Partai Gerakan Indonesia Raya

Teka-teki Penjualan Indosat Ke Temasek

June 9, 2008

Temasek melecehkan hukum Indonesia dengan menjual seluruh sahamnya ke Qatar Telecom padahal Temasek masih menghadapi proses hukum mengenai status kepemilikan saham Temasek di Telkomsel dan Indosat. Penjualan saham Indosat dihentikan dan Bapepam - LK diminta menyelidiki penjualan saham Indosat oleh STT karena penjualan itu manipulatif.

Ini adalah buntut ketidakmengertian Menteri BUMN waktu itu, Laksamana Sukardi, yang mengobral aset negara kepada asing mengenai pentingnya mempertahankan aset-aset strategis milik negara. Saya tetap heran, bagaimana seseorang yang mengaku nasionalis dan bergabung dalam sebuah partai yang juga berideologi nasionalis (PDI-P) bisa mengobral aset negara tanpa perasaan bersalah. Ketua Umum PDI-P yang juga presiden pada saat Indosat dilego juga diam saja. Sampai saat ini pun tak terdengar komentarnya mengenai pengobralan aset negara tersebut. Mestinya, partai yang mengaku nasionalis berisi orang-orang yang meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan yang lain. Namun, yang diperlihatkan justru sebaliknya, mementingkan pihak asing untuk menguasai aset strategis negara.

Sebagian dari kita tentu masih ingat bahwa dulu Laksamana Sukardi memiliki website dengan alamat Laksamana.net. Setahu saya, Laksamana Sukardi tidak mengeluarkan uang sepeserpun dalam hosting Laksamana.Net. Laksamana.Net dihosting di InfoAsia dan diberikan secara gratis oleh pemilik InfoAsia. Pemilik InfoAsia belakangan terlibat kasus VOIP yang merugikan negara. Bersama seorang direktrisnya, pemilik InfoAsia kabur ke Singapura.

Pemilik InfoAsia disinyalir dekat dengan pemilik Temasek. Laksamana Sukardi dekat dengan pemilik InfoAsia dan bahkan Laksamana.Net pernah dihosting secara gratis di InfoAsia.net. Sebenarnya, mudah untuk mengurai simpul-simpul penjualan Indosat kepada Temasek dengan merunut kedekatan Laksamana Sukardi dengan pemilik InfoAsia itu.

Selain Laksamana Sukardi, yang dekat dengan pemilik InfoAsia adalah Dorodjatun Kuncorojakti. Profesor Ekonomi yang menjadi Menko Perekonomian pada saat Laksamana Sukardi menjadi menteri BUMN ini sering hadir dalam acara-acara yang diadakan oleh InfoAsia baik di hotel Sari Pan Pasifik maupun hotel-hotel lainnya.

Olala… Menko Perekonomian dekat dengan Pemilik InfoAsia. Menteri BUMN dekat dengan pemilik InfoAsia. Pemilik InfoAsia dekat dengan pemilik Temasek. Apakah ini menjadi teka-teki baru atau justru memperkuat dugaan mengenai agen-agen asing dalam tubuh pemerintahan? Saya tidak menuduh Laksamana Sukardi sebagai agen asing. Silakan simpulkan sendiri dengan fakta-fakta yang saya informasikan di atas.

Saya sampai saat ini terus saja geram pada ulah Laksamana Sukardi ketika menjadi Menteri BUMN. Saya kira, pembantu presiden pun seharusnya bisa dimajukan ke pengadilan kalau terbukti mengeluarkan kebijakan yang merugikan negara. Konteks merugikan negara tidak harus selalu berarti kerugian finansial. Ada banyak sekali bentuk kerugian negara yang tidak dapat dinilai secara finansial. Misalnya, hilangnya kedaulatan bangsa atas akses komunikasi nasional.

Saat ini Laksamana Sukardi bergabung bersama Roy BB Janis dkk di Partai Demokrasi Pembaruan. Masih partai berideologi nasionalis juga. Huh!

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

4 Tanggapan to “Teka-teki Penjualan Indosat Ke Temasek”

  1. iman brotoseno on June 9th, 2008 8:56 am

    untung besar tuh Temasek, beli cuma 5,7 trilyun , dalam 5 tahun udah dapet 18 trilyun..
    hebat hebat

  2. Nayantaka on June 9th, 2008 2:47 pm

    Dulu waktu jual, RI-1 dapet jatah berapa ya?

  3. my life is yummy… » ISAT pada Qtel on June 10th, 2008 9:00 pm

    [...] Laks. Kebetulan juga, si pemilik hosting dikenal cukup dekat dengan Temasek. Ah mungkin hanya kebetulan… Sekarang, saat SBY berkeputusan menaikkan harga BBM untuk memperbaiki ekonomi rakyat, [...]

  4. adeska on June 11th, 2008 2:46 am

    Oalah!!! mau jadi apa bangsa ini :( masing-masing mikir perutnya sendiri, nurani dibunuh mati. hiikkss…..

Bagaimana pendapat Anda?