepentingan yang lain. Akan tetapi, kenyataan di depan kita sungguh bertolak belakang dengan semua yang diajarkan.
Dalam skala kecil, kita melihat guru-guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah di mana anak-anak kita menuntut ilmu membisniskan seragam sekolah dan buku pelajaran. Banyak orang tua yang mengeluhkan tingginya harga kain seragam yang harus di bayar dibandingkan harga kain seragam apabila dibeli sendiri. Di tempat lain, kita menyaksikan guru-guru yang memaksa kita untuk membeli buku pelajaran dari penerbit tertentu.
Para guru itu sampai melakukan hal-hal yang kita nilai tidak patut dilakukan karena kita sendiri tidak menghargai mereka dengan layak. Guru di tanah air kita ini kita gaji sangat rendah sehingga mereka terpaksa harus melakukan hal-hal seperti yang dilakukan di atas. Selain itu, mereka tidak memiliki cukup biaya untuk memperdalam kompetensi mereka dengan bersekolah lebih tinggi. Saat ini, banyak putra-putri terbaik bangsa ini yang menjadi guru dan dosen di negara tetangga. Mereka menyiapkan generasi penerus dari negara tetangga, bukan generasi penerus bangsa kita sendiri. Salah siapa? Tentu salah kita karena tidak menghargai dengan pantas profesionalisme mereka.
Pada skala yang lebih tinggi. Hati kita seperti disayat sembilu manakala kekayaan alam yang berada di dalam perut bumi kita bukannya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat melainkan dikontrakkaryakan kepada asing sehingga pada akhirnya kita yang harus membeli dengan harga mahal hasil perut bumi tersebut setelah diolah. Reformasi yang kita harapkan dapat mengoreksi kesalahan masa lalu ternyata sebelas duabelas dengan rezim sebelumnya. Kita tentu saja tidak boleh membiarkan hal seperti itu terus berlangsung.
Oleh karena itu, sejak tahun 2000-an saya sudah merumuskan visi saya untuk bangsa ini. Visi tersebut sangat sederhana. Hanya sebuah kalimat yang berbunyi “Indonesia untuk Indonesia”.
Pengejawantahan dari visi tersebut pun sesederhana visi tersebut. Apa pun yang berasal dari Indonesia harus untuk Indonesia. Kita punya minyak bumi yang disedot dari perut bumi Indonesia maka minyak bumi tersebut harus untuk Indonesia. Adalah tidak pada tempatnya menjual semua produk olahan minyak bumi di Indonesia dengan harga internasional. Jangan membandingkan dengan Singapura yang tidak memiliki tambang minyak. Kita harus mampu menambang dan mengolah minyak bumi kita sendiri. Bukannya mengekspor mentah-mentah minyak dari perut bumi kita yang konon merupakan jenis minyak yang mutunya kualitas terbaik lalu membeli minyak setengah matang untuk dipisah-pisah menjadi berbagai macam produk bahan bakar dan produk olahan lainnya. Tidak pada tempatnya pula PLN kita kesulitan pasokan batubara karena bumi kita kaya akan batubara. Tidak pada tempatnya pula harga minyak goreng kita dipaksa mengikuti harga internasional karena kita memiliki kebun sawit yang mampu mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri kita.
Pengejawantahan kedua dari visi itu adalah mencintai produksi dalam negeri. Sungguh mengherankan, sebagai negara agraris penghasil buah-buahan tetapi negeri kita dibanjiri buah-buahan yang berasal dari luar negeri. Jumlah impor buah kita pertahunnya mencapai USD 290 juta. Buah-buahan yang diimpor itu, sayangnya, bukan buah yang memang tidak tersedia di Indonesia. Banyak buah yang diproduksi oleh petani kita ini tidak laku karena dibanjiri produk identik dari negara lain. Praktek impor yang membunuh petani dalam negeri seperti itu harus dikoreksi. Kita harus makmur bersama. Bukan sebagian makmur meninggalkan yang lainnya. Masih di sektor yang sama, petani gula kita menjerit karena Departemen Perdagangan kita mengijinkan impor gula yang membunuh produsen tebu nasional. Impor tentu saja diperbolehkan apabila tujuannya adalah untuk menutup kekurangan produksi. Akan tetapi, impor yang membunuh produsen dalam negeri tidak boleh diteruskan.
