Jagat Jawa
June 15, 2008
Jagat Jawa adalah halaman khusus Bahasa Jawa yang disediakan oleh surat kabar lokal di Yogyakarta, yaitu Harian Jogja. Isinya ada cerkak (cerita cekak alias cerita pendek), geguritan (sajak), tembang dan kolom artikel. Lumayanlah untuk mengingatkan kawula muda akan Bahasa Jawa.
Saya menemukan halaman Jagat Jawa ini tidak sengaja. Bus Ramayana Seri B yang saya tumpangi dari Sleman sedang menjemput penumpang di Terminal Munthilan ketika ada penjual koran yang menawarkan koran. Untuk membunuh waktu saya membeli Harian Jogja yang masih dijual dengan harga promosi Rp1000.
Berita di Harian Jogja hampir sama dengan surat kabar yang lain. Yup, namanya juga surat kabar, yang dimuat ya kebanyakan kabar. Hal lain yang bisa dikatakan ada di semua surat kabar adalah iklan kolom. Yang tidak selalu ada adalah halaman khusus Bahasa Jawa. Kedaulatan Rakyat kalau tidak salah (kalau salah tolong koreksi) terpaksa mengoperasi kelamin Majalah MekarSari menjadi suplemen Minggu Pagi. Padahal, pada tahun 80-an, majalah MekarSari masih merupakan majalah tebal bersaing dengan majalah Djaka Lodhang.
Modernisasi yang kejam telah membunuh banyak kekayaan lokal, salah satu contoh adalah matinya majalah berbahasa Jawa di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada tingkat dunia, PBB sudah memperkirakan bahwa banyak bahasa lokal yang akan mati akibat internet. Mengapa? Karena internet akan memaksa siapa pun untuk menggunakan Bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi lebih luas. Semakin banyak orang menguasai Bahasa Inggris tetapi semakin banyak pula bahasa lokal yang akan hilang. Ada sekitar 700 bahasa yang terancam punah. Yang perlu mendapat perhatian, separuh dari bahasa lokal yang akan punah itu diperkirakan ada di Indonesia. Sampeyan tentu belum lupa kalau di Indonesia ini ada lebih dari 400 bahasa.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melestarikan kekayaan lokal kita. Bahasa apa pun yang ada di Indonesia semestinya dilestarikan. Para ahli bahasa dan Pemerintah Daerah sebaiknya mulai merintis pekerjaan untuk membukukan bahasa-bahasa lokal yang ada. Jangan menunggu punah baru kita bergerak untuk melestarikannya. Harus dari sekarang. Syukur kalau sudah dimulai.
Kembali ke Jagat Jawa.
Saya senang bisa mendapatkan halaman khusus Bahasa Jawa di Harian Jogja. Ini adalah salah satu bentuk upaya pelestarian Bahasa Jawa. Namun, seperti pernah saya ungkapkan di blog ini juga, saya takut generasi muda kita tidak bisa menuliskan kata dalam Bahasa Jawa dengan tepat. Salah satu contoh adalah nama halaman di Harian Jogja itu: Jagat Jawa.
Menurut saya, yang benar adalah Jagad Jawa.
Jagad Dewa Bathara!
3 Tanggapan to “Jagat Jawa”
Bagaimana pendapat Anda?












wah, ternyata di harian joga ada rubrik “Jagat Jawa”, yak? wah, salut banget buat jajaran redaksinya yang telah bersemangat utk menghidupkna rubrik ini pada edisi hariannya. rubrik ini bisa menjadi pengobat rindu bagi para pencinta budaya jawa setelah banyak penerbitan majalah berbahasa jawa gulung tikar. semoga makin banyak generasi muda yang ikut bersemangat untuk kembali menggali nilai2 kearifan lokal.
Wah memang udah mulai banyak di tinggalin dg kemanjuan dunia elektronik mas.Sehari2 uda makai bahasa indonesia ,dan anak2 kita uda bahasa ibu(indonesia).Kalau dulu aq kecil pakai bahasa jawa ( sama kakak harus “boso” apalagi sama ortu)
jadi nggak merasa kalau sekarang ini diriku udah mersa ninggalin …Tq banget masa artkelnya jadi semangat untuk melestarika lagi bahasa jawa
saya jadi malu nih mas. saya javanese tapi gede di sumatera. jadi gimana dong? bahasa halusnya jawapun sya gak bisa :((