Antri
April 27, 2008
Antri. Kata itu tidak perlu saya terangkan maknanya karena saya yakin sebagian paling banyak dari penutur Bahasa Indonesia sudah mengetahui artinya. Namun, untuk yang belum tahu artinya, silakan buka KBBI supaya lebih mantab-bek pemahamannya tentang arti kata antri.
Saya mengangkat kata ini justru karena sebagian terbesar dari kita sudah sangat paham artinya. Saking pahamnya kita menyepelekan kata itu dan pada akhirnya hasil yang kita capai adalah kita tidak bisa antri. Tidak percaya? Lihatlah di depan loket penjualan karcis bus antarkota atau kereta api. Orang-orang bergerombol di depan loket dengan berdesak-desakan seperti anjing berebut keluar dari kandang. Lihat pula di terminal atau halte bus, Sampeyan akan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga Sampeyan bisa mencapai tahap ainul yaqin mengenai pernyataan saya bahwa sebagian terbesar dari kita tidak bisa antri.
Budaya Antri Adalah Cermin Masyarakat Beradab
Masyarakat beradab di muka bumi ini merupakan masyarakat yang saling memahami dan saling menghormati sesama. Kelihatannya sepele, namun kalau kita mau memperhatikan dengan seksama, dalam aktivitas mengantri kita melihat setiap orang saling memahami dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Orang yang datang belakangan memahami bahwa orang yang hadir lebih dahulu berhak untuk berada di depan dan dengan sadar menghormati hak tersebut. Ada kesalehan yang maujud di sana. Kesalehan yang benar-benar melembaga dalam diri manusia sehingga maujud pula dalam kesehariannya.
Mengenai kesalehan ini, ada seorang mubaligh yang pernah menyampaikan bahwa orang-orang Jepang itu walaupun tidak beragama Islam tetapi sangat saleh. Lebih saleh dari orang Indonesia. Dalam bermasyarakat orang Jepang sangat teratur. Mereka saling menghormati dan saling menghargai. Lihat saja kedisiplinan mereka dalam menata sandal, sepatu dan bakiak di depan pintu. Lihat saja betapa tertibnya mereka dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Lihat saja keindahan yang mereka tunjukkan dalam mengantri. Alangkah salehnya mereka orang-orang Jepang itu.
Kadar kesalehan tidak ditunjukkan oleh kekhusyukan dalam ibadah langsung dengan Tuhan (hablun minallah) semata melainkan juga dalam bermasyarakat (hablun minannas). Hubungan langsung dengan Tuhan adalah urusan pribadi masing-masing dan hanya Tuhan yang berhak memberikan penilaian. Akan tetapi, dalam kerangka hidup bermasyarakat, orang lain dapat memberikan penilaian mengenai kesalehan seseorang. Orang yang sangat saleh semestinya berperilaku saleh, bukan sebaliknya. Nah, dalam hal ini saya berpendapat bahwa ulama-ulama telah gagal dalam mengajarkan umat untuk menjadi saleh. Mereka hanya mengajarkan teori-teori agama tetapi lupa memberi contoh nyata sehingga umat yang diajarinya pun pasti akan sangat fasih mengutip dalil-dalil agama tetapi bodoh dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.
Saya menyoroti kesalahan ulama-ulama karena masyarakat kita — terlepas dari statistik yang terus menunjukkan penurunan — mayoritas beragama Islam. Mayoritas beragama Islam tetapi perilaku kesehariannya seperti manusia tidak beradab walaupun Islam telah berhasil membangun peradabannya sendiri. Apakah Islam hanya mengajarkan hubungan vertikal manusia dengan Allah? Tentu tidak. Islam memiliki hukum-hukum yang mengatur perihidup manusia. Lihat saja hukum waris, hukum perniagaan, dan lain-lain. Sayangnya, ulama-ulama hanya mengajarkan aspek-aspek ibadah belaka dalam pengajiannya dan lupa untuk mengajarkan dan mencontohkan cara bermuamalah.