Penerapan Indonesia untuk Indonesia yang lain adalah penghapusan diskriminasi di Indonesia. Semua warga negara bersamaan kedudukannya di muka hukum. Kita tidak boleh mempersulit warga negara dari etnis atau agama/kepercayaan tertentu untuk mendapatkan hak-haknya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Semua warga negara adalah orang Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, semuanya sederajad.
Turunan dari hal di atas adalah keharusan negara untuk melindungi warga negara Indonesia di mana pun berada. Saya sangat menyayangkan negara yang acuh tak acuh terhadap nasib para pekerja migran kita yang acapkali teraniaya di luar negeri. Di satu sisi, pemerintah mengijinkan pengiriman TKI untuk bekerja di sektor-sektor informal sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak atau perawat jompo tetapi pemerintah malas memberi mereka perlindungan hukum yang sepantasnya. Kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja di dalam negeri dibayar dengan mengijinkan wanita-wanita kita direndahkan martabatnya dengan menjadi pembantu rumah tangga atau pekerja di lapangan kerja berpendidikan rendah dan berketerampilan rendah. Saya sendiri berpandangan bahwa pengiriman TKI sebagai pembantu rumah tangga atau yang sederajad harus dihentikan. Di luar negeri tersedia lapangan kerja di sektor yang lebih baik, misalnya sebagai perawat di rumah sakit atau hospitality industri yang lain. Pada sektor seperti itu atau yang lebih tinggi kita kirimkan TKI kita sehingga para TKI kita di negara tujuan kerja juga diperlakukan dengan baik dan bermartabat.
Indonesia harus untuk Indonesia, bukan untuk yang lainnya. Sesederhana itu visi saya tetapi yakinlah, saya sangat membenci mereka yang mengobral aset bangsa ke kapitalis-kapitalis global tanpa memikirkan kerugian jangka panjang yang akan ditanggung oleh bangsa ini.
Kita harus berani menegakkan kepala. Ke depan, kita harus percaya diri untuk menolak segala tekanan dari luar demi martabat kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus bertekad untuk bekerja keras mewujudkan kemandirian bangsa. Tekad itu, tentu saja ada di dalam Gerakan Indonesia Raya.
Rachel Maryam Caleg Partai Gerindra Nomor 1 Dari Jabar II
August 26, 2008
Mungkin teman-teman ada yang sudah tahu maupun belum tahu bahwa Rachel Maryam diajukan oleh Partai Gerindra sebagai caleg dari daerah pemilihan Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Di dapil tersebut, Rachel Maryam menempati nomor urut 1.
Tentu teman-teman semua juga sudah banyak mendengar cibiran dari sementara kalangan mengenai artis yang menjadi caleg. Ada yang mengatakan bahwa artis mungkin saja populer di mata publik tetapi belum tentu memiliki kapasitas sebagai calon legislator. Menanggapi hal tersebut, Rachel Maryam mengatakan bahwa alasannya menerima tawaran sebagai caleg adalah untuk memberikan ide, pemikiran dan warna baru di legislatif.
“Alasan saya untuk menerima tawaran menjadi caleg, selain ingin ikut memberikan ide, pemikiran, dan warna baru di legislatif (dan itu tentunya sudah terdengar sangat klise sekali di telinga anda), menurut saya, tidak ada salahnya kalau ada perwakilan seniman yang duduk di legislatif.”
Rachel Maryam menuliskan hal tersbut di blognya pada posting berjudul “Saya dan pencalegan“.
