- edensor - Hanya Sebuah Buku Harian?
May 18, 2008 | Dibaca 13 kali
Menyusul khatamnya Sang Pemimpi saya juga khatam membaca edensor hari ini. Namun sayang seribu sayang saya merasakan grafik kepuasan saya menurun membaca edensor ini. Lebih rendah dari Sang Pemimpi yang nilai kepuasan saya telah lebih rendah dari Laskar Pelangi. Kalau digambarkan grafik kepuasan saya menurun dari LP ke SP dilanjutkan turun lagi dari SP ke edensor.
Berbeda dengan Laskar Pelangi — terlepas dari saya merasa bodoh — membaca edensor tidak memberi sensasi rasa seperti yang diberikan oleh Laskar Pelangi. Edensor saya rasakan datar saja dan membacanya hanya berasa seperti membaca sebuah buku harian.
Saya bukan kritikus sastra. Sastra bukan disiplin saya. Di sini saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan ketika membaca tetralogi Laskar Pelangi. Sudah tiga novel yang saya baca dan seperti yang saya nyatakan di atas, skor kepuasan saya menurun dari buku pertama ke buku kedua dan turun lagi ke buku ketiga.
Saat membaca Laskar Pelangi saya memiliki ekspektasi bahwa Sang Pemimpi dan edensor akan lebih dahsyat atau paling tidak sedahsyat Laskar Pelangi. Apa boleh dikata, ternyata edensor hanya menampilkan cerita-cerita perjalanan dengan imajinasi yang menurut saya tidak setinggi Laskar Pelangi. Memang, kalau dinilai edensor lebih masuk akal daripada Laskar Pelangi. Namun, lebih masuk akal bukan berarti selalu lebih baik kan?
Namun, terlepas dari apa yang saya tulis di atas, saya masih menunggu Maryamah Karpov. Bukankah ini sebuah tetralogi? Sungguh tidak lucu kalau saya membaca tetralogi hanya sampai buku ketiga. Tentu saja saya mengharapkan Maryamah Karpov kembali meledakkan kepuasan saya.
Artikel Terkait
4 Responses to “- edensor - Hanya Sebuah Buku Harian?”
Got something to say?



kurang menggit ya dibanding laskar pelangi? daya tahannya dah menurun mas… atau mungkin juga ngejar deadline
[Reply]
Hmm… Kalau soal mengejar tengat hanya AH dan Bentang yang tahu, Kang.
[Reply]
Kesulitan penulis, apalagi jika ada salah satu novelnya terkenal bagus adalah jarang semuanya punya kualitas yang sama.Terutama novel yang berbentuk trilogi atau tetralogi.
Yup, menurut saya “Laskar Pelangi” yang paling menggigit….cerita tentang anak-anak dan lingkungannya….serta mimpi2nya.
[Reply]
Kang saya punya cerita tersndiri dengan tetralogi Andrea Hirata ini, disini cerita saya : http://cahayabintang.wordpress.com/2008/05/29/me-loa-tetralogi-andrea-hirata/ saya ndak komen isinya, tapi setuju ketika selesei membaca Laskar Pelangi, serasa kayak orang bodo gitu….
[Reply]