Saya Memilih Jogja Daripada Sepang
February 13, 2008
Di sela-sela makan siang di ruangan Big Boss hari ini Boss (ada Boss dan Big Boss) menanyakan apakah 22 Maret 2008 nanti saya memiliki acara.
S: 22 maret?
B: Iya. Pas libur panjang. Lu mau ke Jogja ya?
S: Ya. Sudah punya rencana untuk nengok Ibu di kampung.
B: Nggak bisa diganti waktu ke Jogjanya?
BB: Ya nggak apa-apa. Kalau dia memang punya rencana ke Jogja ya nggak apa-apa. Yang penting Kamu itu harus zoom out, Rif.
B: 22-23 Maret itu kan ada F1 di Sepang.
S: Iya, gua tahu jadwalnya. Tapi gua sudah berencana ke Jogja.
BB: Nggak apa-apa, Rif. Ke Jogja atau ikut ke Sepang kan Kamu tetap zoom out.
Keterangan: S = saya, B = bos, BB = big boss
Tahun lalu saya juga diajak untuk nontong balap jet darat secara langsung di Sepang. Saya dengan halus menolak ajakan itu. Eh… kok tahun ini berulang lagi.
Jujur saja, nasionalisme sempit saya kok selalu saja terusik apabila mendengar nama Malaysia. Negeri itu — yang tidak dapat disangkal lagi memang lebih maju perekonomiannya daripada Indonesia — menyisakan sentimen buruk di hati saya dan prasangka-prasangka buruk di pikiran saya. Kontribusi cukong maling kayu dari Malaysia telah menghasilkan botaknya hutan di Pulau Kalimantan. Hutan yang berada di wilayah Indonesia, bukan di wilayah Malaysia sendiri. Maling kayu di Malaysia itu tahu diri untuk mencuri dari rumah orang lain, bukan rumah sendiri. Berbeda dengan malin-maling di negeri ini yang selalu nyolong di rumah sendiri. Saya, seperti sudah saya tulis sebelum ini, selalu berpikir bahwa Malaysia itu selalu bermanis mulut apabila berhadapan dengan kita tetapi berlaku buruk di belakang kita. Selalu saja Malaysia mengatakan bahwa Malaysia dan Indonesia ini negara serumpun. Serumpun dari mana? Memang benar Malaysia itu memiliki mayoritas penduduk dari etnis Melayu. Di Indonesia tidak begitu. Indonesia ini merupakan pot peleburan di mana ratusan suku ada di sini. Suku bangsa besar yang mudah diidentifikasi diantaranya adalah Aceh, Minang, Batak, Melayu, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Makassar, Toraja, dan Dayak. Di Papua banyak suku. Di Nusa Tenggara, di Maluku. Indonesia ini beda dengan Malaysia yang pribuminya hanya terdiri dari Melayu dan Dayak. Saya jujur saja tidak merasa sebagai orang Melayu karena ayah saya dari Jawa dan ibu saya dari Sunda. Dus, saya menolak dikatakan serumpun dengan Malaysia. Serumpun dari mana? Yang kedua, Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang sama sekali berbeda. Malaysia adalah Asia sebenar-benarnya sehingga tidak demokratis. Warga negara di Malaysia tidak memiliki kesamaan hak dalam lapangan ekonomi, politik, maupun pendidikan. Pribumi Melayu mendapat perlakuan khusus dari negara. Warga keturunan India diinjak-injak hak politik, ekonomi dan pendidikannya. Di Indonesia ini, pribumi sebanyak 98% tidak mendapatkan perlakuan khusus dalam bidang ekonomi. Justru etnis Tionghoa yang hanya 2% yang mendapatkan perlakuan sangat istimewa dari pemerintahan Orde Baru, sebuah pemerintahan yang penuh paradoks. Di satu sisi membekukan hubungan diplomatik dengan RRC sembari memberikan kue ekonomi kepada kroninya dari etnis Tionghoa. Di bidang ekonomi etnis Tionghoa memiliki kemudahan tetapi di sisi politik mereka dipasung. Di Malaysia, ekonomi etnis tionghoa dipasung, politik juga termasuk dipasung. Pokoknya, bedalah Indonesia dan Malaysia itu. Warga Negara Indonesia tidak gemar menyiksa orang-orang dari bangsa lain. Lihat saja Warga Negara Malaysia, mereka gemar menyiksa orang-orang Indonesia yang dikirim oleh pemerintah tidak bertanggung jawab untuk menjadi babu dan jongos. Walaupun babu dan jongos, mereka itu statusnya adalah pekerja, tidak sepantasnya disiksa macam itu. Singkatnya, saya tidak rela kalau Indonesia ini disebut serumpun dengan Malaysia. Malaysai tidak punya etnis yang tinggal di Papua seperti yang dimiliki Indonesia. Bagaimana mungkin bisa jadi serumpun? Lihat saja bambu dan padi, tidak ada yang berbeda dari bambu-bambu atau dami-dami yang tumbuh serumpun. Kembali saya memilih untuk tidak ikut ke Sepang. Walaupun F1 adalah kegemaran saya selain motoGP dan ngeblog. Saya tidak mau merusak sentimen negatif saya terhadap Malaysia. Kalau nonton di Singapura mungkin saya masih mau. Di Malaysia? No way. Saya lebih memilih untuk pulang ke Jogja daripada menginjakkan kaki di negeri para manusia berwajah dua itu.
3 Tanggapan to “Saya Memilih Jogja Daripada Sepang”
Bagaimana pendapat Anda?












malaysia ? belok kiri dikit singapur bang….
–
doeljoni.blogsome.com
saya juga memilih Jogja kok, kalau ada dua pilihan itu..
Kalau ke Malaysia nya nonton balap, saya pilih Yogya…lebih asyik, makanannya enak…..duh jadi kangen….