Saya sendiri, terus terang, tidak ikut mencibir kepada selebritas yang dilamar maupun mendaftarkan diri sebagai caleg. Menurut saya, apa pun dapat dipelajari, termasuk segala hal yang berkaitan dengan proses legislasi. Selanjutnya, saya yakin bahwa apabila mau belajar, setiap orang pasti akan mampu juga memahami segala seluk beluk ketatanegaraan dan pemerintahan.
Kita tentu dapat berkaca pada pengalaman Sophan Sophiaan (almarhum), Komar, Dede Yusuf, Angelina Sondakh, dan beberapa artis lain yang telah berhasil duduk sebagai anggota DPR. Mereka pun dapat bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi mereka sebagai anggota DPR. Bahkan, kalau kita mau belajar keluar, di Amerika Serikat sudah ada bintang film yang menjadi presiden, yaitu Ronald Reagan. Bintang film yang menjadi gubernur juga ada, yaitu Arnold Schwarzeneger. Saat ini di Indonesia, Dede Yusuf sudah menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat dan Rano Karno menjadi Wakil Bupati Tangerang. Bukan tidak mungkin ke depan semakin banyak selebritas yang menjadi anggota DPR dan Kepala/Wakil Daerah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ada selebritas yang menjadi presiden.
Berbeda dari Rachel Maryam, sampai saat ini saya belum tahu dapat nomor berapa dari daerah pemilihan mana. Partainya sih sama, Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA)
Harga LPG Naik Lagi Rakyat Ditipu Lagi
August 25, 2008
Baru 1 Juli 2008 lalu harga LPG 12kg dinaikkan harganya oleh Pertamina dari Rp55000 menjadi Rp63000. Kini, mulai 25 Agustus 2008, harga LPG 12kg dinaikkan lagi bersamaan dengan dinaikkannya harga LPG 50kg.
Tidak cukup puas sampai di sana, Pertamina akan menaikkan harga LPG 12kg Rp500 setiap bulannya hingga mencapai harga keekonomian sebesar Rp11400.
Saya benar-benar geram dengan hal ini. Monopoli yang diberikan oleh negara kepada Pertamina tidak pernah membuat BUMN itu berjalan lurus dan mencapai efisiensi. Lihat saja, direksi dan seluruh pekerjanya hidup sejahtera sedangkan rakyat Indonesia selalu saja dibuat sengsara oleh ulahnya. Sengsara oleh harga BBM dan BBG yang dinaikkan terus.
Pertamina benar-benar harus diaudit secara menyeluruh. Kali ini bukan BPK atau BPKP yang harus ditugasi untuk mengaudit Pertamina melainkan harus digunakan auditor partikelir internasional yang bisa berlaku independen. Audit oleh BPK terbukti tidak mampu membongkar ketidakberesan yang selama ini menjadi isu yang terus diomongkan orang secara luas tetapi tidak pernah menjadi temuan BPK.
Isu mengenai Pertamina yang harus membeli minyak dari sebuah perusahaan tertentu — praktek di masa orde baru yang masih dilanjutkan di era SBY — harus dibongkar. Apabila memang benar seperti itu, semua pihak yang konon membuat Pertamina mendapatkan minyak USD10 lebih mahal dari harga minyak dunia harus dihukum seberat-beratnya. Praktek mereka merugikan negara dan hanya memperkaya diri.
Umur Pertamina sudah tua. Lebih tua dari Petronas. Akan tetapi, Petronas sudah menjadi sponsor F1 sedangkan Pertamina kerjanya hanya menyengsarakan rakyat. Kalau memang jajaran Pertamina tidak kompeten, ganti saja semua. Buat apa mereka digaji tinggi kalau tidak mampu menciptakan efisiensi di Pertamina? Buat apa Pertamina dipertahankan kalau tidak dapat memasak minyak dari perut bumi Indonesia sendiri?
