14 Juli 1990
July 14, 2008
Pagi hari itu, Sabtu 14 Juli 1990, saya menjadi bagian dari 281 anak Indonesia yang berasal dari seluruh penjuru nusantara (27 provinsi waktu itu) yang dilantik menjadi siswa SMA Taruna Nusantara Magelang melalui sebuah Upacara Prasetya Siswa. Upacara dipimpin oleh Panglima ABRI waktu itu, Jenderal TNI Try Sutrisno.
Perasaan saya waktu itu bercampur aduk. Saya sangat gembira karena hari-hari yang melelahkan selama proses seleksi untuk menjadi siswa SMA Taruna Nusantara telah berhasil saya lalui dengan baik. Saya sangat mengingat momen-momen seleksi itu. Yang pertama adalah seleksi administrasi yang dilakukan di Kodim Sleman. Saya harus mengambil berkas administrasi pendaftaran lalu mengisinya dan melengkapi semua persyaratan yang ada. Ada fotokopi rapor SMP dari semester 1 sampai semester 5, ada Surat Ijin Orang Tua, SKKB, Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas. Saya mencari sendiri semua yang saya butuhkan, mulai dari RT, RW, Dukuh, Lurah, Kecamatan, Koramil, Polsek, Polres untuk SKKB. Ke Puskesmas untuk periksa kesehatan. Lalu, saya mengembalikan berkas administrasi pendaftaran itu ke Kodim seorang diri tanpa disertai oleh orang tua. Di sana ada pemeriksaan gigi oleh dokter gigi muda yang cantik. Setelah itu, yang perlu saya lakukan hanyalah menunggu surat panggilan dari Kodim. Kalau lulus seleksi administrasi, saya akan dikirimi surat panggilan.
Alhamdulillah saya mendapat surat panggilan ke Kodim. Saya tidak ingat ada berapa anak dari Kodim Sleman yang dikirim ke seleksi berikutnya di Panitia Daerah XI Yogyakarta yang pelaksanaan seleksinya dilakukan di Pangkalan Udara Adi Sucipto. Yang saya ingat, dari SMP1 Sleman ada tiga siswa yang mendaftar yaitu Aris Budiman, Muhammad Agus Widodo dan saya sendiri. Kami bertiga lolos ke seleksi di Panda XI. Di antara kami bertiga, sayalah yang memiliki NEM paling rendah
Di Panda inilah semua seleksi inti dilakukan. Ada bermacam-macam tes yang dilakukan, antara lain: (1) tes akademik, (2) tes kreativitas verbal, (3) tes psikologi, (4) tes kesehatan (tes darah, gigi, jantung, paru-paru, varises, wasir, perikokel, mata), (5) tes postur tubuh, dan (6) tes kesamaptaan jasmani (lari 12 menit keliling lapangan sepakbola, push up, sit up, pull up, squat jump, lari angka 8 dan renang). Ada sistem gugur yang diterapkan pada tes kesehatan dan tes akademik. Saya benar-benar terkejut menyaksikan para lulusan SMP yang berasal dari seluruh wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka adalah anak-anak cemerlang yang pandai-pandai. Selain itu, postur tubuh mereka besar dan gagah, tidak seperti saya yang kecil waktu itu. Namun, dengan modal bismillah, saya tetap percaya diri mengikuti semua seleksi. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil mencapai tahap pantukhir yang dilaksanakan seperti tes pendadaran. Kami peserta pantukhir maju empat-empat di hadapan para penguji dan melaksanakan wawancara serta menunjukkan keterampilan kami masing-masing. Hasil akhirnya, tentu saja saya lolos untuk dikirim ke Magelang. Sedangkan, kedua teman saya gagal dalam seleksi di Panda.
Di Magelang, tes yang dilakukan adalah tes kesehatan (hanya tes darah) dan wawancara dengan Dewan Penguji. Kalau di Panda pada saat pantukhir kami maju empat-empat, di Magelang kami diwawancara sendiri-sendiri dengan jumlah penguji tiga orang. Wow… Dagdigdug rasanya ketika menunggu giliran.
Hasil akhir dari seleksi di Magelang tentu sudah Sampeyan ketahui bersama. Saya lulus seleksi dan pada 14 Juli 1990 itu saya ikut menjadi peserta upacara.
