Free Blogger Template

Upacara Pangrupining Layon

Post Page Rank

Pukul 11 siang kemarin kami baru tiba di Jetis,Caturharjo, Sleman. Kami (saya, istri, Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan) dan Diro — pengemudi dari kantor — berangkat dari Tangerang pukul 22 malam tetapi kami mampir dulu ke UGD RS Siloam Karawaci karena Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan sudah tiga kali muntah, yaitu pulang sekolah, sore dan malam setelah saya tiba di rumah. Saya putuskan untuk memeriksakan Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan dulu. Dalam menghadapi berpulangnya Bapak saya tidak boleh panik dan menelantarkan yang masih hidup. Insya’ Allah penyelenggaraan jenazah almarhum Bapak sudah akan dilaksanakan oleh para tetangga dan keluarga yang dekat. Saya harus mendahulukan yang masih hidup dan tidak gelap mata buru-buru berangkat ke Sleman. Buru-buru adalah pekerjaan setan.

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus di atas:
1. Jangan panik menghadapi sesuatu. Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, kalau kita mampu tenang dan berpikir jernih, insya’ Allah akan lebih mudah mencari pemecahannya.
2. Buat skala prioritas dari langkah-langkah yang akan kita ambil. Letakkan prioritas paling penting dan paling mendesak di urutan pertama. Apabila berkaitan dengan yang sudah meninggal dan yang masih hidup, prioritaskan untuk mengurus yang masih hidup dulu.

-o-

Begitu tiba di Jetis, Timbul — teman main saya — yang menyambut pertama. Dia menyalami saya lalu memeluk saya sambil menangis, “Aku yo kaget Mbor wong mung tak tinggal mulis adus sedhela kok nampa kabar nek Bapak seda.” “Yoh wis, rapapa, Mbul, diikhlaske wae.”

Yang datang kedua adalah Mas Arif. Dia memeluk saya sambil menangis. “Walah… Apa nggak kebalik ini?” pikir saya dalam hati. “Wis Mas, rapopo. Wis, aku wis ikhlas ket wingi.”

Menyambut berikutnya adalah Bu Lik Sumar. Beliau adalah adik bapak saya satu ibu. Bu Lik Sumar juga memeluk saya sambil menangis. “Wis Bu Lik. Wis, aku wis ikhlas. Bapak diikhlaske wae.” Setelah itu Mbak Tri, istri Mas Arif lalu Nana, adik saya. Saya juga bilang kepada mereka bahwa saya sudah ikhlas dan supaya mereka juga mengikhlaskan. Saya tahu mereka semua sebenarnya bermaksud ingin memberitahu supaya saya tidak usah terlalu bersedih karena saya yang berada paling jauh. Mas dan adik saya tinggal di kampung. Hanya saya yang merantau.

Terakhir adalah ibu saya. Ibu juga menangis waktu memeluk saya tetapi sambil berkata supaya saya mengikhlaskan. Saya jawab kalau saya sudah ikhlas.

Waktu saya tiba di rumah pelayat sudah banyak. Ada para tetangga, saudara dan juga teman dan kenalan bapak. Almarhum bapak memang pergaulannya sangat luas sampai-sampai kami pun tidak dapat mengenali semua pelayat satu per satu. Saya sangat bahagia karena saat meninggalnya sangat banyak orang yang mau memberikan penghormatan terakhir.

Keluarga dari Ciamis, semua kakak dan adik ibu saya datang. Juga adik-adik bapak. Dari ibu yang sama bapak punya satu adik dan dari garis satu ayah, bapak punya enam adik, lima perempuan dan satu laki-laki. Adik yang satu garis ayah, tiga diantaranya pernah tinggal bersama keluarga kami.

