<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Apa Lagi Setelah Bebas Bicara?</title>
	<atom:link href="http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 14:33:50 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: fauzan sigma</title>
		<link>http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-323</link>
		<dc:creator>fauzan sigma</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 04:06:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-323</guid>
		<description>bebas bicara bebas berkarya tanpa diintimidasi oleh kebijakan2 sistemik yang sengaja membungkam... harapan dan impian

&lt;em&gt;Mudah-mudahan dikabulkan oleh Yang Kuasa. Loh...??? (penguasa sih &lt;strike&gt;pasti&lt;/strike&gt; belum tentu mengabulkan)&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bebas bicara bebas berkarya tanpa diintimidasi oleh kebijakan2 sistemik yang sengaja membungkam&#8230; harapan dan impian</p>
<p><em>Mudah-mudahan dikabulkan oleh Yang Kuasa. Loh&#8230;??? (penguasa sih <strike>pasti</strike> belum tentu mengabulkan)</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Goop</title>
		<link>http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-322</link>
		<dc:creator>Goop</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 03:15:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-322</guid>
		<description>kalau boleh, saya juga ingin bebas bicara Pak, menulis, dst.. dst..
tapi tetap ada kebebasan orang lain, yang membuat bebas itu pun tidak bebas.. hoho piye to iki? :O

&lt;em&gt;Boleh, Uncle. Boleh... Soal kebebasan orang lain, masa sih itu jadi membatasi? Menulis dan bicara tentang diri sendiri saja kalau begitu. Pasti tidak ada yang dapat membatasi.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau boleh, saya juga ingin bebas bicara Pak, menulis, dst.. dst..<br />
tapi tetap ada kebebasan orang lain, yang membuat bebas itu pun tidak bebas.. hoho piye to iki? :O</p>
<p><em>Boleh, Uncle. Boleh&#8230; Soal kebebasan orang lain, masa sih itu jadi membatasi? Menulis dan bicara tentang diri sendiri saja kalau begitu. Pasti tidak ada yang dapat membatasi.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sawali tuhusetya</title>
		<link>http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-321</link>
		<dc:creator>sawali tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 23:41:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moharifwidarto.com/2008/04/apa-lagi-setelah-bebas-bicara/#comment-321</guid>
		<description>wah, mas arif piawai juga bini puisi. sungguh, mas arif, ketimbang disuruh membuat puisi, mendingan disuruh minum teh anget saja, hehehehehe :lol: saya merasa dalam puisi mas arif terdapat aroma &quot;pemberontakan&quot; yang begitu kuat akibat atmosfer negeri ini yang belum juga beranjak dari keterpurukan.

&lt;Em&gt;Dulu saya suka bikin sajak picisan, Pak. Akan tetapi, setelah 1998 seingat saya tidak ada lagi sajak yang saya tulis. Sajak bukan monopoli asmara saja kan? Makanya kemarahan dan pemberontakan pun dapat dipesankan dalam sebuah sajak.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, mas arif piawai juga bini puisi. sungguh, mas arif, ketimbang disuruh membuat puisi, mendingan disuruh minum teh anget saja, hehehehehe <img src='http://moharifwidarto.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  saya merasa dalam puisi mas arif terdapat aroma &#8220;pemberontakan&#8221; yang begitu kuat akibat atmosfer negeri ini yang belum juga beranjak dari keterpurukan.</p>
<p><em>Dulu saya suka bikin sajak picisan, Pak. Akan tetapi, setelah 1998 seingat saya tidak ada lagi sajak yang saya tulis. Sajak bukan monopoli asmara saja kan? Makanya kemarahan dan pemberontakan pun dapat dipesankan dalam sebuah sajak.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