Perasaan kedua yang saya alami waktu itu adalah rasa khawatir. Saya khawatir menghadapi kehidupan sekolah berasrama penuh yang baru akan saya jalani. Sistem pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang yang menekankan kedisiplinan tinggi ala militer walaupun tidak seperti militer penuh membuat saya khawatir apa akan bisa menghadapi. Saat itu kami adalah anak-anak baru lulus SMP yang akan menjadi siswa angkatan pertama. Kami belum bisa mendengar cerita mengenai kehidupan sekolah dan asrama di sekolah tersebut karena kami sendirilah yang harus membuat cerita itu.
Perasaan ketiga adalah rasa bangga. Saya bangga karena berhasil melalui proses seleksi yang panjang dan melelahkan. Saya ingat saat seleksi di Panda saya harus naik bis jurusan Semarang - Yogya setiap hari dari Medari ke Terminal Umbulharjo lalu dari terminal Umbulharjo naik bus Koperasi Pemuda untuk turun di Lanud Adisucipto. Saya ingat saat mengikuti seleksi itu saya tidak mengikuti acara perpisahan SMP yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman karena saya harus mengikuti pantukhir di Panda XI Yogyakarta. Tentunya merupakan sebuah kebanggaan bagi saya sendiri dan bagi keluarga saya. Dan tanpa sedikit pun rasa sombong, saya pun merasa saya boleh berbangga diri.
Perasaan ketiga yang saya hadapi waktu itu adalah rasa capai berdiri. Bayangkan saja, sejak upacara dimulai sampai berakhir, kami semua para peserta Upacara Prasetya Siswa berdiri dalam sikap sempurna. Jenderal TNI Try Sutrisno tidak memerintahkan Komandan Upacara untuk mengistirahatkan barisan pada saat memberikan amanat upacara. Pada upacara umumnya, barisan diistirahatkan saat amanat upacara. Akan tetapi, hari itu Jenderal TNI Try Sutrisno tidak meminta Komandan Upacara mengistirahatkan barisan. Saya sempat mengira bahwa Pak Try lupa. Akan tetapi, menjelang akhir amanatnya, Pak Try mengatakan bahwa beliau sengaja tidak memerintahkan barisan diistirahatkan. Beliau sekalian menguji ketahanan kami dan menurut beliau waktu itu, beliau bangga karena kami berhasil menghadapi ujian dari beliau. Baiklah, Pak Try, terimakasih. Akan tetapi, terus-terang saya capai luar biasa karena berdiri itu. Kaki saya sangat pegal dan sakit harus menahan beban tubuh saya yang mulai bertambah gemuk karena makan teratur 3 kali sehari selama tes di Magelang
Saudara-saudara sekalian, itu adalah 18 tahun yang lalu. Tidak terasa, SMA Taruna Nusantara Magelang sudah berusia 18 tahun. Apabila diibaratkan anak Indonesia, 18 tahun adalah usia lulus SMA dan siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi, di usia yang seharusnya semakin matang, bukannya peningkatan prestasi yang kami dengar dari SMA Taruna Nusantara melainkan desas-desus penurunan prestasi. Berita menyedihkan paling anyar yang kami terima adalah rata-rata hasil UN tahun 2008 ini SMA Taruna Nusantara hanya menduduki urutan ke-29 di Jawa Tengah. Saya benar-benar sedih. Kalau di Jawa Tengah saja urutan ke-29, bagaimana di tingkat nasional?
Penurunan prestasi SMA Taruna Nusantara dipercaya mulai terjadi sejak SMA Taruna Nusantara berpindah dari sistem beasiswa penuh menjadi sistem berbayar. Sejak krisis moneter yang dilanjutkan dengan krisis ekonomi (bahkan krisis multidimensi) menerpa Indonesia, banyak donatur yang mengalami kesulitan keuangan. Akibatnya, mereka menghentikan donasi mereka untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan berbeasiswa penuh di SMA Taruna Nusantara. Nah, untuk tetap eksis, SMA Taruna Nusantara mengubah kebijakannya menjadi sekolah berbayar.
