Selamat Jalan Ijal
January 30, 2008
Pukul 04.39 WIB ada panggilan di telepon genggam saya. Panggilan itu tidak terangkat karena saya sedang di air. Istri saya bilang sekitar pukul setengah dua juga ada panggilan dari teman saya, Nasip. Panggilan itu tidak diangkat oleh istri saya karena saya baru tertidur sekitar pukul satu lepas tengah malam. Saya baru saja terlelap dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya.
Pas Shubuh saya telpon Kisdiyanto yang menelpon saya pukul setengah empat. Dari operator mendapat tanggapan bahwa telepon berada di luar servis area. Saya panggil nomor telpon Nasip, sama juga. Saya panggil nomor rumah Kisdiyanto dan diangkat oleh istrinya. Saya tanyakan di mana Pak Kis dan dijawab bahwa Pak Kis ada di rumah Nasip.
“Ada apa?”
“Anak Pak Nasip meninggal.”
“Meninggal? Siapa?”
“Saya juga nggak jelas, Mas, karena selsai menerima telpon tadi Mas Kis langsung ke tempatnya Pak Nasip. Entah yang pertama entah yang mana.”
“Ya sudah, kalau begitu saya akan ke sana saja.”
Nasip dan Kisdiyanto adalah teman SMP saya dari SMP1 Sleman. Nasip yang asal Jlapan, Pondokrejo, Tempel adalah teman sekelas saya sejak kelas satu sampai kelas tiga. Kalau Kisdiyanto yang dari Glagahombo, Pondokrejo, Tempel beda kelas. Selepas SMP mereka melanjutkan ke STM. Lulus STM mereka merantau ke Tangerang. Nasip bekerja di pabrik kontener sedang Kisdiyanto di PT. Hasi sampai saat ini. Saat kuliah di UPH saya kembali bertemu dengan Nasip di Tangerang. Kalau Kisdiyanto setelah bekerja saya baru tahu kalau dia juga bekerja di Tangerang. Nasip sudah berkeluarga. Istrinya berasal dari Garut. Mereka telah memiliki dua orang anak, keduanya laki-laki. Syaiful Rijal, anak pertama berumur sembilan tahun dan duduk di kelas tiga SD. Adiknya bernama Alfi, masih berumur empat tahun. Syaiful Rijal atau dipanggil Ijal adalah anak yang berbeda dari anak kebanyakan. Pembawaannya sangat kalem dan sabar. Selain itu, dia juga sangat rajin sholat dan puasa. Dia tidak pernah ketinggalan sholat jamaah di mushola di Perumahan Tigaraksa di dekat rumahnya di Jalan Garuda IV. Menurut Pak Ustadz yang berbincang dengan saya, Ijal merupakan satu-satunya anak kecil yang berjamaah sholat Shubuh. Di saat anak lain masih belum bangun Ijal sudah ikut berjamaah Shubuh di masjid. Pak Ustadz mengamati Ijal beberapa kali berangkat belakangan kalau sholat Maghrib. Ketika suatu kali ditanya oleh Pak Ustadz, Ijal menjawab bahwa dia berbuka dulu. Pak Ustadz mengaku sangat malu bahwa anak sekecil itu sudah rutin puasa Senin - Kamis. Para tetangga pun memiliki kesan bahwa Ijal ini anak yang berperilaku dewasa. Dia tidak nakal. Selalu menjawab apabila ditanya oleh tetangga. Pokoknya sikapnya sangat menyenangkan dan itu menjadikan Ijal sebagai anak yang sangat di kenal di lingkungannya. Ditambah lagi Pak Nasip dan Bu Nasip adalah guru ngaji yang merintis pengajian dari rumah kontrakannya sampai dipindahkan ke mushola ketika lingkungan itu sudah memiliki mushola. Ijal benar-benar anak yang istimewa. Saya mengetahui itu karena saya tahu bagaimana keadaannya sejak dia bayi. Saya sering bersilaturahim ke rumah Nasip sejak zaman dia belum berkeluarga. Ketika sudah berkeluarga saya pun cukup sering bertandang. Kecuali ketika saya pulang dan tinggal di Sleman saya tidak mengunjungi rumahnya di Perumahan Tigaraksa, Tangerang. Kini Ijal sudah tiada. Ajalnya tiba karena demam berdarah. Penyakit yang telah membunuh ribuan orang di Indonesia tetapi sampai sekarang pemerintah dan masyarakat sudah menganggap penyakit ini sebagai penyakit biasa. Terkena demam berdarah dipandang sebagai takdir yang tidak bisa ditolak dan semua orang tinggal menunggu arisan