Membaca Laskar Pelangi Serasa Bodoh
![]() |
Post Page Rank |
Kalau tidak salah ingat saya pernah menyampaikan bahwa saya sudah mengakuisisi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan edensor dari Gramedia Karawaci. Laskar Pelangi belum selesai saya baca. Pembatas masih saya selipkan di antara halaman 384 dan 385. Saya baru akan membaca Bab 28 yang berjudul Societeit de Limpai. Minggu lalu saya sama sekali libur membaca. Tentu Sampeyan semua tahu mengapa saya bisa libur membaca. Yang belum tahu bisa membaca-baca postingan minggu lalu (maaf, bukan promosi).
Saya belum selesai membaca Laskar Pelangi. Novel yang sangat terlambat saya baca. Terus-terang saya memang agak kurang suka segala sesuatu yang pop. Apa pun yang pop dan jadi tren sesaat hampir pasti tidak akan saya ikuti. Sebagai bukti sampai saat ini saya belum pernah membaca Saman yang konon spektakuler. Saya belum pernah membaca Ayat-ayat Cinta. Filmnya pun saya tidak nonton. Apa yang pop, kecuali post office protocol tidak mampu membuat saya ikut-ikutan.
Lalu, mengapa saya mengakuisisi tiga dari tetralogi Laskar Pelangi?
Jujur saya katakan bahwa saat ini saya ingin mencari keseimbangan jiwa. Sejak mulai bekerja rasanya jiwa ini kering. Saya tidak lagi menulis sajak-sajak cinta kacangan. Saya tidak membaca cerpen Kompas Minggu dan sajak-sajak yang dimuat di sana. Bahkan saya jarang membaca Al-Quran lagi. Saya merasa hidup ini begitu kering. Saya kelelahan mengejar gaji dan melupakan bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani dengan hidup sehidup hidup.
Tinggal di Tangerang dan bekerja di Jakarta walaupun remunerasinya jauh lebih tinggi daripada hidup seadanya yang saya jalani di Sleman selama satu setengah tahun pada pertengahan 2002 sampai akhir 2003 tetapi rasanya kurang bermakna. Saya merasa lebih menjadi manusia seutuhnya di Sleman dengan segala keterbatasan yang ada. Yang pasti, saya bisa bermasyarakat karena saya tidak menghabiskan sebagian besar hari di tempat kerja. Saya masih bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Bekerja bakti atau saling membantu dengan tetangga. Di sini, hari terasa sangat pendek sehingga sosialisasi dengan tetangga serasa kurang. Untung ada KBBC sehingga saya bisa bersosialisasi kembali.
Nah, saya ingin menyeimbangkan jiwa. Saya percaya bahwa sastra mampu memberikan keseimbangan pada jiwa kita. Sastra akan membantu kita mengolah rasa dan memberi jiwa kita isi untuk mengimbangi olah pikir yang selalu kita lakukan.
Karya adik kelas saya, ES Ito, yaitu Negara Kelima dan Rahasia Meede sudah tamat saya baca. Begitu pula lima seri Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Saya butuh basuhan baru dan saya putuskan untuk mengakuisisi tetralogi Laskar Pelangi supaya istri saya juga bisa ikutan baca.
Namun, berbeda dengan Negara Kelima, Rahasia Meede dan lima seri Gajah Mada yang terasa ringan saya baca, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata membuat saya seperti orang bodoh. Benar Andrea Hirata menyukai biologi dan sains. Namun, justru karena itu saya menjadi seperti orang bodoh. Saya banyak tidak tahu nama-nama latin species yang disebutkan dalam Laskar. Pelangi sehingga saya tidak bisa membayangkan binatang atau tumbuhan apa yang sedang disebutkan. Saya benar-benar seperti si buta yang mendeskripsikan gajah. Membaca tetapi tidak mengerti yang saya baca. Memang ada glosarium di akhir buku tetapi cukup mengganggu kenikmatan membaca apabila sedikit-sedikit saya harus membuka glosarium.
Selain itu, saya tidak bisa membayangkan anak-anak SD Muhammadiyah yang diceritakan di sana bisa memiliki pengetahuan memadai tentang sebuah suku di Afrika. Padahal, mereka berlatar belakang orang marginal. Koran saja terlambat satu bulan. Apakah SD Muhammadiyah itu punya perpustakaan berkoleksi lengkap?