Hadir Dalam Dua Kegiatan Donor Darah Dalam Sehari
August 25, 2008
Hari Minggu 24 Agustus 2008 kemarin saya betul-betul gembira karena dapat menghadiri dua kegiatan donor darah sekaligus. Ya, saya hadir dalam dua kegiatan donor darah sekaligus tetapi tentu saja, saya hanya mendonorkan darah sekali saja. Kedua kegiatan donor darah tersebut memang diselenggarakan pada waktu dan tempat yang sama oleh Ikastara Tangerang dan Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC). Saya sendiri merupakan Ketua Ikastara Tangerang. Di KBBC, saya berpartisipasi sebagai anggota. Koordinator KBBC-nya sendiri adalah Edy.
Alhamdulillah, pada kegiatan donor darah tersebut hadir 16 alumni SMA Taruna Nusantara Magelang yang berdomisili di seputar wilayah Tangerang dan Jakarta. Bahkan, ada dua orang yang dari luar kota yaitu dari Bandung dan Surabaya. Dari PP Ikastara hadir Sekretaris Jenderal dan Wakabid Humas. Sedangkan, anggota KBBC yang hadir pada donor darah kemarin adalah Edy, Ade, Payjo, Didit, Novi Munarianto dan saya sendiri.
Saya sengaja mengajak keluarga saya dalam kegiatan donor darah kemarin dengan tujuan untuk mengajarkan kepekaan dan kepedulian sosial kepada putri tunggal saya sejak dini. Dengan diajak serta dalam setiap kegiatan-kegiatan sosial sejak dini, kepekaan dan kepedulian sosialnya akan terasah sehingga ke depan dia tidak akan canggung lagi apabila akan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.
Jadwal donor darah selanjutnya adalah 30 November 2008. Saya mengharapkan akan lebih banyak lagi alumni SMA Taruna Nusantara Magelang dan anggota KBBC yang berpartisipasi.
Prabowo Subianto : Politik tidak Sekejam yang Dibayangkan
August 23, 2008
Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menilai politik tidak sekejam yang dibayangkan banyak orang, karena politik justru dapat menentukan kebijakan mengenai arah kehidupan rakyat menuju kemakmuran.
“Karena itu jangan sampai alergi terhadap politik. Hadirnya puluhan partai politik (Parpol) diharapkan menjadi wadah bagi para politisi yang jujur dan ikhlas mengabdi kepada rakyat,” ujarnya dalam pidato politik pelantikan pengurus DPD Partai Gerindra Bangka Belitung di Pangkalpinang, Sabtu (23/8).
Selain itu, katanya, tuntutan demokrasi mengharuskan munculnya banyak partai politik untuk memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya yang terbaik.
Menurut dia, politik dapat menentukan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sekolah,rumah sakit,perbaikan jalan,pelabuhan, lapangan terbang, polisi, tentara, PNS, listrik, air bersih, itu semua ditentukan oleh politik.
“Jadi, kalau kita ingin merubah kehidupan ke arah yang lebih baik maka harus berani dan tidak alergi dengan politik,karena politik tidak sekejam seperti yang kita bayangkan,”ujarnya.
Partai Gerindra,kata Prabowo yang didirikan dengan proses yang sangat cepat,hanya beberapa bulan, ingin muncul dengan citra,gaya dan warna tersendiri.Sehingga mampu menjadi alternatif dan harapan bagi rakyat untuk membawa perubahan di tengah bermunculannya puluah parpol baru. “Saya mengharapkan Gerindra menjadi partai yang bersih dan benar-benar ingin mengabdi kepada rakyat Indonesia dalam upaya memperbaiki kehidupan bangsa,”ujarnya.
Menurut Prabowo,rakyat akan kecewa dan semakin apatis apabila partai berdiri hanya menjadi wadah untuk kepentingan sekelompok orang. “Partai yang hanya menjadi wadah untuk mencari keuntungan pribadi, akan ditinggalkan dan dicemoohkan oleh rakyat.Apalagi rakyat saat ini tengah mengalami berbagai kesulitan di bidang ekonomi dan berharap parpol bisa menjadi harapan mengatasi hal tersebut,” ujarnya. (Mediaindonesia.com via Partai Gerindra)
Prabowo Kritik Pembangunan Ekonomi
August 23, 2008
Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto, menilai pembangunan perekonomian Indonesia hanya dinikmati segelintir masyarakat.
