Free Blogger Template

Koplo

Post Page Rank

Akman tergopoh-gopoh menemui Wikundro, ada panggilan dari Kejaksaan Negeri Jankarto Pusat untuk Direktur Utama PT Lindudata Maju Pertiwi.

“Pak, ada surat cinta dari kejaksaan.” Akman dengan lugas memberi tahu Wikundro yang merupakan atasan langsungnya di PT Ikompi Moalhang Jayamantap. “Untuk siapa?” Wikundro segera ingin tahu. “Untuk dirut LMP, Pak. Yang mengantarkan Pak Andropol dari Tharqe Hubb Chawechawe.”

Wikundro menghela nafas lebih dalam. “Hhh… Kejadian juga. Dasar orang-orang amatiran.” Gumamnya.

Delapan bulan sebelumnya Wikundro, Arbinto, Andropol dan Yulkimar bersama-sama pergi ke Departemen Kosakata menemui Direktur Penyeragaman. Andropol mengaku kenal dengan Direktur Penyeragaman itu dan mengajak Wikundro dan Arbinto untuk mengajukan proposal proyek. Yulkimar adalah anak buah Andropol. Dari tampangnya, Andropol seperti orang pintar. Wajahnya bersih dan jidatnya sudah bertambah luas membentuk botak di ubun-ubun. Kesannya rambut di sana meranggas karena kepala sering dipakai berpikir keras. Sedangkan Yulkimar berperawakan tegap, tingginya sekitar 175 cm, berkulit sawo matang dan suka membawa minimal tiga buah telepon genggam.

Andropol memberitahu Wikundro bahwa Direktur Penyeragaman butuh proposal untuk penyeragaman bahasa. “Ada dana sebesar dua milyar yang siap dipergunakan,” Andropol meyakinkan Wikundro di ruang rapat PT Ikompi Moalhang Jayamantap. Setelah bertanya seputar orang-orang yang dikenal Andropol di Departemen Kosakata, Wikundro meminta Arbinto menyiapkan proposal yang diminta. Arbinto membuat proposal penyeragaman bahasa sebanyak tiga buah masing-masing bernilai dua milyaran. Menurut pengalaman, nilai anggaran yang turun biasanya hanya sepertiga dari nilai proposal. PT Ikompi Moalhang Jayamantap tahu persis hal itu.

Ketika menghadap Direktur Penyeragaman, Pak Direktur menguji kemampuan Wikundro dalam soal-soal kosakata. Wikundro yang memang pintar bisa melayani dengan baik penjajagan pengetahuan yang diberikan oleh Pak Direktur. Akhirnya kimia mereka bersambung dan Pak Direktur berjanji akan membawa proposal itu kepada Pak Dirjen Pemberdayaan Kosakata.

Tidak ada lagi pertemuan dengan Direktur Penyeragaman maupun Andropol dan Yulkimar. Semua seperti abab yang hilang tanpa bekas diterbangkan angin di sekitar kepala. Ikompi Moalhang Jayamantap tidak pernah menyinggung soal proposal ke Departemen Kosakata. Banyak pekerjaan lain yang disusun dan sedang dilakukan.

Tiba-tiba, tiga bulan setelah pertemuan dengan Direktur Penyeragaman, Andropol dan Yulkimar datang ke Ikompi Moalhang Jayamantap membawa pengumuman lelang pekerjaan pembuatan seragamisasi perangkat lunak kosakata. Nilai pagunya empatratus juta.

“Bagaimana ini. Bin?” Wikundro bertanya pada Arbinto. “Wah, nggak usah ikut, Bos. Bikin capek saja. Nilai proyek segitu mah tidak ada nilainya. Nggak cucuk dengan sumberdaya yang nanti akan dikeluarkan.” Arbinto menjawab pertanyaan koleganya.