Saya masuk ke rumah di mana jenazah bapak ditempatkan. Di dalam ada Junaidi M Shafar, teman se-SMA saya yang sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Dia bagai anak sendiri bagi bapak. Junaidi memeluk saya dan menangis. Saya katakan supaya dia bersabar dan ikhlas. “Aku saja sudah ikhlas, Ned. Nggak apa-apa. Kamu juga harus ikhlas.” Dari cerita ibu saya kemudian saya tahu kalau dari pagi Junaidi nangis terus. Saya paham bahwa Junaidi sangat merasa kehilangan, seperti kami yang juga kehilangan.

Jenazah sudah disucikan dan dikafani. Saya hanya membuka kain yang menutupi bagian kepala. Mamang saya mengatakan kalau mau dibuka juga tidak apa-apa tetapi saya mengatakan tidak usah. Saya beranggapan bahwa semua sudah diselenggarakan dengan baik. Saya katakan bahwa saya akan mandi supaya bisa segera menyolatkan jenazah bapak.

Saya kemudian menuju rumah saya yang sejak saya tinggal di Tangerang ditempati oleh bapak dan ibu. Saya mandi, ambil air wudlu dan masuk kembali ke tempat jenazah. Bapak. Saya dirikan sholat jenazah untuk bapak. Baru setelah itu saya ke depan untuk menyambut para pelayat yang hadir.

Pukul 13:30 upacara penyelenggaraan jenazah dimulai. Saya sempatkan mengambil beberapa gambar dengan ponsel (yang akan saya publikasikan ke sini setelah saya kembali ke Tangerang) sebagai penanda peristiwa. Upacara tidak lama, kira-kira hanya duapuluh menit sampai satu jam.

Almarhum dimakamkan di makam keluarga yaitu “Sasana Laya Demang Ronggowarsito”. Dulu bapak yang menamai makam keluarga kami dengan nama itu. Liang lahat bapak disamping barat cungkup Mbah Demang.

Tidak ada atraksi kesedihan berlebihan di makam. Selesai liang lahat ditutup, ibu saya berbicara di depan pusara bapak. Ibu mengucapkan selamat jalan dan memohon Allah agar menerima bapak dan menempatkannya di tempat yang mulia. Ibu saya memberi kesaksian bahwa bapak adalah orang yang sangat baik, selama hidup almarhum tidak pernah sekalipun menyakiti perasaan ibu. Selesai itu Uwa Tarli memimpin doa dan kamipun tidak berlama-lama di makam. Kami semua seperti memiliki perasaan sama bahwa segala urusan bapak harus disegerakan termasuk urusan di alam kubur di mana tujuh langkah setelah pelayat terakhir meninggalkan pusara, akan dimulailah urusan di dalam kubur.

Saya sangat berterimakasih kepada semua yang telah memberikan penghormatan terakhir untuk bapak saya. Tetangga, sanak saudara, kolega dan handai tolan. Teman SMA saya yang hadir selain Junaidi adalah Hizbullah Yusuf yang tinggal di Magelang dan Hari Eko yang tinggal di Jogja. Dr. Tengku Faisal Fathani yang menjadi dosen di Teknik Sipil UGM datang sore hari menjelang maghrib karena acara siang hari simulasi evakuasi gempa di Magelang molor acaranya. Dari CahAndong hadir Antobilang dan Fakhrijal. Ijal adalah adik kelas saya dari SMATN. Saya angkatan pertama, dia angkatan kesembilan.

Untuk memberi bekal doa keluarga kami meminta bantuan para takziyah untuk membaca kalimat thoyyibah 3 hari berturut-turut yang sudah dimulai sejak Selasa malam sehingga tersisa Rabu malam dan Kamis malam. Alhamdulillah rumah kami selalu penuh bahkan sampai ada yang tidak kebagian tempat di dalam. Pun seperti malam ini ketika hujan turun cukup deras. Para tetangga dan sanak saudara tetap datang. Kemarin ibu menyampaikan bahwa karena jamaah pengajian ibu-ibu sudah sangat ingin diberi pengajian oleh bapak tetapi tidak kesampaian sampai berpulangnya bapak maka ibu-ibu ingin mengadakan pembacaan kalimat thoyyibah juga. Mereka iri karena hanya bapak-bapak yang dipersilakan. Kami jawab bahwa kami siap, mengijinkan dan justru sangat berterimakasih apabila ada yang ingin membantu memberi doa. Untuk ibu-ibu ini disediakan waktu antara hari keempat sampai keenam karena hari ketujuh nanti akan diadakan lagi untuk bapak-bapak.