“Sistem ekonomi yang dibangun lebih menguntungkan kalangan pengusaha dan hanya segelintir masyarakat yang menikmatinya,” ujarnya saat menghadiri pelantikan pengurus DPD Partai Gerindra Provinsi Bangka Belitung di Pangkalpinang, Sabtu.
Menurut Prabowo, kalangan elit bangsa memberikan ruang gerak seluas-luasnya kepada kaum kapitalis untuk menjadi pelaku ekonomi yang hanya memikirkan kepentingan pribadi.
“Itulah salah satu penyebab kemiskinan dan kemelaratan yang melanda rakyat Indonesia, karena kapitalis sama sekali tidak peduli dengan rakyat,”ujarnya.
Ia menunjukkan contoh terjadinya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda para buruh, pendapatan di bawah ketentuan upah minimum provinsi (UMP) dan pengusaha yang mengabaikan keselamatan kerja buruhnya adalah bentuk bisnis kapitalis yang tidak berpihak pad kehidupan rakyat.
“Untuk itu,Gerindra bertekad menjadi wahana dan wadah politik baru yang menjadi harapan rakyat untuk membawa perubahan dan menentukan arah dan kebijakan ekonomi yang selama ini belum berpihak kepada rakyat kecil,”ujarnya.
Prabowo menambahkan,persoalan mendasar yang dialami bangsa ini adalah krisis ekonomi yang selalu melanda dan belum pulih hingga sekarang.
“Kondisi tersebut harus disikapi dengan tidak `memelihara` pengusaha yang menganut bisnis kapitalis,tetapi pengusaha yang memiliki jiwa nasionalisme yaitu bertekad membangun perekonomian bangsa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,”ujarnya. (Antara.co.id via Partai Gerindra)
Ketika Diperlukan Website KPU Tidak Dapat Diakses
August 20, 2008
Pukul 00:00 WIB tadi malam merupakan batas akhir pendaftaran calon legislatif bagi partai politik peserta pemilu 2009. Sebanyak 38 partai politik telah mendaftarkan calon legislatifnya ke KPU.
Rakyat Indonesia tentunya ingin mengetahui siapa saja yang didaftarkan oleh partai politik peserta pemilu sebagai calon legislatif karena rakyat ingin ikut menilai dan memverifikasi rekam jejak para caleg tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi KPU memberikan kepada kita kekecewaan. Setelah sebelumnya saya tulis bahwa wesbite KPU tidak lengkap, maka hari ini website KPU bahkan tidak dapat diakses sama sekali.
Gambar di atas adalah bukti bahwa website KPU tidak dapat diakses. Google memberi tanda bahwa website KPU offline. Ya, memang wesbite KPU tidak dapat diakses oleh para pengunjung. Saya sudah berkali-kali mencoba mengakses sampai saat ini, pukul 17:02 waktu komputer saya, website KPU masih belum dapat diakses.
Saya jadi bertanya-tanya mengenai kemampuan KPU untuk menyelenggarakan pemilu 2009. Apabila media penyampaian informasinya saja tidak lengkap dan bahkan tidak dapat diakses oleh masyarakat, bagaimana mungkin KPU akan dapat menyelenggarakan pemilu yang demikian rumit karena banyaknya partai dan luasnya wilayah Indonesia.
Mudah-mudahan KPU dapat segera melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada di website KPU dan segera mengganti penyedia layanan hostingnya apabila memang tidak dapat diandalkan. Apabila website KPU dihosting di server sendiri, sebaiknya diperiksa lagi akses internetnya apakah dapat diandalkan atau tidak. Website KPU adalah media informasi KPU yang harus selalu dapat diakses oleh publik. Sangat tidak pantas apabila website KPU tidak dapat diakses oleh masyarakat.
