Apa Lagi Setelah Bebas Bicara?

April 2, 2008 | 1 views

Pada tahun 1994 yang lalu — setahun setelah lulus SMA — saya menulis sebuah sajak yang berjudul "Beri Kami Kebebasan". Saat itu, saya sudah kecewa pada keadaan negeri ini. Kekecewaan yang sampai kini belum juga terobati.

Empat hari ini, dimulai dari 30 Maret 2008 sampai 2 April 2008 saya membagi kegelisahan saya pada tahun 1994 – 1998 itu dengan Sampeyan semua. Ada Irian Akhir Tahun 1997, Tak Mungkin Di Negeri Ini, Kepada Pak Tua dan akhirnya yang saya bagikan hari ini, Beri Kami Kebebasan.

Saya tidak memanipulasi tanggal-tanggal di bawah setiap sajak itu. Setiap tanggal menandai waktu pada saat sajak itu saya tulis. Saya pun sudah mempublikasikannya melalui Geocities walaupun tidak ada yang mengendus keberadaan sajak-sajak itu. Saya mengakui memang sajak-sajak itu tidak seindah atau sebagus karya para penyair tulen. Saya bukan penyair, apalagi sastrawan. Kalau dulu saya menulis sajak, itu hanya untuk menandai suasana. Suasana batin saya atau suasana pikiran saya.

Kini saya bagi sedikit sajak-sajak itu kepada Sampeyan. Bukan untuk diapresiasi. Bukan untuk menandingi Pak Sawali, Pak Ersis, Ci Aha atau bloger yang lain yang memiliki kepiawaian dalam mengolah kata guna menerjemahkan pikir dan rasa menjadi produk-produk sastra yang mengagumkan. Saya hanya berbagi gelisah saja. Gelisah yang sampai kini masih saja menghantui.

Beri Kami Kebebasan

Manakala kutatap dunia penuh luka
di kepala badan dan kakinya
berlutut dengan penuh harap
kepada tetesan jiwa-jiwa
Ada apa coba di negeri kita saat
pembangunan gegap gempita mengisi
segala celah pembuluh darahnya
Ada apa coba di negeri kita saat
dana tak lagi bersahabat
dengan putaran molen dan bunyi
pemancang pondasi
Pasti korupsi atau kolusi
Lalu kapan kita menjadi macan Asia
kalau dasi dan kursi membuat
hati tak berfungsi
Para pendiri negeri ingin
rakyat dapat bersama-sama berpakaian
makan dan berkendaraan
Tapi kapan kita bisa bicara keras
bahwa semuanya telah terlaksana
Bapak dengarlah kami berkata
biarlah kami bebas bicara apa adanya
agar terwujud cita-cita bersama

Tangerang, Oktober 1994

—–oOo—–

Kini kita sudah bebas bicara. Lalu apa yang mau kita perbuat? Saya tidak tahu apa yang ingin Sampeyan lakukan. Saya sih ingin untuk tetap bicara apa adanya.

Viewed 554 times by 197 viewers

3 Responses to “Apa Lagi Setelah Bebas Bicara?”

  1. sawali tuhusetya on April 2nd, 2008 11:41 pm

    wah, mas arif piawai juga bini puisi. sungguh, mas arif, ketimbang disuruh membuat puisi, mendingan disuruh minum teh anget saja, hehehehehe :lol: saya merasa dalam puisi mas arif terdapat aroma “pemberontakan” yang begitu kuat akibat atmosfer negeri ini yang belum juga beranjak dari keterpurukan.

    Dulu saya suka bikin sajak picisan, Pak. Akan tetapi, setelah 1998 seingat saya tidak ada lagi sajak yang saya tulis. Sajak bukan monopoli asmara saja kan? Makanya kemarahan dan pemberontakan pun dapat dipesankan dalam sebuah sajak.

    [Reply]

  2. Goop on April 3rd, 2008 3:15 am

    kalau boleh, saya juga ingin bebas bicara Pak, menulis, dst.. dst..
    tapi tetap ada kebebasan orang lain, yang membuat bebas itu pun tidak bebas.. hoho piye to iki? :O

    Boleh, Uncle. Boleh… Soal kebebasan orang lain, masa sih itu jadi membatasi? Menulis dan bicara tentang diri sendiri saja kalau begitu. Pasti tidak ada yang dapat membatasi.

    [Reply]

  3. fauzan sigma on April 3rd, 2008 4:06 am

    bebas bicara bebas berkarya tanpa diintimidasi oleh kebijakan2 sistemik yang sengaja membungkam… harapan dan impian

    Mudah-mudahan dikabulkan oleh Yang Kuasa. Loh…??? (penguasa sih pasti belum tentu mengabulkan)

    [Reply]

Got something to say?





CommentLuv Enabled