saja. Padahal, semua itu dapat dicegah kalau pemerintah memiliki program yang jelas dan rakyat dengan sadar mau bahu-membahu bersama pemerintah dalam menjalankan program pemberantasan dan pencegahan. Hari Jumat Ijal mengelu tidak enak badan. Badannya panas. Dia dibawa ke klinik bidan di kompleks itu. Katanya sakit panas biasa. Sabtu, Minggu, Senin Ijal masih memaksa untuk sholat. Menurut bapaknya, Ijal tidak mau makan karena setiap makan dia akan muntah. Agar ada makanan Ijal diminta makan kueh karena nasi benar-benar tidak bisa dimakannya lagi. Hari Selasa panas Ijal tinggi sekali. Ijal kemudian diberi penurun panas. Namun, setelah diberi penurun panas justru panas ijal turun drastis dan tubuhnya berbalik menjadi sangat dingin. Karena bapaknya bekerja, lepas Maghrib Ijal baru dibawa ke rumah sakit. Dengan mobil tetangga Ijal di bawa ke Klinik Citra Sehat. Klinik yang terbesar di Perumahan Citra Raya tetapi tidak punya dokter tetap dan todak punya UGD. Karena terlalu lama antri, Ijal dibawa ke RS Selaras. Di sini ijal diambil sampel darahnya dan diberi oksigen. Darahnya sudah sangat hitam. RS Selaras menyatakan tidak mampu menangani dan dirujuklah Ijal ke RS Husada Insani, Tangerang. Ijal masuk rumah sakit pukul sepuluh malam. Ketika bapaknya pulang untuk mengambil pakaian ganti, pukul setengah dua pagi dia mendapat kabar kalau Ijal sudah diambil kembali oleh Allah SWT. Seketika itu juga Nasip yang merupakan teman main saya ketika di SMP membuat panggilan ke HP saya tetapi tidak terangkat karena saya tidak mendengar dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya. Bakda Shubuh saya langsung meluncur ke Jl. Garuda IV di Perumahan Tigaraksa. Sudah banyak orang di sana temasuk Kisdiyanto. Agak lama saya peluk Nasip. Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya memeluknya. Kata-kata yang dapat keluar dari mulut saya hanya, “Sabar, Sip. Ikhlaskan.” Setelah itu baru saya masuk ke rumah dan menyampaikan duka saya kepada Eti istrinya. Jenazah Ijal ada di ruang tamu yang sempit ditunggui ibunya dan beberapa pelayat. Saya tidak melihat muka jenazah Ijal. Saya belum bisa menata duka saya sehingga saya mengatakan, “Nanti saja. ” kepada Kisdiyanto yang menanyakan apakah saya akan melihat muka Ijal atau tidak. Saya melihat muka Ijal pada saat dia disucikan dan dikafani. Wajahnya begitu teduh. Puncak kesedihan saya adalah ketika Ijal akan disholatkan. Saya teringat bagaimana dia selalu mengalah kepada Alfi, adiknya. Ijal sangat sabar. Berbeda dengan Alfi yang agak pemarah. Dan, Ijal selalu bersikap sabar kepada adiknya. Dia tidak pernah menyakiti adiknya. Terakhir perjumpaan saya dengan Ijal adalah ketika Idul Fitri 1428H lalu dia bersilaturahmi ke rumah orang tua saya di Sleman. Lalu saya balas bersilaturahim ke rumah orang tua Nasip di Jlapan. Yang paling akhir adalah ketika Eti, Ijal dan Alfi bersama saya sekeluarga kembali dari kampung ke Tangerang. Saya yang membawa Avanza kantor ketika pulang ke Sleman bersama keluarga Kisdiyanto dan kembalinya ke Tangerang bersama istri dan anak-anak Nasip. Selamat Jalan ijal. Semoga Allah menerimamu di sisi-NYA karena engkau belum memiliki dosa. Ijinkan Pak Lik memajang gambar pusaramu sebagai tanda cinta Pak Lik kepadamu dan peringatan buat Pak Lik bahwa ajal bisa datang kapa saja tanpa mengenal usia dan tanpa bisa dicegah lagi. Syaiful Rijal Lahir: 22 Mei 1999 Wafat: 30 Januari 2008 - * - Demam berdarah adalah musuh nyata. Penyebabnya kasat mata, hanya nyamuk, tetapi kita manusia Indonesia ini tidak berdaya. Tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh mengenaskan karena kita hanya menunggu giliran untuk terkena. Perumahan Tigaraksa