Adik ipar saya yang masih duduk di bangku SMP ingin membaca Laskar Pelangi juga. Entahlah anak yang masih gemar membaca tinlit dan ciklit itu apa akan mampu mencerna Laskar Pelangi dengan baik. Saya sendiri kalau harus mengeluarkan apa yang saya cerna melalui saluran sekresi saya pasti akan merasakan sembeli yang luar biasa sakit karena banyak yang saya harus telan mentah-mentah tanpa bisa saya kunyah dengan penuh penghayatan untuk mengurai rasanya satu per satu.
Saya ingin tahu, apakah hanya saya yang menjadi orang bodoh ketika membaca Laskar Pelangi. Sudahkan Sampeyan membaca novel itu?














Diluar kemampuan Andrea bertutur secara luar biasa, memang saya merasakan ada sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan di buku ini. Tentang kisahnya, lika-liku anggota laskar pelangi, dalam skala yang berbeda, dan latar belakang yang berbeda pun, aku rasa aku juga mengalaminya. Lebih heboh lagi mungkin cerita pribadi guru sampeyan di lembah tidar itu kang. Terus terang, aku kagum dengan jalan hidup dia, dan dalam beberapa episodenya, aku juga turut menjadi bagian dari kisahnya. Andai aku bisa bercerita seindah Andrea Hirata, mmh…
–maw–
Wah, bisa dibuat novel berjudul Pejuang Lembah Tidar, tuh.
Nanti aku tulis novelku sendiri deh, hahaha… (Ngimpi)
dari segi content, saya memang mengagumi ide2 cemerlangnya andrea dalam mengungkap marginalisasi pendidikan di laskar pelangi. namun, gaya tuturnya sebenarnya kurang greget, cenderung hiperbolis. meski demikian, saya tetep salut padanya. dia bukan orang sastra, tapi mampu menghasilkan karya masterpiece. dia juga jujur mengaku kalau dia kurang paham sastra. tak heran ketika dia saya minta utk bikin endors kumcer saya, mas andrea menolak dan minta maaf karena cerpen saya dinilai terlalu berat *halah*
–maw–
Cara berceritanya memang hebat. Dia menunjukkan keluasan wawasannya. Namun, benar yang mengatakan bahwa dia menceritakan masa kecil dengan pandangan orang dewasa. Akibatnya ceritanya jadi terkesan dilebih-lebihkan (hiperbolis).
Wekeke… Kok Pak Sawali nggak minta endorsement saya. Halahhhhhhhh…
sama seperti anda, saya juga merasa bodoh ketika membaca laskar pelangi.
tapi bagaimanapun juga, karya “kecelakaan” bung Andrea ini emang top markotop.
dan buku beliau adalah novel pertama yang saya baca,..
–maw–
Novel pertama yang dibaca? Wah, saya sih sejak SD sudah suka baca. Mulai dari seri Lima Sekawan karya Enid Blyton, Winnetou karya Karl May, dll. Di SMP semua karya sastra di perpustakaan saya lahap. Layar Terkembang, Merantau Ke Deli, Cinta Di Seberang Tembok, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Belenggu, Tiada Hari Esok, Jalan Tak Ada Ujung, dll. Di SMA baca Atheis, Merahnya Merah, Di Atas Kapal (NH dini) dan baca lagi Winnetou. Bahkan Wiro Sableng dan karya-karya Abdullah Harahap.
Saya mah kalo baca novel dinikmatin saja. Nggak perlu mikir banget-banget. Laskar Pelanginya Andrea toh masih jauh lebih bisa dimengerti ketimbang Jurrasic Park - Ini kalo dilihat dari banyak sedikitya istilah biologi lho. Cara Andrea bercerita itu yang ringan biasa. Hiperbolik tetep tetapi gak terasa berat banget. Ini menurut aku lho.
Secara isi, saya rasa tema yang diangkat Andrea cukup menyentuh, tetapi tidak mesti harus pake nangis berdarah-darah model Ayat-ayat Cinta. Bagi saya Laskar Pelangi empat kali lebih enak dibaca ketimbang ayat-ayat cinta. (Eh ngitungnya empat kali dari mana, ya? ) Mbuh….