TANDEF dan ISCEL Persembahan Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang Bagi Indonesia
August 20, 2008
Pada 14 Juli 1990 yang lalu, 281 lulusan SMP dari seluruh nusantara dilantik menjadi siswa sebuah sekolah menengah berasrama yang dipersembahkan untuk bangsa dan negara. Sekolah itu bertempat di Desa Pirikan, di tepi Jalan Raya Magelang - Purworejo. Tidak tanggung-tanggung, pada upacara yang disebut Prasetya Siswa tersebut, Panglima ABRI saat itu Jenderal TNI Try Sutrisno yang bertindak selaku Inspektur Upacara.
Tidak terasa, sudah 18 tahun usia SMA Taruna Nusantara Magelang. Sampai saat ini, SMA Taruna Nusantara Magelang sudah meluluskan alumninya sebanyak 16 Angkatan dengan jumlah alumni sekitar 4000 orang. Alumni pertama yang lulus melalui Upacara Prasetya Alumni sebanyak 275 orang dari input sebanyak 281 orang. Alumni SMA Taruna Nusantara tersebar di seluruh bidang. Ada yang menjadi prajurit TNI, anggota kepolisian, PNS di berbagai departemen, karyawan swasta, wirausaha, peneliti, penulis buku, dll.
Di kancah nasional, alumni SMA Taruna Nusantara belum terdengar kiprahnya. Akan tetapi, sebenarnya mereka telah berkiprah di bidang masing-masing. Tengok saja Romi Satriawahono yang menjadi gerbong IlmuKomputer.Com sebagai contoh. Romi tidak pernah menonjol-nonjolkan dirinya sebagai alumnus SMA Taruna Nusantara sehingga dia tidak dikenal sebagai alumnus SMA Taruna Nusantara Magelang oleh khalayak. Saya sendiri mengenal pribadi Romi yang memang selalu rendah hati dengan tingkat kepakaran yang dimilikinya.
Contoh kedua adalah Dr. T. Faisal Fathani, ahli Teknik Sipil dari Universitas Gadjah Mada yang bersama rekan-rekannya telah membuat alat deteksi tanah longsor yang kemudian dijiplak idenya, dibuat alat deteksi versi digital dan dipatenkan oleh ilmuwan Jepang. Dr. T. Faisal Fathani adalah juga alumnus SMA Taruna Nusantara Magelang. Tentu saat ini Dr. T. Faisal Fathani lebih dikenal sebagai orang UGM daripada alumni SMA Taruna Nusantara Magelang.
Saya sendiri berpendapat bahwa alumni SMA Taruna Nusantara Magelang harus mulai menunjukkan eksistensinya di percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendapat tersebut saya dasarkan pada pemikiran bahwa masyarakat harus diberi informasi mengenai kiprah alumni SMA Taruna Nusantara yang oleh pendirinya, almarhum Bapak LB Moerdani pada prasastinya dituliskan ” Dipersembahkan Bagi Bangsa dan Negara”. Dua contoh di atas hanya merupakan bagian kecil dari kiprah alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Masih banyak prestasi lain yang dipersembahkan oleh alumni SMA Taruna Nusantara baik yang berada di dalam lingkaran kepegawaian negara maupun bukan. Misalnya, di KPK, terdapat beberapa alumni SMA Taruna Nusantara baik yang berprofesi sebagai penyidik maupun bukan. Di Departemen Keuangan, alumni SMA Taruna Nusantara tersebar baik di Bea Cukai, Pajak, maupun Perbendaharaan Negara. Di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, ada alumni yang menjadi pegawai Imigrasi. Di Departemen Luar Negeri, ada alumni SMA Taruna Nusantara Magelang yang menjadi Diplomat di San Fransisco, Amerika Serikat. Diplomat muda tersebut bernaka Khasan Ashari.
