Memalukan, Sarjana Tidak Bisa Membedakan Kata Depan dan Awalan
May 29, 2008
Lihat empat kalimat di bawah:
- Ditempat itu balok atau ubi goreng dimakan dengan sambal
- Di tempat itu balok atau ubi goreng di makan dengan sambal
- Ditempat itu balok atau ubi goreng di makan dengan sambal
- Di tempat itu balok atau ubi goreng dimakan dengan sambal
Menurut Sampeyan, kalimat nomor berapa yang benar?
Lihat empat kalimat di bawah:
- Kerbau Kang Kombor di giring kesungai untuk dimandikan
- Kerbau Kang Kombor digiring kesungai untuk dimandikan
- Kerbau Kang Kombor di giring ke sungai untuk dimandikan
- Kerbau Kang Kombor digiring ke sungai untuk dimandikan
Menurut Sampeyan, kalimat nomor berapa yang benar?
Selain prihatin karena banyak sarjana kita tidak dapat menulis surat resmi, saya juga prihatin karena banyak sarjana kita yang tidak dapat membedakan kata depan dan awalan. Sampeyan tidak percaya? Baca saja skripsi para calon sarjana kita, pasti Sampeyan akan menemukan banyak kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi itu. Selain mahasiswanya yang tidak bisa membedakan kata depan dan awalan, dosen pembimbingnya pun setali tiga uang. Ada dua kemungkinan, sang dosen tahu tetapi malas mengoreksi (bisa kita sebut dengan dosen apatis) atau sang dosen memang benar-benar tidak bisa membedakan kata depan dan awalan karena dia bukan dosen Bahasa Indonesia. Terhadap yang satu ini, sebaiknya perguruan tinggi menambah satu dosen pembimbing lagi untuk mahasiswa skripsi, yaitu Dosen Pembimbing Bahasa Indonesia. DPBI ini diberi tugas untuk mencorat-coret salah eja atau salah ketik dalam skripsi supaya skripsi yang dihasilkan selain taat kaidah keilmuwan juga taat kaidah kebahasaan.
Selain skripsi, ada cara pembuktian lain. Keluyuranlah ke blogosfer. Di dunia perblogeran itu banyak blog milik sarjana. Nah, cobalah untuk membaca tulisan-tulisan mereka. Pasti Sampeyan akan menemukan tulisan di mana kata depan atau awalan salah dituliskan. Saya tidak mau memberikan contoh, silakan cari saja sendiri. Salah-salah, nanti saya malah dikatakan mendiskreditkan atau mempermalukan orang. Nggak maulah saya, di zaman UU ITE sudah diundangkan seperti saat ini, kita harus bisa lebih berhati-hati. Hahaha!
Ah, masalah begitu saja diangkat. Nggak penting amat!
Silakan saja berpendapat seperti itu. Namun, saya tetap berpendapat bahwa itu penting. Seperti pada kasus memalukan yang sebelumnya, hal ini bisa menjadi tolok ukur (banyak yang menulis tolak ukur, nanti kita bahas mana yang benar, sementara saya berpendapat tolok ukur yang benar) keberhasilan pengajaran pelajaran Bahasa Indonesia. Anak sekolah diajari Bahasa Indonesia di SD selama 6 tahun, di SMP selama 3 tahun, di SMA selama 3 tahun dan di Perguruan Tinggi kadang-kadang masih ada. Duabelas tahun belajar Bahasa Indonesia tetapi tidak mampu membedakan kata depan dan awalan? Benar-benar memalukan! Saya harus protes pada Pak Sawali kalau begini hasil Pak Sawali mengajar murid-muridnya berbahasa Indonesia. Pak Ersis perlu saya protes juga nggak?