Justru buku model Laskar Pelangi, Jurrasic Park dan sebagainya itu yang merangsang anak-anak terhadap bidang yang mungkin sebelumnya tidak mereka sukai. Lihat kemungkinan ini : ANak kecil yang gak suka baca buku jadi senang baca buku karena ada Harry Potter - ketika ada Jurrassic Park - maka demam dinosaurus ada dimana-mana, tentu saja termasuk pengetahuan yang lebih mendalam tentang dinosaourus. Anak-anak yang tadinya malas belajar biologi mungkin saja jadi tertarik. Kalo orang tuanya gak bisa menikmati - belum tentu anak kecil juga pasti gak bisa menikmati. Karena anak kecil jaman sekarang lebih cepat mengerti hal baru dan mememiliki tingkat keterbukaan segala sesuatu lebih tinggi. SALAM. See You
–maw–
Setuju.
Wah bikin hetrik ya, Mas?
Dulu ada kritik yang ditulis oleh pak Jacob Sumardjo di Kompas tg triloginya Andrea Hirata…dan karena kritikan itu saya malah jadi pengin baca. Pak Jacob menjelaskan bahwa Andrea Hirata menceritakan masa kanak-kanak nya dengan alur cerita dan pemahaman saat dia sudah dewasa. Hal ini berbeda dengan buku “To Kill a Mockingbird” karangan Lee Harper yang mendapat hadiah Pulitzer….ini bagus sekali, karena ceritanya ditarik dengan cara berpikir anak-anak seusia itu.
Tapi akhirnya saya memahami Andrea saat dia cerita, bahwa tulisan tsb dimaksudkan untuk hadiah gurunya…namun tahu-tahu oleh temannya dikirimkan ke penerbit. Mudah2an buku selanjutnya, setelah tri logi tsb menjadi bagus karena adanya kritikan…seperti buku Gajah Mada yang awalnya menuai kritikan, tapi Langkit KH menerima kritikan tsb dengan memperbaiki dan merevisi bukunya. Hasilnya? Tulisan berikutnya lebih indah.
ES Ito, walaupun ada juga yang mengkritik, tapi tulisannya bagus….walau awalnya terlalu panjang.
–maw–
Hampir semua karya sastra tentu dikritik, Bu. Kan ada disiplinnya: kritik sastra.
Kalau punya karya nggak mau dikritik ya nggak udah diterbitkan, hahaha. Kalau sudah meninggal saja baru diterbitkan, pasti laris manis asal matinya kontroversial.
kebalikan dari pak sawali
saya justru suka gaya hiperbolisnya
kemampuan deskripsi pengarang dahsyat banget
dan biasanya abis baca buku itu ide di otak langsung deras mengalir… halah apaan sih hehehe…
jadi buat saya buku-bukunya emang inspiratif
bukan sekedar dari perjuangannya
masih nunggu buku keempatnya nih
kang, pinjem gajah mada-nya dong
–maw–
Gajah Mada cuma dipinjami anak kantor. Mau akuisisi sendiri belum mampu.
aLe jadi faham,
kenapa teman aLe ngotot langsung beli 3 buku pertama tetralogy Andrea Herata itu. padahal dompetnya lagi kering,.
ternyata buku itu memang bagus dan layak diperjuangkan
–maw–
Aku juga langsung akuisisi 3 buku. Yang keempat belum ada waktu di Gramedia Karawaci.
Terlepas dari aku jadi bodoh, Laskar Pelangi memang layak dikoleksi.
*oot*
oh iya kang,
kenapa Pokokeā¢.Com ga bs diakses dr tmpt aLe?
–maw–
Blog.pokoke.com
Alixwijaya.pokoke.com
Bisa tuh!
wah, kok sampe segitunya ya, saya kok mbacanya enak-enak aja. *apa saya yang bodoh ya…* kalo saya sih yang penting dimakan saja semua dulu, kalo ada yang muntah ya ditelan lagi sampe bener2 bisa dicverna *hihihi, jadi njijiki*
–maw–
Kalau baca asal baca sih saya ya enak-enak saja. Akan tetapi kurang nikmat kalau ada nama pohon atau bunga yang tidak familiar. Saya jadi susah untuk bisa hanyut dalam cerita yang sedang saya baca.