Guna mewujudkan janji untuk memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia, alumni SMA Taruna Nusantara Magelang mempersembahkan dua lembaga kajian bagi bangsa Indonesia. Lembaga pertama bergerak dalam pemantauan pemilu. Lembaga ini diberi nama ISCEL, kependekan dari Indonesian Society for Civilized Election, dimotori oleh Ari Juliano Gema, seorang pengacara muda alumni SMA Taruna Nusantara. Lembaga kedua bergerak dalam kajian pertahanan nasional. Lembaga ini diberi nama TANDEF, kependekan dari Think & Act for National Defense. TANDEF dimotori oleh Khairil Azmi, alumnus angkatan ke-4 SMA Taruna Nusantara Magelang. Sebagai lulusan angkatan pertama, saya diminta oleh Direktur Eksekutif TANDEF — Khairil Azmi — untuk menjadi anggota Dewan Penasehat Reguler.
Saya memimpikan bahwa sebentar lagi akan keluar sebuah lembaga kajian ekonomi, lembaga kajian pertanian, lembaga kajian maritim, lembaga kajian pemerintahan daerah, dan lain-lain yang diprakarsai oleh alumni SMA Taruna Nusantara Magelang.
Semoga.
Prabowo Subianto: Kader Partai Gerindra Dilarang Korupsi
August 17, 2008
Pada pidatonya dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerderkaan Republik Indonesia di hadapan para pimpinan dan kader Partai Gerindra di Karanggan, Bogor, menyatakan bahwa kader Partai Gerindra diharamkan untuk melakukan korupsi.
Menurut pemaparan beliau, Partai Gerindra berniat menyelamatkan bangsa. Oleh karena itu, segala praktek tidak baik yang telah dilakukan oleh orang lain selama ini tidak boleh dilakukan oleh kader Partai Gerindra. Bagaimana mungkin Partai Gerindra akan menyelamatkan bangsa apabila perilakunya tidak berbeda dengan mereka yang merugikan bangsa?
Pada kesempatan tersebut Pak Prabowo Subianto juga memperkenalkan Ibu Armin Arjoso, mantan Kepala BKKBN, yang telah bergabung dengan Partai Gerindrta dan akan berjuang di wilayah Jawa Tengah. Pak Prabowo mengatakan bahwa selama sepuluh tahun ini program KB telah dilupakan sehingga akibatnya, Indonesia akan menghadapi ledakan penduduk. Partai Gerindra akan kembali memperhatikan dan menggalakkan program KB agar pertumbuhan penduduk Indonesia dapat dikendalikan.
Selain itu, Pak Prabowo juga mengingatkan bahwa bangsa kita harus bangkit dan mandiri. Kita harus malu menjadi bangsa pengutang. “Apakah para pendiri bangsa dulu berjuang agar kita menjadi bangsa peminjam?” Seluruh hadirin menjawab serentak, “TIDAAAAKKKK!!!!”
–*–
Moh Arif Widarto melaporkan langsung dari Nusantara Polo Club, Karanggan, Bogor.
Perayaan Kemerdekaan Indonesia Sebagai Momentum Untuk Memiliki Harapan Baru, Haluan Baru dan Pemimpin Baru
August 17, 2008
Pada 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia yang diwakili oleh Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaannya. Pada naskah proklamasi kemerdekaan tidak dinyatakan merdeka dari apa. Akan tetapi, Bangsa Indonesia sudah tahu bahwa mereka merdeka dari penjajahan asing.
Proklamasi Kemerdekaan adalah deklarasi untuk mengatur nasib sendiri. Sudah tiga abad Bangsa Indonesia dijajah oleh sebuah kongsi dagang bernama VOC yang dilanjutkan dengan pendudukan oleh tentara Jepang. Bangsa Indonesia sudah lelah ditindas oleh bangsa lain dan ingin bebas merdeka untuk mengatur diri sendiri.
