Tolong Dirikan Shalat Ghaib
April 29, 2008
Pulang dari kantor sore ini telepon saya berbunyi. Seperti biasanya kalau saya mengendarai sepeda motor, saya tidak pernah memedulikan panggilan masuk. Bagi saya berkendara motor adalah momen pribadi yang tidak ingin saya bagi dengan yang lain.
Akan tetapi, telepon berdering, berdering dan berdering terus. Setelah kira-kira satu jam pantat menempel di atas jog Si Ngorok saya pun memutuskan berhenti di Lippo Karawaci. Saya periksa daftar penggilan tak terjawab. Ada panggilan Mas saya di kampung. Ada panggilan sepupu saya dari Cibubur. Dari banyaknya panggilan yang mereka lakukan saya tahu bahwa ada yang penting. Read more
Bagaimana Mengatasi Asam Urat dan Trigliserida Tinggi?
April 29, 2008
Kemarin saya melakukan tes darah untuk menambah diagnosis terhadap penyebab suka marah-marah hipertensi saya. April tahun 2007 yang lalu, ketika tekanan darah saya mencapai 160/110, semua indikator berada dalam tingkat normal. Dokter mengatakan bahwa naiknya tekanan darah saya bukan diakibatkan oleh sesuatu dari dalam tubuh saya. Mungkin ada lelembut bawa pompa dan memaksa jantung saya memompa darah kuat-kuat dengan volume darah sebanyak-banyaknya. Halah… omongan ngawur!
Hasil tes darah kemarin adalah:
- Trigliserida tinggi (kalau tidak salah 189, normalnya < 150)
- Asam urat (uric acid) tinggi. Kadar asam urat saya 9,5 padahal seharusnya < 7
- Kekentalan darah meningkat
Tekanan darah saya Senin kemarin adalah 160/90 dan 150/90. Dokter mengukur dua kali dengan selang waktu sekitar lima menit.
Saya diberi:
- Captopril 12,5mg untuk tekanan darah saya
- Zuloric 100mg untuk asam urat saya
- Therodon untuk memusnahkan sakit kepala saya. Yang ini hanya diminum jika sakit kepala.
Sugeng Rawuh Sultan Ndoyokarto
April 28, 2008
Kalau para jelatawan di Jelatakarta dalah negeri Kasultanan Ndoyokarto alias para eblis dan ebliswati CahAndong pada bersedih melepas kepergian Sultan ke Jancukarta maka saya yang sudah ngluru menir alias mencari butiran beras di Jancukarta justru sangat gembira dan siap menyambut Sultan. Jancukarta yang dibeci Sultan — sehingga olehkarenanya saya juga membencinya dan saya wujudkan kebencian itu dengan tinggal di Provinsi Banten — memang kejam tetapi Saya yakin dengan gaji limang gelo sepasar Sultan akan dapat bertahan dari keganasan seleksi alam di belantara beton dan hedonisme jancukarta.
Saya akan siap sedia menemani Sultan ke petilasan Banten Lama (asal jangan ke makam Maulana Yusuf) karena banyak jelata beneran yang selalu mengekor peziarah dengan telapak tangan menengadah.
Sugeng rawuh, Sultan!
( Sultan dapat ditemui di sini )
Di bawah ini daftar mereka yang telah menulis mengenai kepergian Sultan ke Jakarta:
1. Antobilang
2. Fany
3. Sir Mbilung
4. Siwi
5. Memeth
6. Ekowanz
7. Tikabanget
8. Tikabanget 3D
9. Momon 3D
10. PeTeer
–
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com
Susahnya Menghubungi Niaga Customer Care
April 28, 2008
Saya adalah nasabah KPR Niaga dari Bank Niaga Cabang Bintaro. Mulai KPR sejak April 2006 sehingga sampai saat ini sudah jalan 2 tahun. Jangka waktu kredit yang saya ambil hanya 5 tahun karena saya tidak mau lama-lama mengikatkan diri dengan KPR. Untuk bisa KPR 5 tahun saya mengajak istri saya untuk hidup bersahaja. Maksudnya, makan dengan ikan asin sahaja tidak apa-apa, makan dengan telur ceplok sahaja tidak apa-apa, dan sahaja-sahaja yang lain, yang penting kewajiban nyicil tiap bulan bisa ditutupi.