Perlu Revolusi Budaya
Saya melihat perlunya umat Islam melakukan revolusi budaya. Sebagai umat terbesar di Republik ini umat Islam memiliki peranan paling menentukan dalam membangun kesalehan bangsa. Kegagalan umat Islam dalam membangun kesalehan bangsa akan sangat langsung dirasakan oleh semua anak bangsa. Oleh karenanya, tidak bisa tidak, umat Islamlah yang harus melakukan revolusi budaya.
Saya tidak mau muluk-muluk dengan revolusi budaya yang melangit. Saya hanya ingin dilakukan revolusi budaya dalam satu aspek saja, yaitu budaya mengantri. Banyak nilai positif yang tercermin dari keindahan yang ditunjukkan oleh aktivitas mengantri. Dua diantaranya sudah saya sebutkan di atas, yaitu saling menghormati dan saling menghargai. Masih ada nilai positif yang lain yang ditunjukkan oleh budaya mengantri, diantaranya adalah kejujuran, tenggang rasa, sabar, tidak egois, dan lain-lain.
Keberhasilan dalam mengubah umat Islam yang tidak bisa antri menjadi umat Islam yang pandai mengantri akan membawa perubahan besar dalam peradaban bangsa Indonesia. Saya yakin bahwa bangsa kita akan lebih beradab. Maaf, saya sampai saat ini masih melihat bangsa kita sebagai bangsa biadab. Mana ada bangsa beradab yang tidak bisa antri. Lihat di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat, mereka begitu saleh dalam mengantri. Maaf lagi karena saya tidak memberikan contoh negara-negara yang mayoritas Islam sebagai teladan kesalahan dalam mengantri. Sungguh saya tidak punya contoh. Kalau Sampeyan ada contohnya, saya tidak keberatan untuk diberitahu.
Ajarkan Mengantri Sekarang Juga
Ajarkan mengantri sekarang juga. Bukan kepada anak-anak kecil saja melainkan kepada semua orang. Mengajarkan anak-anak mengantri sangat mudah. Hal itu bisa dilakukan mulai dari Kelompok Bermain, TK, sampai SD. Namun keberhasilan mengajarkan antri kepada mereka akan sia-sia karena masyarakat biadab kita belum kita ubah. Anak-anak begitu saleh mengantri di sekolah. Begitu keluar dari lingkungan sekolah, mereka kembali ke dalam era pra peradaban di mana masyarakat hidup tanpa aturan dan norma.
Adakah yang tidak sependapat dengan saya?
–
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com
3 Tanggapan to “Antri”
Bagaimana pendapat Anda?












Jangan jangan masalah atmosphere lingkungan sekitarnya…
Herannya kalau di luar negeri Orang Indonesia bisa ngantri, nggak merokok..Begitu kembali ke sini, hajar blehhh kumat lagi
—maw—
Nah, atmosfer itu yang harus kita ciptakan, Mas Iman.
Ajarkan mengantri sekarang juga.
wah kok asyik kayaknya yah.. btw antri ini termasuk produk budaya ato kebiasaan ya bang..
—maw—
Saya lebih suka menyebutnya budaya antri daripada kebiasaan antri. Kalau kebiasaan, yang nggak biasa nggak perlu antri dong! Sebaliknya, kalau semua orang memiliki budaya antri, biasa atau tidak biasa semua akan antri.
Betul sekali. Di Jepang, semua kendaraan akan berhenti jika ada orang sedang menyeberang jalan. Mereka punya rasa sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang indonesia.
—maw—
Berarti Islam tidak mencerahkan Indonesia dong. Atau, karena Islam merupakan agama padang pasir? Agamanya orang-orang nomad dan dari sononya tidak mengenal budaya antri?
Apakah Jepang memiliki budaya antri sejak masa nenek moyang mereka?