Bapak adalah orang Muhammadiyah tetapi tidak menolak tahlil dan kenduri. Bapak beranggapan bahwa tahlil itu isinya bacaan Qur’an dan doa. Tidak ada bacaan buruk dalam tahlil. Sedangkan terhadap kenduri, bapak mengatakan hal tersebut bagian dari hablun minannas. Di kampung kami, kenduri apabila ada orang meninggal dilaksanakan setelah jenazah dikebumikan, 3 harinya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, setahunnya dan seribu harinya. Kami akan menyelenggarakan seperti itu.

-o-

Mulai saat ini, apabila ada yang mengalami musibah seperti yang baru saya alami, saya akan dapat memberi saran supaya yang ditinggalkan sabar dan ikhlas. Selama ini, sebelumnya saya belum bisa mengatakan karena belum pernah mengalami. Percayalah bahwa sabar dan ikhlas atas kehendak Allah sangat melegakan perasaan kita.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

Tags:

baca berita di lintas berita

4 Comments

  1. Roffi on 01.05.2008 at 17:37 (Reply)

    Turut berduka cita.. semoga almarhum diterima amal baiknya oleh Allah SWT.. sabar kang..

  2. Nayantaka on 01.05.2008 at 17:49 (Reply)

    Alhamdulillah, kesabaran Kang Kombor akan berbuah kemuliaan dalam hidup di dunia ini, maupun di akhirat nanti. Semoga pula kesabaran Kang Kombor akan memberikan ketenangan istirahat panjang keng romo.

  3. sawali tuhusetya on 02.05.2008 at 06:36 (Reply)

    terima kasih pencerahannya, mas arif. kata sabar dan ikhlas memang seringkali begitu mudah diucapkan, tapi kadang2 sulit juga utk melakukanya dg lapang dada kalau belum pernah mengalami sendiri. mohon maaf, saya ndak bisa ikut takziah ke rumah duka, mas. hanya bisa berdoa semoga almarhum bapak diberikan kelapangan dan kedamaian menuju ke haribaan-Nya. dan alhmadulillah, semua prosesi pemakaman berlangsung lancar.

  4. edratna on 04.05.2008 at 02:42 (Reply)

    Iya mas Arif, kita mesti sabar dan ikhlas. Waktu ayah meninggal saya masih sempat ketemu jenazahnya, bahkan saya menikah didepan jenazah ayah.

    Sedang saat ibu sakit, anak bungsu saya belum satu tahun dan sakit, jadi saya juga tak bisa buru-buru pulang. Akhirnya saat ibu tiada, hanya saya yang pulang (itupun tak mengejar pemakaman), karena suami menjaga anak-anak yang lagi sakit, dan baru bisa pulang 3 hari kemudian. Tapi karena didaerah ibu banyak teman, juga sanak saudara, maka semua tak menjadi masalah…jadi yang sempat menunggu jenazah ibu sampai dimakamkan hanya adik saya nomor dua yang tinggal di Semarang, karena adik bungsu saya anaknya juga sakit.

Leave a comment


Free Blogger Template

Moh Arif Widarto adalah bloger yang mengalami krisis identitas karena tidak mau memilih satu dari dua platform blog yang paling populer. Oleh karenanya, dia mengelola blog ini untuk pengguna WordPress yang fanatik dan mendambakan kemudahan komentar dan WWW.Widarto.Net untuk bloger yang masih cinta Blogger dan menganggap commenting system di Blogger nggak masalah. Berkunjung ke sini atau ke sana sama saja isinya.