hanya sejengkal dari komplek pemerintahan Kabupaten Tangerang — Kota Tigaraksa — dan warga Perum Tigaraksa itu sudah banyak yang terkena penyakit menular ini. Akan tetapi, jarak yang sejengkal itu tidak mampu membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang cancut taliwaondho. Lalu bagaimana dengan wilayah lain yang jauh dari ibukota Kabupaten Tangerang? Update 1 Februari 2008: Tengah malam tadi Nasip menelpon saya, “Tok, aku njaluk ngapuro,” katanya. “Ana apa, Sip?” “Alfi, Tok. Alfi masuk rumah sakit.” “Masuk rumah sakit? Loro apa?” “Podho kakange, DBD. Aku njaluk ngapuro, Tok. Nek ana salahku dingapurani. Aku mung ngabari iki, nek Alfi mlebu rumah sakit.” “Yo wis, saiki dileremke atine, sing sabar. Sesuk esuk aku tak mampir rumah sakit.” Cobaan untuk pejuang Allah memang luar biasa. Belum hilang duka atas meninggalnya Ijal, keluarga Nasip sudah harus merawat Alfi yang juga menderita demam berdarah. Saya pribadi belum tentu bisa menanggung ujian seperti itu. Tadi pagi saya dan istri pergi ke rumah sakit tempat Alfi dirawat. Saya bawakan kurma karena banyak orang mengatakan jus kurma cepat untuk membantu memulihkan trombosit penderita demam berdarah dengue. Ketika saya tanyakan di rumah sudah disemprot anti nyamuk secara tuntas atau belum Nasip mengatakan bahwa sudah diajukan permintaan fogging tetapi belum dilakukan. Sementara nasip di rumah sakit,
para tetangga yang membantu menyelenggarakan tahlil untuk ijal di Perum Tigaraksa.
Fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi
January 20, 2008
Posting kali ini tentang modifikasi Bajaj Pulsar 180DTSi. Akan tetapi, berbeda dengan biasanya yang kebanyakan teks saja, kali ini saya akan lebih banyak menampilkan gambar daripada teks. Modifikasi memang bukan bidang saya sehingga banyak aspek yang tidak saya kuasai. Yang menggerakkan saya untuk mempublikasikan mengenai fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi ini adalah:
- murah
- mudah
- mantap
Murah karena harha fairing Satria FU ini menurut empunya modifikasi diperoleh dengan harga Rp 75.000,-. Mudah karena hanya sedikit bagian dari fairing FU yang dipotong supaya bisa “plek” dengan tanki bensin Bajaj Pulsar 180DTSi. Mantap karena hasilnya betul-betul membuat banyak penunggang serigala yang kemecer ingin meniru.
Pak Haris, demikian nama pemilik serigala warna biru yang sudah dimodifikasi dengan ditambahi fairing Satria FU, spatbor belakang dibuang, mesin dan pelek (velg) dikerok sedikit dan knalpot dibobok sehingga suaranya jadi gahar tapi tidak berisik.
Karena ilmu saya tidak cukup untuk menulis tentang modifikasi, berikut saya tampilkan saja gambarnya supaya Sampeyan semua dapat menilai sendiri apakah motor Pak Haris ini jadi cakep atau tidak. Menurut saya dan beberapa pulsarer yang melihat sih TT alias top tenan!
Aksi fairing FU di Pulsar 180cc
Mesin dikerok sehingga menurut Pak Haris menjadi tampak seperti “mesin” karena kelihatan warna logamnya. Pelek dikerok sehingga banyak yang nanya, “Beli di mana nih, peleknya?” Spatbor belakang juga dicukur habis. Aksi modifikasi lengkap. Maaf ya, ada kardusnya, nggak sampai hati meminta Pak Haris membongkar belanjaannya. Pak Haris (pakai jaket) menerangkan cara memasang fairing FU ke Pulsar 180cc: Proyek Pak Haris selanjutnya adalah mengubah serigalanya menjadi monoshock. Tentu tampilan serigala biru Pak Haris akan lebih sangar lagi. “Akan lebih menyerupai Ducati Desmosedici tunggangan Stoner.” Kata Pak Haris yang mengidolakan Stoner. Huh! Itu kan yang menjungkalkan jagoan saya di motoGP. Saya benar-benar tertarik untuk memberi Si Ngorok fairing seperti milik Pak Haris supaya Si Ngorok tidak kelihatan telanjang.