–maw–
terlepas dari cara gaya penulisan yang terkesan *mendahului umur* dari yang diceritakan, kalo adek saya bilang *dia masih smp* lebih mending dari mbaca tenlit…
–maw–
Wah, bagus itu. Lebih baik ajari baca sastra beneran daripada baca tinlit, ciklit, dan lit-lit lain.
–maw–
*denger2 Maryamah Karpov bakal terbit akhir Mei ii, Benarkah ?*
–maw–
Saya juga masih menunggu nih. Bentar lagi LP selesai lalu disusul SP dan edensor. Asyik kalau langsung nyambung.
Wahhh saya senang sebetulnya membaca bahwa ada orang yang tidak suka/kritik novel Laskar Pelangi. Saya belum baca, dan belum beli karena hanya mendengar kehebatan dia. Saya pikir akan beli kalau saya mudik musim panas nanti.
–maw–
Saya sebenarnya tidak bermaksud mengkritik. Siapalah saya ini berani mengkritik karya yang menjadi perbincangan umum dan dicetak ulang sampai cetakan keduapuluh ketika saya beli. Saya hanya bermaksud menyampaikan perasaan saya ketika membaca Laskar Pelangi. Jujur, saya benar-benar merasa bodoh. Berbeda dengan karya lain yang saya baca di mana saya tidak merasa bodoh. Bahkan membaca karya Pramoedya saja saya tidak seperti orang bodoh.
–maw–
Tapi seperti yang bapak katakan, saya tidak suka segala yang sedang trend atau pop. Kalau dari cerita bapak tentang isi LP itu, saya sarankan bapak jangan membaca Saman, karena ya isinya begitu juga, belum lagi alur cerita berupa kilas balik, yang kembali ke present lagi (bingung kan…)Makanya saya bingung kok dapat penghargaan?
–maw–
Jujur sekilas saya pernah mengintip isi Saman dan saya sama sekali tidak tertarik untuk membacanya. Terimakasih atas rekomendasinya.
–maw–
Hampir semua buku yang bapak sebutkan saya pernah baca. Mungkin saya lebih suka pada sastra tradisional/klasik ya?
–maw–
Saya sedang akan mengumpulkan lagi karya-karya tradisional/klasik tersebut. Kebetulan di Gramedia Karawaci ada. Yang akan saya cari paling dulu adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang saya lupa-lupa ingat ceritanya, lalu Di Bawah Lindungan Kabah. Dan yang sangat ingin saya baca lagi adalah Cinta Bersemi Di Seberang Tembok yang pernah disinetronkan itu. Saya membacanya saat SMP. Lalu selanjutnya karya-karya Pram dan karya lainnya.
Itulah proses kehidupan, pencarian jati diri sesungguhnya. Jangan musuhi apa pun, segeralah temukan kemantapan. Salam saudaramu.
–maw–
Kalau memusuhi kemiskinan dan kebodohan boleh atau tidak, Pak?
tak bermaksud menyamakan, tapi terus terang saya juga anti poop.. hehhehe…
–maw–
Hore! Mari kita luncurkan gerakan antipop. (Halah!)
–maw–
untuk laskar pelangi saya memang belum ada budget.. meski pop, kisah humanisnya kental mas! setidaknya itu yg saya ikuti di kick andy.. hiks
–maw–
Sepertinya benbego.com sudah share versi ebooknya tuh. Wakaka, pasti ilegalnya tuh.
saya barusan tamat kang
banyak istilah yang tidak saya mengerti di sana. IMHO, memang hiperbolis. dan saya lebih suka sang pemimpi yang ceritanya lebih masuk akal.
–maw–
Sama Mbak Ir, saya baru tamat tadi malam. Siap-siap melahap Sang Pemimpi. Mudah-mudahan seperti yang Mbak Ira katakan, lebih make sense.
Kang, nyaiku wingi langsung njaluk mborong tetralogine AH. Pas ada teman balik Indonesia, keempat-empatnya mau diakuisisi, tapi cuma dapet Sang Pemimpi sama Edensor. Kebetulan LP ada teman yang punya, dulu aku yang beliin sebelum berangkat :). Sisi positifnya, nyaiku jadi punya mimpi untuk kembali menyambung studinya
Langsung mborong tapi bukan karena membaca tulisanku ini kan?
Syukur kalau nyai jadi pingin sekolah lagi. Aku sih mau belajar dari sekolah kehidupan saja, Ki.