Sistem berbayar ditengarai menjadi penyebab menurunnya prestasi karena para orang tua siswa yang tergabung dalam Komite Sekolah mulai mencampuri kebijakan-kebijakan dan peraturan sekolah. Peraturan Kehidupan Siswa ditengarai telah semakin melunak akibat campur tangan orang tua yang memiliki anak-anak manja yang disekolahkan di SMA Taruna Nusantara Magelang. Selain itu, karena berbayar, pihak LPTTN nampaknya tidak bisa menjaga kualitas input yang baik demi mengejar penerimaan dana. Ini masih menjadi desas-desus yang menyebar luas di kalangan alumni. Saya tuliskan di sini agar masyarakat luas juga turut mengerti adanya desas-desus tersebut. Kalau desas-desus tersebut salah, bukti yang bisa diminta adalah prestasi SMA Taruna Nusantara sendiri. Apabila prestasinya meningkat atau tetap, berarti desas-desus tersebut salah. Apabila prestasi SMA Taruna Nusantara makin menurun, ada kemungkinan desas desus tersebut benar.
Saya sendiri menganggap, jati diri dan identitas SMA Taruna Nusantara sebagai sekolah bersistem semi militer dengan kurikulum khususnya tidak boleh dikalahkan oleh permintaan orang tua siswa –yang memiliki anak-anak manja — yang tergabung dalam Komite Sekolah. LPTTN sebagai lembaga yang memiliki SMA Taruna Nusantara harus tegas. SMA Taruna Nusantara harus tegas dan mengatakan bahwa sistem pendidikan di SMA Taruna Nusantara adalah A, semua orang tua yang mendaftarkan anaknya masuk SMA Taruna Nusantara Magelang harus menandatangani surat pernyataan bahwa mereka memahami dan menerima semua peraturan yang diterapkan di SMA Taruna Nusantara Magelang. Ibaratnya mau memasukkan anak ke pesantren, orang tua harus mempercayakan pendidikan anaknya ke pesantren. Tidak ada contohnya orang tua santri mendatangi kyai-kyai pengurus pesantren agar peraturan-peraturan di pesantren dapat disesuaikan dengan keinginan santri atau orang tua santri. Sayangnya, yang seperti itu terjadi di SMA Taruna Nusantara Magelang. Deteriorasi terhadap kualitas SMA Taruna Nusantara terjadi. Kualitas input menurun, kualitas output juga makin menurun. Sampai saat ini, para pamong pengajar pengasuh di SMA Taruna Nusantara Magelang masih menjadi bulan-bulanan Kanwil dan Kandep Diknas karena pernah ada siswa SMA Taruna Nusantara Magelang yang tidak lulus Ujian Nasional. Sungguh menyedihkan karena walaupun pada UN 2008 seluruh siswa SMA Taruna Nusantara lulus, namun secara rata-rata di Jawa Tengah hanya menduduki urutan ke-29.
LPTTN harus dilikuidasi
Sebagai informasi, SMA Taruna Nusantara dimiliki oleh Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN) yang merupakan lembaga bentukan dari dua yayasan, yaitu Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman (YKPBS, milik Departemen Pertahanan) dan Yayasan Taman Siswa. LPTTN ada karena ada YKPBS dan Yayasan Taman Siswa yang bekerja sama. Itu poin pertama.
Poin kedua, sudah lama Yayasan Taman Siswa tidak aktif lagi di LPTTN. Hal itu ditandai dengan semakin habisnya pamong pengajar pengasuh SMA Taruna Nusantara dari unsur Taman Siswa.
Poin ketiga, sejak keluarnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, selayaknya semua sekolah dikembalikan ke Departemen Pendidikan Nasional. Departemen teknis tidak boleh lagi membuat sekolah dan menyelenggarakan pendidikan sendiri. Hal ini menurut saya sangat tepat. Lihatlah banyaknya departemen teknis yang memiliki sekolah sendiri. Lihat pula kesemrawutan adanya madrasah yang dimiliki oleh Departemen Agama. Bukankah madrasah itu artinya sekolah juga? Kalau begitu, mengapa madrasah di bawah Depag sedangkan sekolah di bawah Depdiknas?
Poin keempat. Departemen Pertahanan telah menyederhanakan yayasan-yayasan yang dimilikinya. Semua yayasan di bidang kesejahteraan anggota TNI telah dilebur menjadi satu dalam sebuah yayasan yang bernama Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan (CMIIW). Tidak ada lagi YKPBS atau yayasan-yayasan lain yang menaungi sekolah. Semua dilebur dalam YKPP.
