Pak Agum Kendalikan Massa Sampeyan Dong!
April 22, 2008
Saya masih ingat ketika acara debat terbuka pasangan cagub-cawagub Jawa Barat yang disiarkan MetroTV semua kandidat siap menang dan siap kalah. Pak Agum Gumelar dengan mantap menjawab juga seperti itu. Hmm, waktu itu saya mengatakan dalam hati bahwa inilah pasangan para ksatria yang siap berkompetisi secara adil.
Namun, berita mengenai kericuhan di Kantor KPUD Jawa Barat saat sidang pleno penetapan hasil pilkada Jawa Barat sangat membuat saya kecewa kepada Pak Agum. Kemana saja Sampeyan, Pak? Mengapa Sampeyan tidak turun dan mengendalikan masa Sampeyan? Kalau ada sengketa dalam pilkada bukankah bisa dilakukan lewat jalur hukum, bukan melalui cara barbar mengerahkan massa seperti itu?
Saya juga semakin kecewa kepada PPP. Jujur saya katakan bahwa ketika Orde Baru berkuasa dulu saya sangat simpati pada PPP. Apalagi ketika suara-suara lantang Sri Bintang Pamungkas dan Khofifah Indar Parawansa menjadi pembawa angin perubahan di gedung keong Senayan. Sayang, PPP memang partai plin plan. Dulu azas Islam diganti Pancasila. Ketika Soeharto tumbang, kembali lagi ke azas Islam. Ideologi seperti barang dagangan yang bisa ditukar kursi parlemen. Kini PPP terbukti hanya menjadi partai pelengkap yang bisa saja satu dekade ke depan sudah tidak akan lolos elektoral treshold.
Saya kecewa kepada Pak Agum karena tidak turun mengendalikan masa. Saya kecewa kepada PPP karena mengerahkan massa ke Kantor KPUD Jawa Barat dan yang lebih konyol, mendeklarasikan pasangan Agum - Nukman sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Kesatria konsekuen pada ucapannya. Tolong, Pak, buktikan ucapan Sampeyan yang siap menang dan siap kalah itu. Terus terang saya bukan warga Jawa Barat tetapi saya sudah penat melihat pilkada yang berakhir sengketa dan diwarnai pengerahan massa. Sebagai elit politik janganlah membakar emosi massa. Didiklah massa agar melek politik dan mampu menyikapi hasil pilkada dengan pikiran waras.
5 Tanggapan to “Pak Agum Kendalikan Massa Sampeyan Dong!”
Bagaimana pendapat Anda?












pernyataan para kandidat dan para elite di negeri ini memang baru sebatas tataran retorika, mas arif. mereka mampu menjalin komunikasi pura2 dg publik ketika hendak berkiprah mencalonkan diri. namun, ketika kepentingannya terusik dan tidak memberikan keuntungan, pernyataan itu dianggap angin lalu. pak agum pun ternyata juga kena syndrom semacam itu. wah, repot jugak!
—
Mari kita lihat apakah yang akan dilakukan oleh Pak Agum. Apakah ia akan konsekuen dengan ucapannya atau akan menjilat ludah sendiri.
belajar dari paraguay,
barusan kandidat yang menang dari koalisi partai2 kecil, melawan partai besar yang sudah berkuasa lebih dari 60 tahun. Lugo dari oposisi menang, lawannya langsung memberikan selamat dan presiden lama langsung memerintahkan semua jajaran pemerintahan mendukung presiden baru. nice..
—
Adang Daradjatun waktu kalah sama Fauzi Bowo memberikan selamat. Kok Agum Gumelar tidak bisa? Beda kualitas ksatrianyakah?
liat berita tadi pagi *tumben nih* saya juga kaget, kok bisa-bisanya pendukung agum gumelar jadi seperti itu? jadi berkurang respek saya terhadap beliau…
—
Saya kemarin malam liat beritanya.
Ya saya..???
ada apa..???
*tolak pinggang,sambil melotot*
—
Kendalikan massa Anda dong, Pak! Jangan kacak pinggang sama saya. Sama massa Anda saja.
Ini membuat saya yang bukan warga Jawa Barat ikutan sebal. Kalo kalah aja, langsung teriak-teriak ada kecurangan. Jangan sampai Jabar jadi kayak Maluku Utara.
—
Betul. Habis energi kita melihat sengketa pilkada di Lampung, Maluku Utara dan Sulawesi Selatan. Sebaiknya Pak Agum mengedepankan jalur hukum kalau memang tidak puas. Massa jangan dibiarkan liar berkeliaran.