“Oh, bukan kita yang akan mengerjakan tapi tim Pak Direktur. Mereka hanya butuh bendera saja.” Andropol menjelaskan bahwa pekerjaan itu sebenarnya skenario Pak Direktur Penyeragaman. Tim Pak Direktur yang akan menyelesaikan pekerjaannya, bukan Ikompi Moalhang Jayamantap.

“Tetap saja, Bos. Rugi PT kita kalau hanya dipakai untuk itu.” Arbinto mempengaruhi Wikundro. Memang Ikompi Moalhang Jayamantap saat itu sedang mengerjakan proyek senilai tujuh milyar sehingga pekerjaan senilai empatratusjuta tidak menarik lagi untuk dikerjakan.

Akhirnya, setelah berunding dengan a lot Andropol dan Wikundro sepakat untuk maju lelang dengan tiga bendera, yaitu Tharqe Hubb Chawechawe, Ikompi Moalhang Jayamantap dan Lindudata Maju Pertiwi. Yang disetel untuk menang adalah Lindudata Maju Pertiwi. Andropol dan tim Pak Direktur yang akan mengatur lelang.

Wikundro dan Arbinto percaya saja pada kemampuan Andropol dan tim Pak Direktur untuk mengatur lelang. Gaya Andropol memang meyakinkan sebagai pemain proyek. Ditambah dengan tim Pak Direktur tentu akan menjadi lebih aman segala sesuatunya.

Sungguh kepercayaan yang pada akhirnya berbuah surat panggilan dari Kejaksaan Negeri Jankarto Pusat. Setelah diselidiki ternyata Direktur Utama Lindudata Maju Pertiwi dipanggil oleh kejaklsaan karen ada salah seorang direktur Lindudata Maju Pertiwi yang menjadi tenaga ahli untuk Ikompi Moalhang Jayamantap. Terbongkarlah rekayasa lelang itu. Bagaimana mungkin seorang direktur dari Lindudata Maju Pertiwi menjadi tenaga ahli untuk Ikompi Moalhang Jayamantap untuk lelang pekerjaan yang sama?

Dasar koplo! Merekayasa proyek kok sembrono. Dasar Direkur talkeh alias nguntal okeh. Duit haram saja dimakan. Apa nggak buncit nanti perutnya?

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

Tags: ,

baca berita di lintas berita

2 Comments

  1. sawali tuhusetya on 08.05.2008 at 17:50 (Reply)

    walah, kenapa meski paka nama2 plesetan, kekekeke :lol: yaps, itulah potret keserakahan manusia, mas arif. sudah perut buncit kayak geto, masih doyan juga menilep duwit haram yang bukan haknya. untung saja si direktur rada2 OON, sehingga ulahnya gampang tercium. tapi kayaknya sekarang para pejabat sudah pinter2 belajar dari pengalaman. setidaknya, ulah mereka diusahakan sekitar setengah abad baru tercium setelah jasasd mereka masuk ke liang lahat. *prihatin*

    –maw–
    Kalau pakai nama beneran tar dikiranya mereka pelakunya. Namanya rekaan, sekalian saja pakai nama rekaan, Pak.

  2. kian on 09.05.2008 at 01:59 (Reply)

    menarik tapi…aku cuma sanggup membaca yang awal aza bang..nama2ne membuat blurr..jadi mumet…heheh secara kalo baca cerita suka membayangkan..nah mo bayangin personal2e..kok bingung karo jenenge Bang..

    aniway..nice idea..

    –maw–
    Wakaka… Nyari namanya susah tahu! Apa bedanya kalau aku pakai nama John, Mobutu, Tambe Mboki?

Leave a comment


Free Blogger Template

Moh Arif Widarto adalah bloger yang mengalami krisis identitas karena tidak mau memilih satu dari dua platform blog yang paling populer. Oleh karenanya, dia mengelola blog ini untuk pengguna WordPress yang fanatik dan mendambakan kemudahan komentar dan WWW.Widarto.Net untuk bloger yang masih cinta Blogger dan menganggap commenting system di Blogger nggak masalah. Berkunjung ke sini atau ke sana sama saja isinya.