Melihat poin-poin di atas, terutama poin pertama, kedua dan keempat, saya memandang perlunya Departemen Pertahanan melikuidasi LPTTN. Saya menganggap LPTTN hanya menjadi sebuah meja yang tidak perlu. LPTTN hanya menjadi sumber inefisiensi dalam menyelenggarakan SMA Taruna Nusantara.
Mari kita analisis.
Adanya LPTTN karena YKPBS dan Yayasan Taman Siswa bekerja sama. Semangatnya di sini adalah ada dua yayasan independen yang belerja sama. LPTTN diperlukan dalam kondisi ini. Isi LPTTN adalah wakil-wakil dari YKPBS dan Yayasan Taman Siswa.
YKPBS + YTS = LPTTN
LPTTN => SMATN
Sekarang, Taman Siswa sudah tidak ikutan di LPTTN (ini masih perlu pembuktian dengan melihat isi LPTTN apakah ada orang Taman Siswa atau tidak). YKPBS sudah tidak ada karena dilebur menjadi YKPP. Dalam penerapan manajemen yang baik, YKPP langsung mengelola SMATN. Faktanya, YKPP masih memiliki LPTTN untuk mengelola SMATN.
YKPP => LPTTN => SMATN
Di mata saya, LPTTN adalah sebuah meja yang tidak saya perlukan karena justru menghalangi saya untuk mengelola langsung SMATN. Meja itu, dari kacamata manajemen adalah sumber inefisiensi.
Yang perlu diketahui lagi, penentu kelulusan semua calon siswa adalah LPTTN. SMATN hanya menerima calon siswa yang dikirim oleh LPTTN. Hal ini sangatlah lucu. Mari kita lihat sekolah swasta lain sebagai pembanding. Lihatlah Sekolah Pelita Harapan yang dimiliki oleh Yayasan Pelita Harapan. Seleksi siswa SPH dilakukan oleh SPH sendiri. Yayasan Pelita Harapan tidak ikut campur pada tahap ini. Yang kedua, SMA Islamic Village yang dimiliki Yayasan Islamic Center. Yayasan Islamic Center tidak ikut cawe-cawe dalam penyelenggaraan seleksi. Nah, tengoklah LPTTN, lembaga ini adalah penyelenggara seleksi bagi calon siswa SMA Taruna Nusantara.
Memang seleksi SMA Taruna Nusantara dilaksanakan secara nasional dengan memanfaatkan fasilitas militer (Korem-korem di seluruh Indonesia). Akan tetapi, saya melihat seharusnya pihak SMATN yang melakukan penyeleksian secara akademik, bukan LPTTN. Bahkan, biaya yang harus dikenakan kepada orang tua siswa sebaiknya diinformasikan secara terbuka kepada masyarakat luas dengan prinsip kesetaraan. Artinya, penyumbang lebih tidak lantas memiliki suara paling keras untuk memengaruhi kebijakan di SMA Taruna Nusantara.
Saya percaya bahwa Departemen Pertahanan mampu melihat persoaalan ini dengan lebih baik. Apabila memang Yayasan Taman Siswa sudah tidak turut di LPTTN dan YKPBS sudah dilebur ke dalam YKPP, demi efisiensi dan perbaikan kualitas SMA Taruna Nusantara, sebaiknya LPTTN dilikuidasi. Rekrutlah orang-orang baru yang memiliki idealisme dan dedikasi untuk mengurusi SMA Taruna Nusantara, bukan mereka yang tidak mampu menegakkan kebanggaan SMA Taruna Nusantara Magelang.
4 Tanggapan to “14 Juli 1990”
Bagaimana pendapat Anda?












saloot dah
pak prestasi yang patut
di banggakan
dan
membagakan
Senang ya bisa sekolah di SMA TN. Kebanggaan yang sulit untuk dilunturkan.
dulu waktu saya di bangku SMP, saya mengimpikan ingin masuk SMA Taruna Nusantara. tapi, ternyata melihat syarat2nya cukup banyak dan selektif. ya, akhirnya cuma mimpi aja mengidamkan masuk sekolah itu. tak apalah, bersyukur akhirnya masuk SMA negeri yang dekat dengan rumah.
[...] karenanya, seleksi untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara yang saya ceritakan pada tulisan berjudul 14 Juli 1990 melingkupi semua aspek [...]