Pada saat itu, seluruh warga bangsa bersatu dalam pikiran yang sama bahwa apabila merdeka, Bangsa Indonesia akan dapat mewujudkan kesejahteraan yang tidak pernah didapat selama dijajah oleh VOC dan diduduki oleh Jepang. Para pendiri bangsa telah merumuskan tujuan negara ini yaitu: (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sungguh merupakan cita-cita yang sangat luhur dan mulia.
Para pendahulu kita menginginkan agar negara dapat melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Seluruh bangsa Indonesia dapat diartikan sebagai warga negara ini. Negara berhak melindunginya di mana pun warga negara berada selama dia masih memegang paspor Republik Indonesia. Oleh karena itu, melindungi Tenaga Kerja Indonesia yang berada di luar negeri adalah merupakan kewajiban bagi negara. Sayangnya, apabila negara lain terlihat sangat gigih dalam membela warga negaranya yang ada di luar negeri, negara kita justru setengah hati dalam melindungi warga negaranya yang menjadi TKI di Timur Tengah dan Malaysia. Banyak kasus TKI kita dianiaya di luar negeri yang tidak dilindungi dan dibela secara maksimal oleh negara.
Sedangkan, melindungi seluruh tumpah darah Indonesia berarti melindungi setiap jengkal wilayah negara ini. Coba lihat yang terjadi dengan Sipadan dan Ligitan, negara nampak kurang maksimal dalam melaksanakan setiap usaha untuk mempertahankannya.
Memajukan kesejahteraan umum dapat diartikan sebagai meningkatkan kesejahteraan seluruh warga, baik secara ekonomi maupun sosial. Negara harus mampu melakukan pemerataan pendapatan seluruh warga negaranya. Kesenjangan ekonomi dan sosial yang sangat lebar tidak boleh terjadi. Demikian pula penguasaan sumber-sumber ekonomi, harus dapat dismakan peluangnya bagi seluruh warga negara. Kekayaan alam yang terkandung di bumi Indonesia harus dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan untuk dikuasai oleh asing dan hanya memakmurkan sebagian pejabat salah urus dan cukongnya
Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa, kita dapat mengartikan bahwa negara ini wajib menyediakan sarana pendidikan yang berkualitas tinggi dan tersebar di seluruh nusantara. Bahkan, sudah selayaknya negara membebaskan rakyat dari biaya pendidikan pada semua jenjang pendidikan dasar.
Selain tiga hal di atas, kita juga memiliki tujuan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ketertiban yang seperti apa? Yaitu ketertiban yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Makanya, sudah menjadi kewajiban negara untuk selalu terlibat aktif dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia sudah aktif mengirimkan pasukan penjaga perdamaian di bawah bendera PBB. Selain itu, Indonesia juga pernah aktif membantu meredakan konflik di Kamboja dan Moro. Dari sisi itu, Indonesia memiliki nilai yang positif pada tujuan negara yang keempat ini. Namun, ada satu faktor utama yang saat ini dirasakan mulai berkurang, yaitu ketahanan negara kita sendiri. Ketahanan ekonomi, pangan, dan energi kita mulai melemah. Di sisi lain, kekuatan pertahanan organik kita, yaitu TNI, juga tidak didukung dengan alutsista yang memadai untuk menjaga wilayah negara yang sangat luas. Akibatnya, negara tetangga kita tidak lagi menyegani kekuatan pertahanan kita. Padahal, kekuatan pertahanan kita sangat diperlukan dalam upaya ikut menjaga ketertiban dunia itu. Kita harus mengembalikan wibawa bangsa kita di atas pentas dunia.
Untuk menjawab semua hal di atas, terutama untuk mewujudkan seluruh tujuan negara yang telah diamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, saya ingin berbagi harapan baru untuk mewujudkan Indonesia yang jaya melalui haluan baru dan pemimpin baru. Ketiga hal tersebut, harapan baru, haluan baru dan pemimpin baru terdapat dalam Gerakan Indonesia Raya. Marilah bergabung bersama saya dalam gerakan tersebut.


