Gelisah
March 26, 2008 | Dibaca 14 kali
Entah mengapa, kadang-kadang saya selalu gelisah, resah, gundah dan susah. Sayangnya, mikir diri sendiri saja nggak bisa, kegelisahan, keresahan, kegundahan dan kesusahan itu bukan tentang diri sendiri.
Saya gelisah memandang nasib bangsa ini yang selalu saja saya anggap sedang menuju ke keterpurukan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa secara materi pembangunan kita berhasil. Gedung tinggi mencakar awan sudah bertebaran di mana-mana. Jalan tol sudah digelar panjang (walaupun sudah kalah panjang dari jalan tol di negerinya Nurul Izzah yang sipit tetapi cantik itu). Mal, Bujursangkar kota (town square), pusat-pusat buang duit, dan surga hedonisme sudah tersebar rata. Namun, sepertinya jiwa bangsa kita hampa.
Saya resah kepada bangsa ini. Kok sampai saat ini belum muncul pemimpin yang memiliki visi untuk membawa bangsa ini kepada kejayaan. Zaman pra kemerdekaan dulu mungkin saja bangsa ini pernah punya pemimpin bervisi. Atau sebenarnya tidak bervisi namun hanya ingin merdeka saja? Era reformasi yang diharapkan dapat memberi peluang munculnya pemimpin-pemimpin baru justru menjadi era refirmasi. Era yang menguatkan apa-apa yang dulu dipraktekkan oleh rezim orde baru yang ditumbangkan. Era refirmasi membuat peluang munculnya pemimpin-pemimpin baru hilang karena penumbangan orde baru tidak disertai pembersihan eksponen orde baru, berbeda dengan waktu orde baru menumbangkan orde lama. Eksponen orde baru di era refirmasi yang sudah bangkotan masih ingin terus berkuasa sehingga pemimpin baru belum bisa muncul. Atau, jangan-jangan Sang Pemimpin memang belum lahir?
Saya gundah melihat bangsa ini, yang keinginan untuk bersatunya hanya menjadi milik penguasa yang ingin memiliki wilayah kekuasaan yang besar walaupun kemampuan untuk menyejahterakan rakyatnya seperti lelaki gagah ganteng lemah syahwat. Pusat paling gigih mempertahankan daerah yang kecewa dengan kebersatuan yang tak memberkahi karena harta daerah pusatlah yang menghisapnya. Daerah yang perut buminya berisi minyak dan permukaan buminya bergelimang sawit, selalu sulit mencari bbm dan ikut menanggung harga CPO yang tingi di luar negeri. Daerah kaya belum tentu sejahtera.
Saya susah melihat bangsa ini. Susah. Benar-benar susah. Amanat konstitusi dikangkangi dengan selangkangan pesing penguasa. Anggaran Pendidikan 20 persen selalu ditunda dengan sejuta dalih. Fakir miskin dan anak-anak ditelantarkan. Hukum hanya untuk mereka yang lemah sementara perampok uang rakyat melalui BLBI dilepaskan begitu saja.
Benar kan, saya ini orang yang sok. Buat apa gelisah, gundah, resah dan susah untuk hal yang begituan? Pikir saja diri sendiri.
Artikel Terkait
6 Responses to “Gelisah”
Got something to say?



sama mas saya juga sangat-sangat gelisah melihat keadaan bangsa kita seperti ini, mari mas kita kerjakan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan.Amin
Ya, mari!
[Reply]
wah saya lebih sok tahu lagi pak
hehe…
Tapi barangkali kegelisahan itu mengudara di setiap kepala, yang sayangngya justru tidak berkuasa. Kebijakan Beras, paradigma pembangunan yang berorientasi ke daratan dari pada lautan. Membuat bingung, eh?
Negara agraris yang tidak memiliki keunggulan kompetitif di sektor agraris… Wah, masih banyak Uncle.
[Reply]
Saya juga merasa gelisah, Mas. Berbagai persoalan terjadi di negara kita.
Mengapa para pemimpin tidak mencari akar masalah sebenarnya ya? Mengatasi yang terjadi di atas permukaan tidak menyentuh akarnya sehingga setiap saat bisa terjadi lagi masalah yang sama.
[Reply]
mari saya temani untuk gelisah! agar sampeyan gak merasa kesepian dengan gelisahnya.. mari menebar gelisah!
Terimakasih Pak Gempur.
hanya mereka yang gelisah yang membawa angin perubahan!
Jadi para pemimpin kita tidak pernah gelisah ya? Eh… Mereka kan gelisah kursinya hilang!
[Reply]
mas arif bukan orang yang sok kok. kegelisahan itu juga saya rasakan, mas. makin bertambah usia, bangsa dan negeri ini bukannya makin bertambah baik, namun makin banyak indikator yang menunjukkan adanya keterpurukan multidimensi itu. kayaknya masih susah mencari sosok pemimpin yang bener2 visioner, sehingga mampu membawa bangsa ini menuju zaman kejayaan dan keemasan. mungkin masih harus bersabar menunggu beberapa generasi lagi hingga kita ndak sempat ikut menikmatinya, hehehehe
*putus asa*
Mudah-mudahan generasi penerus kita memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang kita jalani sekarang.
[Reply]
Bang,
Mari kita membangun bangsa ini dengan karya nyata agar bangsa kita nggak tambah susah.
Sabar-sabar ya
[Reply]