Bangkit Dari Status Quo
May 20, 2008
* Tulisan untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional
Pengantar
Saya bingung saat menulis judul postingan ini. Topik yang akan saya angkat sebenarnya adalah bangkit dari keadaan stagnan atau jalan di tempat. Mau saya tulis bangkit dari jalan di tempat, kok berasa lucu. Mau ditulis bangkit dari stagnasi saya takut salah stagnasi apa stagnansi? Ah, daripada salah saya pilih saja bangkit dari status quo. Biarpun kepolitik-politikan dikit nggak apa-apa deh, toh politik kita juga tidak pernah bangkit dari status quo.
Status quo di semua sektor
Setelah gegap gempita kemajuan di semua sektor yang berhasil dibukukan oleh pemerintah Orde Baru, secara drastis kita mengalami keanjlogan prestasi di semua sektor sebagai akibat dari terjadinya krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi. Bukan saja ekonomi kita yang langsung menghadapi hantaman parah, sektor lain pun ikut terpuruk (kecuali sektor demokrasi). Pertumbuhan ekonomi yang melambat membuat pembangunan melambat, penciptaan lapangan kerja melambat, prestasi olah raga melorot, dan lain-lain.
Sebelas tahun sudah krisis moneter berlalu. Sepuluh tahun reformasi kita lalui. Namun, semua hal masih dirasakan jalan di tempat. Rakyat masih merasakan kesulitan ekonomi menghantui mereka. Prestasi olah raga kita tidak kunjung membaik, masih berada di tingkat rata-rata di Asean dan tingkat rendah di dunia. Di sektor kebudayaan pun nampaknya kekecewaan juga dirasakan. Bahkan dalam memperingati 100 tahun kebangkitan nasional ini dikemukakan perlunya reformasi kultural.
Entah dengan Anda semua tetapi saya merasakan bahwa banyak (mayoritas) sektor di negara kita ini jalan di tempat, tidak menunjukkan gejala-gejala ditorehkannya kemajuan secara berarti.
Optimis dalam menatap ke depan
Untuk dapat kembali memenangkan pertempuran dalam rangka memajukan ekonomi, budaya, olah raga dan semua sektor yang lain kita harus mampu menanamkan semangat dan optimisme dalam diri kita. Kita harus memiliki keyakinan bahwa kita akan dapat mencapai semua kemajuan itu.
Kita harus optimis karena saat ini kita sudah hidup di sebuah negara yang merdeka di nama nasib bangsa dan negara ini kita sendiri yang menenbtukan. Tengoklah sejarah, para pendahulu kita yang hidup di alam penindasan oleh perusahaan dagang asing pun memiliki optimisme dalam memandang masa depan mereka. Sungguh sangat ironis apabila kita yang hidup di alam kemerdekaan justru hidup pesimis.
Ekonomi motor penggerak kemajuan
Tanpa menghilangkan peran sektor lain saya tetap menganggap sektor ekonomi sebagai motor penggerak kemajuan bangsa. Dengan ekonomi yang maju, kita akan dapat mewujudkan pendidikan yang bermutu. Prestasi olahraga kita pun akan ikut maju seperti di masa lalu pada saat kita menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Dengan keadaan perekonomian yang maju, masyarakat akan lebih mampu mengapresiasi produk kebudayaan. Dalam bidang keagamaan kita tentu tidak dapat membantah sabda rasulullah bahwa kefakiran mendekatkan diri pada kekafiran.
Maka dari itu, marilah kita bahu-membahu dalam memajukan perekonomian bangsa kita. Terus berkarya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
7 Tanggapan to “Bangkit Dari Status Quo”
Bagaimana pendapat Anda?












Ya inilah momentum yang pas dari kebangkitan Nasional .
Selamat atas 100 tahun kebangkitan Nasional.
andaikan smua pebisnis onlen membayar pajak penghasilan bisa membantu gak ya ^^
Assalamualaikum, mudah2an semua keluarga baik & sehat terus ya
makin banyak rejekinya dan berkah buat semua.
semangat apapun selalu saya mulai dari saya, keluarga dan temen2 dekat
makasi dh mampir ke blog-ku
MAJU TERUS INDONESIAKU
memang tetap harus optimis..
Kalau tidak siapa lagi ?
Kadang pengen nya sih di perintah sama orang yang bener bener sadis dan tegas, jadi demokrasinya gak demokrasi sendiri sendiri
Setuju dengan mas Iman, hanya optimisme yang membuat kita bisa bangkit.