Saya juga berprinsip untuk selalu mempercepat KPR saya apabila saya memiliki rejeki. Oleh karenanya saya hari ini meminta penjelasan kepada Bank Niaga untuk mengetahui prosedur atau tatacara melunasi sebagian dari pokok pinjaman atau dengak kata-kata saya sendiri “nyicil pokok”.
Saya datang ke gerai Bank Niaga di mana saya membuka rekening tabungan (setiap peserta KPR Niaga wajib membuka rekening tabungan di Bank Niaga) yaitu di Bank Niaga Supermal Lippo Karawaci. Saya bertanya kepada CSR yang ada di sana (tidak saya baca peneng namanya) mengenai maksud saya di atas. CSR mengarahkan saya untuk menanyakan kepada Marketing kredit di Bank Niaga Bintaro. Saya kemudian diberi nomor Pak Agung. Read more
Antri
April 27, 2008
Antri. Kata itu tidak perlu saya terangkan maknanya karena saya yakin sebagian paling banyak dari penutur Bahasa Indonesia sudah mengetahui artinya. Namun, untuk yang belum tahu artinya, silakan buka KBBI supaya lebih mantab-bek pemahamannya tentang arti kata antri.
Saya mengangkat kata ini justru karena sebagian terbesar dari kita sudah sangat paham artinya. Saking pahamnya kita menyepelekan kata itu dan pada akhirnya hasil yang kita capai adalah kita tidak bisa antri. Tidak percaya? Lihatlah di depan loket penjualan karcis bus antarkota atau kereta api. Orang-orang bergerombol di depan loket dengan berdesak-desakan seperti anjing berebut keluar dari kandang. Lihat pula di terminal atau halte bus, Sampeyan akan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga Sampeyan bisa mencapai tahap ainul yaqin mengenai pernyataan saya bahwa sebagian terbesar dari kita tidak bisa antri.
Budaya Antri Adalah Cermin Masyarakat Beradab
Masyarakat beradab di muka bumi ini merupakan masyarakat yang saling memahami dan saling menghormati sesama. Kelihatannya sepele, namun kalau kita mau memperhatikan dengan seksama, dalam aktivitas mengantri kita melihat setiap orang saling memahami dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Orang yang datang belakangan memahami bahwa orang yang hadir lebih dahulu berhak untuk berada di depan dan dengan sadar menghormati hak tersebut. Ada kesalehan yang maujud di sana. Kesalehan yang benar-benar melembaga dalam diri manusia sehingga maujud pula dalam kesehariannya.
Mengenai kesalehan ini, ada seorang mubaligh yang pernah menyampaikan bahwa orang-orang Jepang itu walaupun tidak beragama Islam tetapi sangat saleh. Lebih saleh dari orang Indonesia. Dalam bermasyarakat orang Jepang sangat teratur. Mereka saling menghormati dan saling menghargai. Lihat saja kedisiplinan mereka dalam menata sandal, sepatu dan bakiak di depan pintu. Lihat saja betapa tertibnya mereka dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Lihat saja keindahan yang mereka tunjukkan dalam mengantri. Alangkah salehnya mereka orang-orang Jepang itu.
Kadar kesalehan tidak ditunjukkan oleh kekhusyukan dalam ibadah langsung dengan Tuhan (hablun minallah) semata melainkan juga dalam bermasyarakat (hablun minannas). Hubungan langsung dengan Tuhan adalah urusan pribadi masing-masing dan hanya Tuhan yang berhak memberikan penilaian. Akan tetapi, dalam kerangka hidup bermasyarakat, orang lain dapat memberikan penilaian mengenai kesalehan seseorang. Orang yang sangat saleh semestinya berperilaku saleh, bukan sebaliknya. Nah, dalam hal ini saya berpendapat bahwa ulama-ulama telah gagal dalam mengajarkan umat untuk menjadi saleh. Mereka hanya mengajarkan teori-teori agama tetapi lupa memberi contoh nyata sehingga umat yang diajarinya pun pasti akan sangat fasih mengutip dalil-dalil agama tetapi bodoh dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.