Apa sih susahnya membedakan kata depan dan awalan? Bukankah sangat gampang. Kaidah penulisan kata depan dan awalan itu sekali baca sekali mengerti. Sangat mudah. Jauh lebih mudah dari aljabar, limit fungsi (yang ini saya benar-benar menyerah!) atau menghitung kecepatan reaksi. Sangat jauh lebih mudah daripada menggambarkan senyawa dalam kimia karbon. Juga sangat lebih mudah daripada menghafal sistem pencernaan kodok. Lalu mengapa anak-anak itu tetap tidak mampu membedakan kata depan dan awalan setelah selama minimal 12 tahun belajar Bahasa Indonesia? Yang salah muridnya atau gurunya?
Kaidah menuliskan kata depan dan awalan
Kata depan ditulis terpisah. Contoh:
- di sungai
- ke sungai
- di tempat
- ke tempat
Awalan ditulis tersambung. Contoh:
- diminum
- dimakan
- dilihat
- digiring
Gampang bukan? Nggak perlu menghafal rumus. Nggak perlu pencat-pencet kalkulator. Nggak perlu membayangkan. Sekali baca sekali mengerti. Praktekkan saja sesuai kaidah itu.
Jadi, dari contoh kalimat di awal tulisan ini, kalimat mana yang benar? Apakah Sampeyan sudah tahu?
-oOo-
Maaf, saya bukannya mau mengambil alih peran para guru Bahasa Indonesia. Saya hanya semakin tidak tahan saja melihat praktek salah seperti itu dibiarkan tanpa ada yang mau mengoreksi.
14 Tanggapan to “Memalukan, Sarjana Tidak Bisa Membedakan Kata Depan dan Awalan”
Bagaimana pendapat Anda?












yang bener nomor 4 kang.
Yang lebih memalukan, bukan hanya sarjana, lho. Bahkan iklan yang dibuat Kementerian Pemuda dan Olahraga memuat kesalahan ini. Kalau tidak salah ada kata seperti ini:
Iklan ini di persembahkan oleh Kantor Menpora, dst.
Nah, lembaga sekelas menteri tidak mampu membedakan kata depan (preposisi) dan awalan.
Apalagi anak sekolah kita?
Salam bahasa, Pak Arif.
percuma dong belajar bahasa indonesia sejak tk sampai kuliah?? hehehehehe… apalagi diunaskan??????
emang bener sih banyak yang kurang paham begituan.. termasuk saya mungkin.. seperti ‘mengubah’ yang kebanyakan orang menulisnya ‘merubah’.. padahal artinya jauh banget…
saya sendiri masih keliru koq kang, terima kasih untuk mengingatkannya
jadi teringat, saya ‘dijewer” pak sawali gara-gara kesalahan ini
oya pak, barangkali ada kaidah bahasa yang bisa ditampilkan, pasti akan sangat bermanfaat
terima kasih
@itikkecil:
Mbak Ira pinter deh.
@Hery Azwan:
Wah…wah…wah… Aparat pemerintah saja nggak bisa membedakan kata depan dan awalan? Benar-benar gawat.
@Gempur:
Iya, Kang. Buat apa sekolah ya? Cari ilmu atau cuma cari ijazah seperti tanggapan di tulisan sebelah soal surat resmi?
@Anggara:
Jangan sampai keliru lagi, Om.
@Goop:
Alhamdulillah Pak Sawali mau njewer Sampeyan, Paman. Memang seharusnya Pak Sawali yang njewerin. Kan beliau yang Guru Bahasa Indonesia minus Sastra, hahaha…
Saya menerima banyak surat lamaran kerja dan sering menemukan kesalahan seperti yang di atas. Juga kesalahan dalam penulisan huruf besar dan huruf kecil.
jawabannya no 4 semua

hal yang kecil, tetapi kerap disepelekan (kalau ini awalan-akhiran)
Ya Mas Arif. Walaupun bukan sarjana bahasa Indonesia, saya banyak melakukan kesalahan. Tapi, nekad melawan kekurangan dengan menulis, praktik langsung. Language is habit.
Bahasa kacau berawal dari otak ‘kacau’ he he.
Oh ya, harusnya sering-sering poatingan seperti ini dalam arti mengingatkan kita semua. Pelajaran bahasa Indonesia, terutama para pengajarnya (maaf), perlu berbenah kompetensi sebab itulah tugas mereka; karena itu digaji. Kita ‘membantu’ saja, kalau perlu mencubit. Salam.
Alih profesi jadi Polisi EYD nih..
Memang banyak sekali blog sarjana yang ejaannya salah.. saya juga tidak menunjukkan blog mana.. Yang penting keep posting, karena dengan terbiasa menulis, maka akan semakin terasah kemampuan berbahasa kita.
waduh, kok saya tersentil ya, kang. di tulisan saya belum lama ini juga ada salah tulis, yang seharusnya kata depan jadi awalan. bukannya saya nggak tau, tapi khilaf dan males mbenerin..
Kayanya generasi sarjana sekarang (generasi saya :p) mengalami kesulitan buat menulis dengan baik dan benar, karena kurikulum bahasa indonesia mereka lebih berorientasi pada drill-drill materi dan jarang memberi kesempatan buat menulis dan mengekspresikan ide mereka. Tapi ada harapan buat generasi2 yang lebih muda lagi! Generasi2 anak2 SMP/SMU sekarang ini sepertinya lebih aktif menulis daripada generasi2 pendahulu, karena mereka lebih mendapat pengalaman menulis melalui blog2, forum2 diskusi, dan lain2. Walaupun… kalo kita liat cara menulis anak2 SMP/SMU kita di Friendster2, gAyA mRk KewL TApI nOrAk DAn JauH dR KaiDah2 BeRBhs Yg sHruSn & BNy Sgkt2 aLa SmS…
Soal di mana vs. dimana, kayanya sih itu banyak yg typo, dan orang2 kita emang ga terlalu strict soal typo dengan dalih “ah, yang penting intinya sama kok”
wew… kenapa saya jadi telat membaca postingan yang menarik ini, hehehehe
apa yang diungkap mas arif itu memang benar. sebagai guru bahasa indonesia, malu juga sih. tapi, kalau mau dirunut, bisa-bisa yang ketemu malah cuma kambing hitam atau muter2 kayak lingkaran setan. saya sendiri justru jurung membuat postingan khusus mengenai masalah ejaan dan tanda baca karena sudah cukup teori ketatabahasaan yang dijejalkan di bangku sekolah, hehehehe
contoh yang mas arif paparkan itu masih juga sering disalahpahami, sebab belum bisa dengan jelas membedakan “awalan” dan “kata depan”. Kalau penulisannya jelas. Awalan itu dirangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Persoalannya, perbedaan awalan dan akhiran itu letaknya di mana? ok, sekadar tambahan info, ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama, jika bentuk di- atau ke- itu membentuk keterangan tempat, bentuk tersebut termasuk kata depan, sehingga penulisannya harus dirangkai, seperti: di sawah, di kota, di Tangerang, di kelas, ke kantor, ke pasar, dll. Sebaliknya, jika membentuk verba (kata kerja), bentuk tersebut termasuk awalan, sehingga penulisannya harus dirangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti dipukul, ditendang, disikat, dll. Kedua, bisa menggunakan pendekatan bahasa jawa. Jika di- bisa diterjemahkan dengan “ing”, bentuk tersebut termasuk kata depan, seperti: ing sawah = di sawah, ing semarang = di semarang. Bisakah bentuk di- seperti pada kata: dipukul, ditendang, atau disikat, diterjemahkan dengan “ing” dalam bahasa jawa? hehehehe
tapi postingan mas arif sudah cukup bagus untuk membuka wacana betapa pentingnya penulisan ejaan dalam sebuah teks.
wew,, saya bingung ngebedain kata depan n awalan seperti itu.
kalo saya selama ini pake cara pak sawali di atas, lebih mudah. menunjukkan tempat >> awalannya dipisah
kalo kata keterangan/kerja >> awalannya digabung.